Jika suatu bangsa atau masyarakat di daerah ini, diibaratkan dengan tubuh manusia maka keberadaan lembaga perpustakaan sesungguhnya merupakan oksigen yang sangat menentukan kesehatan dan keutuhan energi.

TANPA disadari hingga detik ini, ada begitu banyak pihak yang masih salah paham bahkan (mungkin) gagal paham tentang perpustakaan. Ada yang menilai perpustakaan tidak lebih dari kumpulan buku dan rak-rak kosong yang penuh dengan debu. Bahkan orang-orang atau para Aparatur Sipi Negara (ASN) yang ditempatkan di perpustakaan adalah orang-orang stres atau orang-orang yang secara politis tidak sehaluan dengan pimpinan.

Yang lebih tragis ada yang berucap,”baik kau ke perpustakaan saja, biar ada waktu bisa lebih banyak baca buku,” kata seorang pimpinan saat meneken surat keputusan pindah untuk salah seorang ASN yang ada di provinsi ini.

Perpustakaan adalah tempat air mata bukan mata air. Dan masih banyak pendapat lain yang kalau ditelisik secara seksama sangat menyakitkan kalbu. Tapi itulah kenyataan yang dialami dan atau dirasakan.

Definisi Perpustakaan

Agar tidak salah kaprah dan salah paham dalam mengerti dan memahami apa sebenarnya perpustakaan, ada baiknya dikutip beberapa definisi tentang perpustakaan. Undang – Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan mendefinisikan Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Sedangkan menurut kamus istilah Perpustakaan merupakan sistem pengumpulan informasi yang terdiri dari bahan buku maupun non buku yang dikelola dengan sistem tertentu untuk dimanfaatkan oleh masyarakat pemakai.

Menurut IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions); Perpustakaan adalah kumpulan materi baik yang tercetak dan non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang bisa bahannya dari sumber informasi tertentu yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai.

Beberapa pengertian perpustakaan yang telah dikutip di atas, (walaupun berasal dari berbagai sumber yang berbeda), namun tetap saja bermuara pada satu inti bahwa perpustakaan merupakan tempat penyedia jasa layanan informasi sesuai dengan kebutuhan pencari informasi.

Perpustakaan Masa Kini

Dengan berkembanganya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi, maka kondisi perpustakaan sekarang ini yang di dalamnya terpasang berbagai sarana komputer dengan kemampuan alat yang super canggih.

Ruangan koleksi perpustakaan telah tersedia, mulai dari bahan multimedia hingga yang konvensional, seperti :  kaset video, kaset suara, VCD (Video Compact Disk), DVD (Digital Video Disk), LD (Laser Disk), foto-foto (baik dalam bentuk metadata atau tercetak), kliping, disket dan CD (Compact Disk) juga tersedia electronik book atau e-book.

Bahkan hampir semua data koleksi yang ada di perpustakaan dapat ditelusuri dan dicari melalui katalog komputer yang tersedia. Atau dalam bahasa yang lasim disebut sistem OPAC (Online public access catalog).

Perpustakaan jenis ini menerapkan konsep perpustakaan maya (virtual library). Bila pemakai hendak menggunakan koleksi tersebut, mereka tinggal mendownload dari situs perpustakaan atau website-nya saja karena terpasang di dunia world wide web.

Bila pemakai ”enggan” mendownload karena biaya koneksi yang mahal atau akses internet yang lelet atau lamban, mereka bisa memesan untuk meminjam, bahkan mengemas ulang bahan dimaksud.

Apakah perpustakaan – perpustakaan di Indonesia dan di Provinsi NTT telah memiliki sistem layanan seperti itu? Memang hal seperti itu masih jauh dari harapan kita walaupun beberapa perpustakaan maju yang ada sudah mulai merintis, namun pada kenyataannya lebih banyak lagi perpustakaan yang masih menerapkan metode pengelolaan perpustakaan yang standar atau konvensional dan terkesan begitu – begitu saja dari dahulu. Seperti judul lagu : aku masih seperti yang dulu. Apalagi menghadapi tantangan globalisasi zaman ini. Tentu kondisi perpustakaan yang konvensional seperti ini tidak bisa dibiarkan atau dipertahankan begitu saja. Harus ada pembenahan, terobosan dan inovasi yang briliant dari dalam perpustakaan itu sendiri. Termasuk kondisi perpustakaan yang ada di Provinsi NTT.

Jadi Social Value

Awal April 2017 yang lalu, jajaran perpustakaan di Provinsi NTT menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) perpustakaan tingkat provinsi di Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Para peserta Rakor minus Kota Kupang, Sabu Raijua, Manggarai dan Manggarai Barat; sepakat jika upaya untuk memperbaiki tingkat pendidikan dan gerakan pemasyarakatan minat baca di provinsi ini harus dimulai dari perbaikan dan peningkatan kinerja perpustakaan.

Artinya, lembaga perpustakaan juga perlu menciptakan social value (nilai sosial) sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang sedang dihadapi individu dan masyarakat di NTT seperti kemiskinan, pengangguran, pengrusakan lingkungan, gizi buruk dan lain sebagainya. Karena itu, perpustakaan di Provinsi NTT dan semua jenis perpustakaan yang berada di bawah binaannya harus berfungsi secara optimal. Perpustakaan harus menjadi pusat pembelajaran yang dapat membumikan berbagai pengetahuan, ketrampian dan keahlian sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pubik atau masyarakat.

Jika suatu bangsa atau masyarakat di daerah ini, diibaratkan dengan tubuh manusia maka keberadaan lembaga perpustakaan sesungguhnya merupakan oksigen yang sangat menentukan kesehatan dan keutuhan energi. Oksigen yang segar selalu mengandung paradigma yang unggul yang bisa menyatukan berbagai kemampuan.

Harus diakui bahwa masih ada lembaga perpustakaan di daerah ini yang tidak cukup mengandung oksigen segar alias masih menerapkan layanan perpustakaan yang konvensional dan standar saja belum tersentuh teknologi informasi dan komunikasi.

Ini yang harus segera diperbaiki dan berbenah diri. Jika tidak maka jangan heran asumsi atau persepsi pubik bahwa perpustakaan hanyalah kumpulan buku dan rak-rak kosong yang berdebu dan menjadi tempat yang nyaman bagi para ASN yang beda haluan politis dengan pimpinan di daerah ini menjadi benar adanya. Kita harus berani ubah dan menunjukan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat atau pemustaka. Saat ini perpustakaan harus menjadi social value bagi pubik di daerah ini.

Di titik ini, ijinkan saya mengutip kalimat inspiratif dari Albert Einstein. “Orang genius menyederhanakan hal yang rumit. Orang idiot merumitkan hal yang sederhana.” Nah, bagaimana dengan kita yang ada di Perpustakaan Provinsi NTT ? (Valeri Guru/Pranata Humas Dinas Perpustakaan Provinsi NTT)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.