Salah satu penyebab tingginya buta aksara di NTT adalah kemiskinan. Karena miskin, banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah (belajar membaca dan menulis), misal yang terjadi pada keluarga Imel, janda miskin yang memiliki 9 anak dan 2 cucu di Kabupaten Ngada.
Salah satu penyebab tingginya buta aksara di NTT adalah kemiskinan. Karena miskin, banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah (belajar membaca dan menulis), misal yang terjadi pada keluarga Imel, janda miskin yang memiliki 9 anak dan 2 cucu di Kabupaten Ngada.

sergap.id, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyampaikan angka buta aksara di Indonesia sebesar 1,78 persen. Sementara tingkat buta aksara di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 4,24 persen.

“Dari sensus nasional, survei sosial ekonomi nasional, hasil literasi kita adalah yang masih buta huruf itu 1,78 persen. Ada penurunan tingkat penurunan buta huruf yang ada di negeri ini,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Jumeri, saat konferensi virtual, Jumat (4/9/20) kemarin.

Jumeri menjelaskan, ada 6 wilayah yang penduduknya masih memiliki kasus buta aksara tertinggi di Indonesia, yakni:

  1. Papua 21,9 persen.
  2. Nusa Tenggara Barat (NTB) 7,46 persen.
  3. NTT 4,24 persen.
  4. Sulawesi Selatan (Sulsel) 4,22 persen.
  5. Sulawesi Barat (Sulbar) 3,98 persen.
  6. Kalimantan Barat (Kalbar) 3, 81 persen).

Jumeri mengatakan, prosentase buta aksara untuk orang disabilitas dengan non disabilitas masih berbanding jauh.

Pada usia 15 tahun ke atas, jumlah buta aksara untuk orang disabilitas ada sekitar 21 persen, dan 3,52 persen untuk non disabilitas.

Untuk usia 15-24 tahun, jumlah disabilitas yang buta aksara 4,87 persen, sementara non disabilitas ada 0,19 persen.

Lalu usia 15-59 tahun, masyarakat yang disabilitas ada 8,5 persen dan yang non disabilitas 1,68 persen.

Sementara usia 60 tahun ke atas, 30 persen penyandang disabilitas adalah buta aksara dan yang non disabilitas 17,63 persen.

Jumeri menambahkan, Kemdikbud terus berupaya agar semua masyarakat di Indonesia bisa melek huruf, dan masyarakat harus melek huruf agar kesejahteraan bisa meningkat. (lts/dkp)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.