Marselus Mali Leto, S.Ag, M.Pd
Marselus Mali Leto, S.Ag, M.Pd .

sergap.id, OPINI – Pendidikan menjadi kata kunci dalam proses pencerdasan suatu bangsa. Dalam dunia pendidikan ada berbagai komponen penting yang turut membentuk kualitas sebuah lembaga pendidikan, salah satunya adalah peran para guru.

Guru menjadi sosok penting, yang memungkinkan adanya kreatifitas dalam dunia pendidikan sebelum daya kreatifitas itu ditularkan kepada para peserta didik.

Apa yang bisa diharapkan kalau guru sendiri kurang kompeten sebagai pendidik. Mental ‘penguasa ilmu’ mesti segera dikikis dari persepsi para guru.

Menjadi guru bukan berarti perkara belajar sudah selesai. Guru bukan pemilik ilmu pengetahuan dan kebenaran. Kemampuan intelektual harus direvisi terus-menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itu, guru mestinya tidak merasa mapan dengan pengetahuan. Ada usaha terus- menerus, melengkapi diri dengan pengetahuan dan Informasi Teknologi/IT yang luas dan memadai.

Ada pengalaman yang menunjukkan bahwa banyak guru, enggan membaca buku, majalah atau koran karena merasa mapan dengan pengetahuan yang ada, atau ada juga guru merasa bosan dengan membaca dan menulis. Bahkan banyak guru yang tidak sanggup menulis dalam jurnal, majalah atau media massa (baca: Koran-koran harian).

Bagi seorang guru, bahan Ajar dan Metode adalah penting, Namun Guru lebih Penting, dan bahkan yang sangat penting lagi adalah Roh dan Jiwa Guru.

Profesi guru adalah sebuah kepercayaan yang harus dijalankan oleh setiap manusia yang mendedikasikan dirinya sebagai seorang pengajar atau pendidik yang biasa kita sebut guru.

Kita ketahui bersama bahwa guru adalah pusat pembelajaran, kegiatan proses belajar mengajar sukses atau tidaknya tergantung seberapa besar profesionalnya guru dalam melakukan berbagai inovasi-inovasi dalam pembelajaran.

Isu sentral masalah peningkatan kinerja guru semakin marak diperbincangkan. Karena menurut evaluasi yang dilakukan oleh lembaga-lambaga penjamin mutu pendidikan, banyak guru yang terindikasi memiliki kinerja yang kurang baik.

Munculnya Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang meliputi 6 kompetensi yaitu Profesional, Pedagogik, Kepribadian, Sosial, Spiritual dan leadership menjadi tolak ukur untuk menilai kinerja guru di negeri ini,.

Pemberian tunjangan untuk kesejahteraan guru melalui sertifikasi atau tunjangan profesi yang seharusnya kian memotivasi guru untuk menjadi guru yang profesional, malah menjadikan guru kian manja. Sebaliknya guru yang belum sertifikasi karena masa kerja dan sejumlah peraturan yang selalu berubah-ubah menjadikan guru non sertifikasi kita agak mulai putus asa. Serta menurunnya idealisme guru karena tidak lagi memiliki kewenangan penuh untuk menentukan keberhasilan peserta didiknya dengan adanya campur tangan pemerintah dalam menentukan kelulusan peserta didik.

Padahal tugas guru yang begitu mulia semua sama saja, yaitu berorientasi dalam mencerdaskan anak-anak bangsa tanpa memperdulikan apapun yang terjadi.

Permasalahan di atas sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan peserta didik. Tidak lagi berpikir untuk meningkatkan kompetensi peserta didik, malah menjadi sentral pemicu kenakalan remaja dewasa ini, dan menurunnya kompetensi peserta didik.

Mau tidak mau guru juga menjadi bagian yang harus bertanggung jawab untuk semuanya itu. Sehingga guru harus benar-benar kembali mengemban amanah yang telah diberikan kepadanya.

Amanah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengembannya. Artinya amanah seorang guru adalah bagaimana seorang guru mendidik, membimbing, membina, mengayomi dan memberi teladan terhadap perserta didiknya dengan penuh keikhlasan.

Orang tua siapa pun tentu memiliki harapan besar saat menitipkan anak-anaknya ke pendidikan formal yaitu sekolah. Mereka menginginkan keberhasilan putra-putri mereka, baik keberhasilan dari segi kognetif (ilmu pengetahuan) maupun akhlak (perilaku terpuji) sang anak, sehingga anak-anak mereka bisa menjadi cerdas secara ilmu dan akhlaknya.

Mereka memberikan kepercayaan penuh kepada guru dalam proses pendidikan di sekolah. Untuk itu perlu adanya guru yang amanah terhadap profesinya, bukan menyalahgunakan amanah tersebut. Memang tugas seorang pendidik tidak hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran saja, bahkan merupakan tugas berat dan sulit, tetapi akan mudah bagi guru yang tetap memegang teguh amanah yang diberikan. Tentunya guru yang dapat memegang teguh amanah yang diberikan tidak bisa lepas dari karakter guru tersebut.

Paling sedikit terdapat 10 karakter dan 7 keajaiban dalam dunia pendidikan yang harus dimiliki dan terus dimunculkan oleh seorang guru, yakni:

Pertama, memiliki keikhlasan yang besar dalam memberikan ilmu nya kepada peserta didik.

Kedua, memiliki kejujuran. Sifat jujur inilah mahkota di atas kepala seorang pendidik. Jika sifat itu hilang darinya, ia akan kehilangan kepercayaan dari peserta didik. Karena anak didik pada umumnya akan menerima setiap yang dikatakan gurunya.

Ketiga, memiliki Integritas, yakni keserasian antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

Keempat, memiliki Attitude, sikap adil dan tidak berat sebelah. Sikap adil disini dimaksudkan adalah mewujudkan keadilan di antara siswa, demi memasyarakatkan rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Kelima, memiliki akhlak mulia dan terpuji. Akhlak adalah sifat terpuji yang mesti bagi guru untuk berhias dengannya serta menganjurkan pada anak didiknya untuk berakhlak dengannya.

Keenam, memiliki kerendahan hati. Rendah hati adalah akhlak terpuji yang akan menambah kehormatan dan wibawa pada sang guru. Sifat ini diharapkan memantul pula kepada anak didik dan memberikan efek pada mereka secara positif.

Ketujuh, memiliki Keberanian. Sikap pemberani seorang guru adalah tuntutan bagi setiap guru, mengakui kesalahan tidak akan mengurangi wibawa perilaku kesalahan, bahkan merupakan kemuliaan bagi guru tersebut dan bukti atas sifat keberaniaannya.

Kedelapan, memiliki sifat Canda. Dengan bercanda atau memiliki sense of humor yang cerdas bersama anak didiknya, sehingga proses pembelajaran cenderung gembira dalam suasana belajar dengan tetap mempertahankan kualitas pengajarannya.

Kesembilan, memiliki sifat sabar dan menahan emosi. Sabar adalah faktor yang kuat kesuksesan guru dan kepiawaian guru terletak pada cara meredam amarahnya dan menundukkan/mengendurkan saraf-sarafnya.

Kesepuluh, memiliki Hati. Seorang guru berusaha semaksimal mungkin menghindari perkataan keji dan yang tidak pantas kepada peserta didik.

Dan inilah 7 Keajaiban Dunia Pendidikan yang harus dimiliki seorang guru:

  1. Bisa melihat.
  2. Bisa mendengar.
  3. Bisa menyentuh.
  4. Bisa disayangi.
  5. Bisa merasakan.
  6. Bisa tertawa.
  7. Bisa mencintai.

Dari 10 karakter dan 7 keajaiban dunia pendidikan yang telah dipaparkan di atas, nampaknya harus dikembalikan oleh guru sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing ke dalam jiwa atau Rohnya. Karena tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa guru harus memiliki karakter yang kuat jika ingin memegang dan menjalankan amanah tersebut yang nantinya otomatis akan menciptakan karakter yang kuat pula dalam diri peserta didiknya. Sehingga seperti apa profesionalisme guru kita saat ini, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan, Jadilah Guru; Kalau Tidak Ada Dicari, Kalau Ada Disenangi, dan Bila Meninggal Ditangisi. ADIOS!

*) Penulis: Marselus Mali Leto, S.Ag, M.Pd (ASN asal Kletek – Malaka, Pemerhati Sosial Pendidikan, Alumnus Pascasarjana Undana)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here