Dalam sebuah uji praklinis, tim peneliti memperlihatkan vaksinasi oral menginduksi antibodi anti-IBV tingkat tinggi.
Dalam sebuah uji praklinis, tim peneliti memperlihatkan vaksinasi oral menginduksi antibodi anti-IBV tingkat tinggi.

sergap.id, YERUSALEM – lmuwan Israel yang tergabung dalam The Galilee Research Institute (MIGAL) telah menemukan vaksin yang ampuh mengobati virus corona atau COVID-19.

Vaksin ini akan dilepas ke pasar setelah melalui proses perizinan yang berlangsung selama 90 hari kedepan.

Menteri Sains dan Teknologi Israel, Ofir Akunis, mengungkapkan, ilmuwan di negerinya berada di posisi teratas dalam pengembangan vaksin pertama untuk melawan corona virus.

“Selamat kepada MIGAL atas terobosan ini,” ucap Ofir seperti dilansir Jerusalem Post, Minggu (1/3/2020).

Ofir terlihat sangat optimistis dengan penemuan ilmuwan di negerinya. “Saya meyakini akan ada kemajuan pesat yang memungkinkan kami menyediakan respons yang diperlukan terhadap ancaman global COVID-19,” tegasnya.

Menurut dia, selama empat tahun belakangan ini, sebuah tim ilmuwan di MIGAL telah mengembangkan vaksin untuk melawan infectious bronchitis virus (IBV) yang menyerang unggas. Efektivitas vaksin itu telah terbukti dalam uji pra-klinis di Veterinary Institute.

Sementara itu, Dr. Chen Katz selaku Ketua grup bioteknologi di MIGAL menyatakan, kerangka kerja ilmiah vaksin ini didasarkan pada vektor ekspresi protein baru pembentuk protein larut chimeric.

Protein itulah yang mengantarkan antigen virus, ke jaringan mukosa yang diaktifkan oleh endositosis, sehingga menyebabkan tubuh membentuk antibodi terhadap virus.

Chen menjelaskan, dalam uji praklinis tersebut tim peneliti memperlihatkan vaksinasi oral menginduksi antibodi anti-IBV tingkat tinggi.

“Jika dalam beberapa pekan semua berhasil, kami akan memiliki vaksin untuk mencegah coronavirus,” pungkasnya.

Kabar adanya vaksin anti virus corona ini membuat keluarga pasien virus corona di berbagai negara bersuka cita.

“Kami sangat gembira. Ini temuan yang luar biasa. Ini mujizat. Semoga anti virus ini bisa segera didistribusikan bagi keluarga kami yang sedang sakit,” ujar Lee Kuan, keluarga pasien virus corona di Wuhan, China, Senin (2/3/20).

COVID-19 telah menyebar di lebih dari 50 negara di dunia berdasarkan data Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE. Kasus ini tercatat berjumlah 78.824 di Cina, dengan total kematian mencapai 2.788 orang, dan 36.268 orang berhasil sembuh.

Sementara di Korea Selatan tercatat sebanyak 2.337 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 13 orang dan 22 orang lainnya dinyatakan sembuh.

705 kasus ditemukan di kapal pesiar Diamond Princes dan 10 orang telah sembuh, tetapi 5 orang meninggal.

Negara dengan kasus terbanyak lainnya adalah 655 di Italia. Terdapat 17 orang meninggal dan 45 berhasil pulih.

Sedangkan di Eropa, yakni Jerman 48 kasus, Perancis 38 kasus, Spanyol 25 kasus, Swiss 8 kasus, Swedia 7 kasus, 270 Jepang, 226 Singapura, 93 Hong Kong, 93 US, 48 Kuwait, 43 Thailand, 41 Perancis, 38 Taiwan, 34 Bahrain, 33 Spanyol, 25 Australia, 23 Malaysia.

23 United Arab Emirates, 19 Vietnam, 16 UK, 16 Canada, 14 Macau, 10 Switzerland, 8 Swedia, 7 Irak, 7 Oman, 4 Israel, 3 India, 3 Filipina, 3 Kroasia, 3 Austria, 3 Yunani, 3 Finlandia, 2 Rusia, 2 Pakistan, 2 Lebanon, 2 Afghanistan .

Sementara 1 kasus di Nepal, Lithuania, Cambodia, Georgia, North Ireland, Nigeria, Norwegia, Algeria, Belgia, San Marino, Belanda, Denmark, North Macedonia, Belarus, New Zealand, Brazil, Romania, Estonia, Mesir, dan Sri Lanka.

Tim medis China sedang beupaya meminimalisir penyebaran virus corona.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, cara penyebaran virus corona dari satu orang ke lainnya. Ketika seseorang menderita batuk atau bernapas, mereka melepaskan seperti tetesan cairan yang juga terdapat virus corona.

Kebanyakan tetesan atau cairan itu jatuh pada permukaan dan benda di dekatnyaseperti meja atau telepon. Orang bisa terpapar atau terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Jika berdiri pada jarak 1 atau 2 meter dari seseorang dengan COVID-19, maka berpotensi terjangkit melalui batuk termasuk saat mereka menghembuskan napas. Dengan kata lain COVID-19 menyebar serupa cara flu. (elton/elton)