Masyarakat saat bertemu dengan Bupati Ngada

Pada tahun 2006, dua ilmuwan Jepang — Takehiro Koseki dari Mitsubishi Materials Natural Resources Development Corporation dan Kazuo Nakashima dari Yamagata University—mempertahankan sebuah makalah dalam Proceedings of the 7th Asian Geothermal Symposium tentang lapangan panas bumi Mataloko di Flores, Indonesia. Makalah tersebut berjudul “Geothermal Structure and Feature of Sulfide Minerals of the Mataloko Geothermal Field” dan menyajikan data teknis yang rinci: struktur geologis Bajawa Depression, komposisi mineral sulfida pada sumur eksplorasi MT-1 dan MT-2, rasio isotop sulfur pada berbagai kedalaman, serta model konseptual sistem hidrotermal yang merentang dari permukaan hingga lebih dari 750 meter di bawah tanah.

Makalah tersebut merupakan produk dari sebuah program kerja sama riset bilateral Indonesia-Jepang yang ambisius, yang dimulai April 1997 dan berakhir Maret 2002, dengan tujuan mengeksplorasi potensi panas bumi berskala kecil di kawasan Indonesia Timur. Hasilnya sungguh menjanjikan secara teknis: fluida geothermal bersuhu 270–300°C teridentifikasi pada kedalaman reservoir, dan kapasitas potensi listrik yang layak dikembangkan telah dipetakan dengan cermat. Setelah pengeboran MT-1 dan MT-2, sumur MT-3 (613 m, 204°C) dan MT-4 (756,47 m, 205,5°C) pun dibor oleh DGGMR.

Namun demikian, ada sebuah kebenaran yang tidak tercatat dalam satupun halaman makalah tersebut, sebuah kebenaran yang justru paling relevan bagi komunitas di sekitar Mataloko, Bajawa, dan Kabupaten Ngada pada umumnya: listrik tidak ada. Dua dekade setelah pengeboran, setelah jutaan dollar diinvestasikan dalam eksplorasi, setelah ratusan halaman laporan teknis diproduksi, setelah seminar-seminar internasional membahas potensi reservoir ini — masyarakat Flores tetap bergulat dengan krisis energi, sementara kerusakan lingkungan terus berlangsung di kawasan yang dijanjikan kemakmuran melalui energi terbarukan.

Inilah paradoks yang menjadi titik tolak artikel ini: bagaimana sebuah proyek saintifik yang demikian canggih secara teknis dapat gagal secara total dalam dimensi sosialnya? Dan apakah kegagalan ini bersifat aksidental — semata karena faktor-faktor pragmatis seperti korupsi, inefisiensi birokrasi, atau keterbatasan investasi — ataukah ia bersifat struktural, tertanam dalam cara berpikir dan cara mengetahui yang menjadi fondasi proyek tersebut sejak awal? Artikel ini mempertahankan tesis kedua.

Mataloko dalam Wacana Geosaintifik: Membaca Koseki dan Nakashima secara Kritis

  • Arsitektur Epistemologis Makalah

Membaca makalah Koseki dan Nakashima secara teliti mengungkapkan arsitektur epistemologis yang khas. Makalah tersebut terstruktur dalam tujuh bagian: pendahuluan, latar geologis, geologi dan alterasi hidrotermal sumur eksplorasi, komposisi kimia mineral sulfida, komposisi isotop sulfur, sistem geothermal di lapangan Mataloko, dan kesimpulan.Dalam keseluruhan teks, tidak ada satu pun kalimat yang membahas masyarakat yang tinggal di atas dan di sekitar sistem hidrotermal yang sedang dideskripsikan. Tidak ada pertanyaan tentang dampak sosial pengeboran. Tidak ada pertimbangan tentang hak komunitas lokal atas tanah dan sumber daya.

Pertanyaan-pertanyaan yang dipandang relevan secara saintifik oleh Koseki dan Nakashima adalah: komposisi kimia pirit (pyrite) hingga level wt.%; rasio isotop δ34S pada berbagai kedalaman; suhu fluida pada zona atas dan bawah; distribusi arsenik dan kobalt dalam kristal pirit; serta hubungan antara wairakite dan kondisi termohidrolik reservoir. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang legitimate secara saintifik. Namun, keabsahan saintifik tidak identik dengan keadekuatan etis.

Yang secara aktif dikecualikan dari frame epistemologis ini adalah pertanyaan-pertanyaan seperti: siapa yang akan memperoleh manfaat dari energi yang dihasilkan? Apa dampak pengeboran terhadap mata air dan sumber daya air komunitas? Bagaimana komunitas lokal memahami hubungan mereka dengan tanah dan lapisan bumi yang sedang dibor? Apakah ada mekanisme konsultasi yang bermakna dengan masyarakat adat Ngada sebelum dan selama eksplorasi? Ketiadaan pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar ketidaklengkapan — ia adalah suatu pilihan epistemologis yang memiliki konsekuensi politik.

  • Logika Ekstraktif dalam Bahasa Saintifik

Studi Koseki dan Nakashima beroperasi dalam apa yang dapat kita sebut — mengikuti Martin Heidegger — sebagai logika “Ge-stell” atau penempatan (enframing): suatu cara pengungkapan (mode of revealing) di mana alam hanya tampak sebagai Bestand, sebagai cadangan atau standing-reserve yang menunggu untuk dieksploitasi. Dalam kerangka ini, Bajawa Depression bukan pertama-tama sebuah lanskap yang dihuni secara kultural dan spiritual oleh komunitas Ngada selama berabad-abad. Ia adalah “geological structure suitable for geothermal reservoirs.” Keli Inerie bukan pertama-tama gunung sakral dalam kosmologi adat — ia adalah “heat source” yang tersimpan sebagai “residual magma under the young volcanic cone.”

Bahasa teknis ini bukan netral. Ia menjalankan fungsi ideologis yang spesifik: ia menormalisasi ekstraksi dengan me-natur-alkan-nya. Jika wilayah Mataloko secara “alamiah” adalah sebuah reservoir panas bumi, maka ekstraksinya tampak sebagai pemenuhan takdir geologis, bukan sebagai tindakan politik yang mengandaikan distribusi kuasa yang asimetris. Vandana Shiva telah mengidentifikasi logika serupa dalam wacana pertanian industrial: monokultur pikiran mendahului monokultur tanaman.

Lebih jauh, ketika Koseki dan Nakashima mencatat bahwa “high temperature reservoir fluid retreated to deeper levels in the past and hydrothermal activity has declined now,” mereka sedang membangun legitimasi bagi intervensi teknis yang lebih dalam, lebih invasif, lebih mahal — tanpa sekalipun bertanya apakah intervensi itu dikehendaki oleh mereka yang tinggal di atasnya. Ini adalah epistemologi yang bergerak dari atas ke bawah, dari laboratorium ke lapangan, dari ahli ke objek.

Perampasan Epistemis: Sebuah Konsep Baru

Dalam tradisi filsafat politik kontemporer, berbagai konsep telah dikembangkan untuk menangkap berbagai dimensi perampasan yang dialami oleh komunitas adat dan komunitas marjinal dalam konteks ekstraksi sumber daya: perampasan teritorial (David Harvey), kolonisasi dunia-kehidupan (Habermas), perampasan kosmologis (Bookchin).Artikel ini mengusulkan konsep tambahan yang spesifik: perampasan epistemis (epistemic dispossession).

Perampasan epistemis merujuk pada proses di mana komunitas lokal dirampas kemampuannya untuk berpartisipasi secara bermakna dalam produksi pengetahuan tentang wilayah mereka sendiri, sehingga keputusan-keputusan besar tentang sumber daya mereka dibuat atas dasar pengetahuan yang secara struktural mengecualikan perspektif mereka. Ini bukan semata soal akses terhadap informasi — masyarakat Ngada tentu tahu bahwa sumur-sumur itu dibor. Ia adalah soal epistemologi yang lebih dalam: cara mengetahui apa yang dianggap valid, suara siapa yang diperhitungkan, pertanyaan apa yang boleh diajukan.

Dalam kasus Mataloko, perampasan epistemis bekerja melalui tiga mekanisme yang saling terkait. Pertama, melalui teknisasi wacana: ketika pembahasan tentang Mataloko hanya dapat dilakukan dalam bahasa geologi dan thermodynamics, komunitas lokal secara struktural dikecualikan dari percakapan tersebut, sebab pengetahuan mereka tentang tanah, air, dan gunung diorganisir dalam kerangka ontologis yang berbeda. Kedua, melalui monopoli otoritas epistemis: hanya geolog, insinyur, dan lembaga pemerintah yang dipandang sebagai subyek pengetahuan yang legitimate, sementara komunitas lokal direduksi menjadi obyek penelitian atau penerima manfaat pasif. Ketiga, melalui pemisahan temporal: proses produksi pengetahuan (eksplorasi, pengeboran, publikasi ilmiah) selesai jauh sebelum dampak sosial menjadi manifest, sehingga pada saat komunitas mengalami kerugian, rezim pengetahuan yang melegitimasi proyek itu sudah terlanjur establish.

Miranda Fricker membedakan dua bentuk ketidakadilan epistemis: ketidakadilan testimonial, di mana kesaksian seseorang didevaluasi karena identitas sosialnya; dan ketidakadilan hermeneutis, di mana seseorang kekurangan sumber daya konseptual untuk memahami pengalamannya sendiri. Perampasan epistemis yang terjadi di Mataloko mengandung kedua elemen ini sekaligus: komunitas Ngada tidak hanya tidak didengar (ketidakadilan testimonial), tetapi juga tidak memiliki akses terhadap kerangka konseptual yang memungkinkan mereka mengartikulasikan apa yang diambil dari mereka (ketidakadilan hermeneutis).

  • Kolonisasi Dunia-Kehidupan dan Absennya Listrik

Habermas membedakan antara dunia-kehidupan (Lebenswelt) — ruang komunikatif di mana identitas, nilai, dan makna dikonstruksi melalui tindakan komunikatif — dan sistem (System) yang beroperasi melalui media uang dan kekuasaan. Kolonisasi dunia-kehidupan terjadi ketika logika sistem menembus dan mendistorsi ruang komunikatif yang seharusnya bebas.

Dalam kasus Mataloko, apa yang kita saksikan adalah versi khusus dari kolonisasi ini: kolonisasi epistemis. Lapangan panas bumi Mataloko tidak hanya menjadi obyek eksploitasi sumber daya fisik — ia juga menjadi obyek eksploitasi sumber daya epistemis. Data geologis dari MT-1 hingga MT-4 mengalir keluar dari Flores menuju laboratorium di Jepang, dipublikasikan dalam jurnal dan prosiding internasional, menjadi modal akademis bagi para peneliti asing — sementara komunitas yang tanahnya dieksplorasi tidak menerima aliran balik yang setara, baik dalam bentuk pengetahuan maupun dalam bentuk energi.

Absennya listrik bukan sekadar kegagalan teknis atau administratif. Ia adalah simptom dari sebuah rezim pengetahuan yang tidak pernah sungguh-sungguh menempatkan keadilan distribusi sebagai pertanyaan epistemologis yang primer. Ketika Koseki dan Nakashima menulis bahwa tujuan studi mereka adalah memahami “geothermal structure and feature of sulfide minerals,” pertanyaan “untuk siapa pemahaman ini?” tidak muncul sama sekali. Ini bukan karena para peneliti itu jahat atau tidak peduli — tetapi karena dalam kerangka epistemologis di mana mereka bekerja, pertanyaan itu bukan pertanyaan saintifik yang relevan.

Rainer Forst menyebut hak untuk justifikasi (the right to justification) sebagai hak fundamental: setiap orang yang terdampak oleh suatu norma atau kebijakan memiliki hak untuk menuntut justifikasi yang dapat diterima secara akal budi. Di Mataloko, hak ini tidak pernah terpenuhi. Komunitas Ngada tidak pernah menerima justifikasi yang memadai tentang mengapa eksplorasi dilakukan, mengapa listrik tidak kunjung hadir, dan mengapa kerusakan lingkungan yang dialami mereka tidak dihitung sebagai bagian dari kalkulasi “keberhasilan” proyek.

Suara yang Tidak Masuk ke dalam Prosiding: Perspektif Komunitas dan Kerusakan Nyata

Dalam prosiding simposium geothermal, tidak ada satu pun kutipan dari warga Bajawa, petani Ngada, atau pemimpin adat Flores. Yang ada hanyalah kutipan antar-ilmuwan — Koseki mengutip Muraoka, Muraoka mengutip Otake, Otake mengutip Sueyoshi — sebuah ekosistem diskursif yang self-referential dan tertutup. Komunitas lokal tidak hadir sebagai subyek pengetahuan, tidak sebagai sumber data, tidak sebagai verifikator klaim.

Namun realitas yang dialami komunitas tersebut jauh dari apa yang tersurat dalam narasi saintifik itu. Gerakan sipil yang diwakili oleh FORKASI dan ALTER KGF telah mendokumentasikan berbagai dampak nyata: perubahan debit mata air di sekitar kawasan pengeboran, pergeseran pola pertanian akibat ketidakpastian hak atas tanah, hilangnya akses komunitas terhadap kawasan yang memiliki signifikansi ritual dan kultural, serta ketidakhadiran manfaat energi yang dijanjikan.

Paul Ricœur mengajarkan bahwa ingatan yang terus dipadamkan akan mewujud sebagai simptom — sebagai gangguan yang berulang dalam kain sosial suatu komunitas.Di Flores, simptom itu hadir dalam bentuk ketidakpercayaan yang mendalam terhadap proyek pembangunan, resistensi komunitas terhadap pengembangan lebih lanjut, dan luka sosial yang belum sembuh. Proyek-proyek saintifik yang tidak menyertakan komunitas sebagai mitra bermakna tidak hanya menghasilkan pengetahuan yang tidak adil — ia juga menghasilkan luka yang tidak terobati.

Dalam konteks ini, data Koseki dan Nakashima tentang isotop sulfur δ34S yang bervariasi antara -1,1 hingga -11,1‰ pada berbagai kedalaman menjadi absurd secara etis: kita tahu dengan presisi miliper-mil tentang konsentrasi arsenik dalam pirit pada kedalaman 190–193 meter, tetapi kita tidak tahu — dan tidak pernah bertanya — berapa banyak keluarga yang kehilangan akses air bersih, berapa banyak lahan adat yang terganggu, berapa banyak anak yang tumbuh dalam kegelapan sementara reservoir panas bumi yang ada di bawah tanah mereka sudah dipetakan dengan detail yang luar biasa.

  • Magnifica Humanitas dan Tanggung Jawab Etis Teknologi

Ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas (2026), menegaskan dengan tegas bahwa tidak ada proses teknologis yang dapat dilepaskan dari tanggung jawab etis terhadap komunitas yang terdampak. Mengacu pada tradisi Ajaran Sosial Gereja tentang opsi preferensial bagi kaum miskin, ensiklik ini secara eksplisit memperingatkan bahwa pengembangan teknologi yang tidak menempatkan martabat manusia dan keadilan komunitas sebagai prinsip primer bukanlah kemajuan melainkan suatu bentuk penindasan yang terselubung dalam bahasa modernisasi.

Prinsip-prinsip ini memiliki relevansi langsung untuk kasus Mataloko. Jika kita menerima bahwa pengembangan panas bumi adalah bagian dari solusi transisi energi yang adil (just energy transition), maka justness dari transisi tersebut tidak dapat dinilai hanya dari perspektif teknis — dari efisiensi konversi panas ke listrik, atau dari profil isotop sulfida dalam reservoir. Ia harus dinilai dari perspektif mereka yang paling terdampak: apakah komunitas Bajawa dan Ngada menikmati manfaat dari sumber daya yang ada di bawah tanah mereka? Apakah lingkungan hidup mereka terlindungi? Apakah suara mereka didengar dalam setiap tahap pengambilan keputusan?

Jawabannya, berdasarkan fakta yang tersedia, adalah tidak. Dan ini bukan sekadar kegagalan implementasi yang dapat diperbaiki dengan manajemen yang lebih baik. Ini adalah kegagalan epistemologis yang fundamental: selama pertanyaan keadilan tidak terintegrasikan dalam cara kita memproduksi pengetahuan tentang sumber daya alam, hasil-hasil saintifik yang paling canggih pun akan terus melayani kepentingan yang asimetris.

Menuju Epistemologi Panas Bumi yang Adil

Artikel ini bukan seruan untuk menolak sains geothermal. Data tentang isotop sulfur, komposisi mineral, dan dinamika fluida hidrotermal adalah pengetahuan yang berharga dan dibutuhkan untuk memahami dan mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Yang dipersoalkan bukanlah isi pengetahuan itu, melainkan arsitektur epistemologisnya: siapa yang memproduksi pengetahuan, untuk siapa, dengan metode apa, dan dengan mengecualikan pertanyaan apa.

Boaventura de Sousa Santos mengusulkan konsep “ekologi pengetahuan” (ecology of knowledges) sebagai alternatif terhadap monokultur pengetahuan ilmiah modern: suatu pendekatan yang mengakui bahwa tidak ada satu pun bentuk pengetahuan yang memadai untuk memahami kompleksitas dunia, dan bahwa pengetahuan lokal, adat, dan komunitas memiliki validitas epistemis yang tidak kalah dengan pengetahuan saintifik. Dalam konteks Mataloko, ekologi pengetahuan ini akan berarti menempatkan kosmologi Ngada tentang tanah dan gunung, pengetahuan lokal tentang pola air dan vegetasi, serta pengalaman komunitas tentang dampak sosial pengeboran — sebagai sumber data yang sama legitimnya dengan data isotop sulfur dan profil mineralogi.

Lebih jauh, sebuah epistemologi panas bumi yang adil harus mengintegrasikan prinsip Forst tentang hak untuk justifikasi: setiap tahap pengembangan panas bumi — dari eksplorasi hingga eksploitasi, dari transmisi hingga distribusi — harus dapat dijustifikasi kepada komunitas yang terdampak dalam kerangka yang dapat mereka terima. Ini bukan sekadar prosedur konsultasi formal, tetapi transformasi yang lebih dalam: suatu komitmen untuk tidak memisahkan pertanyaan saintifik dari pertanyaan etis, tidak memisahkan data geologis dari data sosial.

Jeffrey Winters mengingatkan kita bahwa oligarki modern tidak hanya beroperasi melalui monopoli kekayaan material, tetapi juga melalui monopoli pengetahuan dan narasi. Dalam kasus Mataloko, oligarki epistemis ini tampak dalam cara produksi pengetahuan tentang sumber daya panas bumi terkonsentrasi pada aktor-aktor yang jauh secara geografis dan kultural dari komunitas yang paling terdampak — sementara pengetahuan komunitas itu sendiri tidak pernah masuk ke dalam prosiding simposium manapun.

Kesimpulan: Listrik sebagai Pertanyaan Filosofis

Pada akhirnya, absennya listrik di komunitas sekitar Mataloko bukan sekadar persoalan teknis atau administratif. Ia adalah pertanyaan filosofis yang mendasar: pengetahuan untuk apa? Sains untuk siapa? Pembangunan untuk siapa?

Makalah Koseki dan Nakashima tentang struktur geothermal dan mineral sulfida Mataloko adalah kontribusi saintifik yang valid dalam domainnya. Tetapi keabsahan saintifik itu tidak secara otomatis menghasilkan keadilan sosial. Justru sebaliknya: ketika pengetahuan saintifik yang canggih tentang suatu wilayah tidak disertai dengan pertanyaan tentang keadilan, ketika data geologi yang presisi tidak diimbangi dengan data sosial yang setara presisinya, ketika hasil-hasil penelitian lebih mudah mengalir ke prosiding internasional daripada ke komunitas yang tanahnya diteliti — maka sains menjadi instrumen legitimasi untuk ketidakadilan yang sudah ada.

Dua dekade telah berlalu. Sumur MT-1 hingga MT-4 telah dibor. Data telah dikumpulkan, dianalisis, dipublikasikan, disitasi. Konferensi-konferensi telah diselenggarakan. Namun di Bajawa, di Ngada, di sepanjang Flores yang kaya sumber daya panas bumi ini, lampu belum menyala karena energi dari perut bumi mereka sendiri. Kerusakan sudah terjadi. Janji belum ditepati.

Inilah tanggung jawab yang tidak dapat diselesaikan oleh δ34S senilai -11,1‰, oleh pirit yang kaya arsenik, atau oleh model konseptual sistem hidrotermal yang paling canggih sekalipun. Ini adalah tanggung jawab yang mensyaratkan transformasi epistemologis: suatu cara mengetahui yang tidak memisahkan kebenaran dari keadilan, yang tidak memisahkan data dari manusia, yang tidak memisahkan sains dari pertanyaan tentang hidup yang baik bagi semua. (Felix Baghi, SVD/Dosen Filsafat IFTK Ledalero)