
sergap.id, SOE – Di balik hamparan tanah kering Timor Tengah Selatan (TTS), ada cerita tentang perjuangan yang terjadi setiap hari. Bagi sebagian keluarga, mendapatkan air bersih bukan sekadar membuka keran, tetapi harus menempuh perjalanan panjang, melewati medan sulit, dan mengorbankan waktu belajar anak-anak.
Musim kemarau yang berlangsung hingga 7-8 bulan setiap tahun, ditambah kondisi tanah berbatu karst yang sulit menyimpan air, membuat sebagian masyarakat harus berjalan kaki hingga sekitar dua jam hanya untuk mencapai sumber air terdekat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat, akses air minum layak di Timor Tengah Selatan baru mencapai 75,48% rumah tangga, jauh tertinggal dibanding rata-rata nasional yang mencapai 93,22%. Sementara itu, Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga menunjukkan bahwa akses air minum aman yang bebas kontaminasi masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, Wahana Visi Indonesia (WVI) menghadirkan kampanye Water for Timor (WFT) sebagai gerakan nyata untuk menghadirkan air bersih lebih dekat bagi masyarakat. Program ini menyasar lebih dari 2.000 penerima manfaat di lima desa dan tiga sekolah di Timor Tengah Selatan.
“Air bersih bukan hanya tentang kebutuhan sehari-hari, tetapi tentang hak anak untuk hidup sehat, belajar, dan tumbuh dengan layak,” ujar Angelina Theodora, National Director Wahana Visi Indonesia.
Melalui Water for Timor yang dimulai sejak Maret 2026, WVI secara bertahap melakukan asesmen sumber air, pembangunan fasilitas jaringan air bersih, serta penguatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola sistem air secara berkelanjutan.
Menurut Angelina, kehadiran akses air yang lebih dekat juga membawa dampak besar bagi perempuan dan anak-anak.
“Ketika perempuan tidak lagi harus menghabiskan berjam-jam mengambil air, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi anak, bekerja, beristirahat, dan mengembangkan diri,” katanya.
-
Air, kemiskinan, dan masa depan anak
Krisis air bersih di TTS tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan data BPS 2025, tingkat kemiskinan di Timor Tengah Selatan masih mencapai 24,5%, atau sekitar satu dari empat penduduk.
Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi turut memperbesar risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak. Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat angka stunting di TTS mencapai 56,8%, jauh di atas rata-rata nasional 19,8%.
Air yang tidak aman dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diare. Ketika infeksi berulang terjadi, tubuh anak kesulitan menyerap nutrisi secara optimal. Akibatnya, tumbuh kembang anak terhambat dan lingkaran kemiskinan semakin sulit diputus.
Namun di tengah tantangan itu, suara anak-anak menjadi pengingat paling kuat.
Distin, seorang anak di Timor Tengah Selatan, bercerita:
“Saya biasa pagi-pagi ambil air untuk keluarga, jadi terlambat ke sekolah dan sering ditegur ibu guru. Sore hari juga harus ambil air lagi bersama kakak. Saya ingin ada keran di rumah, supaya kalau perlu air cukup ambil dari rumah.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara air dan masa depan seorang anak.
Melalui Water for Timor, WVI membangun sistem jaringan air bersih yang menjangkau rumah tangga dan sekolah, sekaligus memberikan edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta pengelolaan sanitasi yang berkelanjutan.
Dengan air yang lebih dekat dan aman, anak-anak tidak lagi harus memilih antara pergi mengambil air atau pergi ke sekolah.
Karena di setiap tetes air yang mengalir, ada kesempatan baru: anak-anak belajar lebih lama, keluarga hidup lebih sehat, dan masa depan Timor Tengah Selatan tumbuh lebih kuat. (je/je)
































