sergap.id, LAHURUS – Jangan bicara kemiskinan kalau lahan dibiarkan tidur. Jangan hanya menunggu bantuan kalau tanah sendiri bisa menghasilkan uang.

Kalimat itu seolah tergambar dari kisah Dominikus Besin, petani porang di Desa Lasiolat, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Di atas lahan sekitar 2,5 hektare, Domi mulai menanam porang sejak 2018. Saat itu, ia belum menanam dalam jumlah besar. Kurang dari 1.000 pohon.

Namun sejak mulai panen pada 2020, perlahan hasilnya membesar.

Dari awal hanya sekitar 5–7 ton dengan harga Rp7.500 per kilogram, produksi meningkat menjadi sekitar 10 ton pada 2025 dengan harga Rp10.000 per kilogram.

Tahun 2026, harga yang diterimanya mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram.

Jika 10 ton dikalikan Rp12.000, omzet kotor sekali panen mencapai Rp120 juta.

Dan cerita itu belum selesai.

Domi mengaku hasil porang telah membantunya membeli sebuah mobil. Bahkan satu mobil lagi sedang direncanakan.

“Saya mau tulis di kaca mobil: INI HASIL PORANG. Supaya petani lain termotivasi. Orang kita kalau belum lihat langsung, belum percaya,” ujar Dominikus yang akrab disapa Domi saat SERGAP bertandang ke kediamannya di Lasiolat, Sabtu 8 Agustus 2026.

Mobil itu menjadi bukti bahwa tanah yang selama ini dianggap kering dan kurang produktif ternyata bisa menghasilkan.

  • Pembeli Yang Mencari Petani

Ada satu hal yang membuat Domi semakin yakin, yakni pasar.

Ia tidak harus berkeliling mencari pembeli.

Justru pembeli dari Jawa yang menghubunginya lebih dahulu.

Sebelum datang ke Belu, mereka sudah berkomunikasi melalui telepon. Begitu tiba, mereka langsung menuju kebun, melihat hasil, bernegosiasi, membayar uang muka dan kemudian porang dibongkar.

Bahkan, kata Domi, uang panjar bisa mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta, tergantung stok.

“Pasarnya jelas. Pembeli yang datang, bukan kita yang cari pembeli,” tegasnya.

Inilah yang membedakan porang dengan banyak usaha tani lainnya.

Petani bukan hanya menanam. Tapi sudah ada pasar yang menunggu.

  • Tanam Sengon, Panen Porang

Di sinilah sistem tumpang sari menjadi menarik.

Sengon tidak sekadar ditanam untuk dipanen beberapa tahun kemudian. Pohon ini sekaligus menjadi naungan bagi porang.

Porang membutuhkan cahaya yang tidak terlalu terik. Sengon memberikan naungan alami sehingga cahaya matahari yang masuk lebih sesuai bagi pertumbuhan porang.

Artinya, satu lahan dapat menghasilkan dua komoditas sekaligus.

Porang bisa memberikan pendapatan lebih cepat, sementara sengon menjadi investasi jangka menengah dan panjang.

Petani tidak hanya menunggu satu panen.

Tanam sengon, panen porang. Sengon tumbuh, porang menghasilkan.

Model seperti ini membuat lahan bekerja lebih produktif.

  • Tidak Harus Setiap Hari Ke Kebun

Domi juga membandingkan porang dengan tanaman hortikultura seperti cabai dan tomat.

Cabai dan tomat membutuhkan perawatan lebih intensif. Petani harus lebih sering berada di kebun.

Porang relatif berbeda.

“Kalau cabai dan tomat, kerjanya lebih berat. Setiap hari kita masuk. Kalau porang, tidak terlalu banyak perawatan,” katanya.

Tentu bukan berarti porang tanpa risiko.

Kondisi tanah, kelembapan, naungan, bibit dan teknik budidaya tetap menentukan hasil.

Tetapi pengalaman Domi menunjukkan satu hal, petani bisa mencari pola pertanian yang lebih efisien, bukan sekadar bekerja lebih keras.

  • Ilmu Datang Bersama Pembeli

Yang menarik, pengetahuan Domi tidak berhenti pada pengalaman sendiri.

Pembeli dari Jawa yang datang ke kebunnya juga ikut memberikan pengetahuan tentang teknik budidaya.

Salah seorang pembeli yang disebut berasal dari Bogor bahkan mengajarkan cara pemupukan dan pengamatan pertumbuhan tanaman.

Domi kemudian membuat sampel sendiri.

Tiga tanaman dijadikan bahan pengamatan. Setiap tahun ditimbang untuk mengetahui perkembangan beratnya.

Petani belajar dari pasar, pasar memberi pengetahuan, pengetahuan meningkatkan produksi.

Rantai sederhana inilah yang sering hilang dalam pembangunan pertanian.

Domi juga melontarkan kritik yang cukup keras.

Menurutnya, Belu memiliki banyak lahan kering yang selama ini sering dipandang sebagai persoalan.

Padahal, katanya, lahan kering juga bisa menjadi kekuatan ekonomi apabila ditanami komoditas yang sesuai.

“Jangan hanya minta air terus. Lahan kering seperti ini cocok untuk porang,” ucapnya.

Pesannya sederhana, jangan memaksa semua tanah menghasilkan tanaman yang sama. Cari tanaman yang cocok dengan tanahnya. Dan di situlah pemerintah harus hadir. Bukan sekadar membagikan bantuan. Tetapi membantu petani menentukan komoditas, membuka lahan, menyediakan bibit, memberikan pendampingan, memastikan pasar dan mendorong industri pengolahan.

  • Pemerintah Belu Mulai Dorong Porang dan Sengon

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Belu, Iwan Manek, mengatakan pemerintah sudah mulai mendorong pengembangan porang dan sengon sebagai komoditas ekonomi masyarakat.

Menurut Iwan, sebagian besar desa telah diarahkan melakukan pembukaan lahan dengan target minimal 5 hektare per desa. Bahkan ada desa yang bisa mencapai 10 hingga 25 hektare.

Yang digunakan bukan tanah desa, melainkan tanah masyarakat.

Pemerintah desa dapat menggunakan sebagian ADD untuk membantu pembukaan lahan tersebut.

“Tidak perlu terlalu besar, sekitar 5 sampai 10 persen untuk dua komoditas unggulan,” kata Iwan.

Iwan juga mengkritik pola pembangunan desa yang menurutnya terlalu banyak membagi anggaran ke berbagai program kecil.

Akibatnya, tidak ada satu pun komoditas yang benar-benar tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.

Ini persoalan serius.

Dana desa telah mengalir bertahun-tahun.

Jika anggaran yang begitu besar terus dipecah ke dalam program kecil tanpa fokus, maka jangan heran jika hasilnya juga kecil.

Karena itu, menurut Iwan, desa harus berani memilih.

Pilih komoditas. Fokus anggaran. Buka lahan. Dampingi petani. Cari pasar. Bangun industri.

“Bukan semua dikerjakan, tetapi tidak ada yang jadi”, timpalnya.

Iwan menyebut pengembangan porang dan sengon saat ini telah diarahkan atau memiliki potensi di lebih dari 50 desa di Kabupaten Belu.

Namun ada masalah baru.

Bibit atau umbi porang mulai sulit diperoleh.

Permintaan meningkat. Kabupaten lain mulai menangkap peluang yang sama.

Daerah-daerah di Flores pun mulai masuk.

Kondisi tersebut sebenarnya merupakan sinyal penting.

Ketika bibit mulai langka dan harga meningkat, berarti pasar sedang bergerak.

Pemerintah harus segera membangun sistem pembibitan lokal agar petani tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.

  • Target 3.000 Hektare

Pemerintah Kabupaten Belu bahkan mulai berpikir lebih jauh. Bukan lagi sekadar beberapa hektare. Targetnya mencapai 3.000 hektare. Mengapa?

Karena produksi besar membutuhkan industri.

Menurut Iwan, jika Belu mampu menyediakan sekitar 3.000 hektare, peluang menghadirkan dua hingga tiga pabrik di Belu akan semakin terbuka.

Mengapa tidak satu pabrik? Nanti terjadi monopoli!

Karena terlalu bergantung pada satu pembeli dapat menciptakan posisi pasar yang tidak sehat dan berpotensi merugikan petani.

Petani membutuhkan pasar, tetapi petani juga membutuhkan pilihan pasar.

Iwan mengakui bahwa mendorong perubahan tidak selalu mudah. Ada kepala desa yang menganggap pemerintah terlalu memaksakan program.

Namun ia memilih mengambil risiko.

“Kalau nama saya menjadi buruk karena mendorong program yang baik untuk masyarakat, saya tidak terlalu mempermasalahkannya.”

Kalimat itu penting.

Sebab pembangunan tidak boleh berhenti hanya karena takut dikritik.

Tetapi dorongan pemerintah juga harus dibarengi transparansi, pendampingan dan ruang bagi masyarakat untuk menentukan komoditas yang benar-benar sesuai dengan potensi wilayahnya.

Persoalan terbesar Belu bukan sekadar berapa besar anggaran yang tersedia.

Pertanyaannya: Apa hasilnya?

Dana desa sudah berjalan hampir satu dekade.

Jika kemiskinan masih menjadi persoalan besar, maka cara kerja pembangunan harus berani dievaluasi.

Jangan sampai desa setiap tahun sibuk membuat laporan kegiatan, tetapi masyarakat tetap sibuk mencari uang untuk bertahan hidup.

Pembangunan harus menghasilkan pendapatan.

Dan pendapatan harus datang dari sektor yang benar-benar memiliki pasar.

Iwan bahkan ingin setiap desa memiliki komoditas unggulan.

Jika ada sembilan kecamatan, ia berharap minimal ada sembilan desa yang bisa menjadi contoh keberhasilan.

Bukan berarti semua desa harus menanam porang.

Tidak.

Desa harus melihat potensinya sendiri.

Ada desa yang cocok sengon dan porang.

Ada yang cocok semangka.

Ada yang cocok kopi.

Ada yang cocok tuna asap.

Ada yang cocok tomat dan cabai.

Yang penting jangan semuanya sedikit-sedikit.

Sebab ketika semua program mendapatkan bagian kecil, akhirnya tidak ada satu pun yang cukup besar untuk berkembang menjadi industri.

  • Dari Kebun Domi, Ada Pesan Besar

Kisah Dominikus Besin seharusnya tidak berhenti sebagai cerita tentang seorang petani yang mampu membeli mobil.

Ada pesan yang jauh lebih besar.

Lahan kering bukan berarti lahan mati.

Petani miskin bukan berarti petani tidak mampu.

Yang sering hilang adalah akses terhadap teknologi, modal, pasar, pendampingan dan keberanian untuk mencoba.

Domi sudah mencoba.

Ia menanam.

Ia belajar.

Ia gagal dan memperbaiki.

Ia menemukan pasar.

Ia meningkatkan produksi.

Dan akhirnya, ia membeli mobil dari hasil kebunnya.

Sekarang tantangannya bukan lagi membuktikan apakah porang bisa menghasilkan.

Domi sudah membuktikannya.

Tantangannya adalah apakah Belu mampu mengubah keberhasilan satu petani menjadi gerakan ekonomi ribuan petani.

Karena satu petani membeli mobil memang menggembirakan.

Tetapi jika 1.000 petani mampu meningkatkan pendapatan, itu bukan lagi cerita sukses seorang Domi.

Itu sudah menjadi perubahan ekonomi sebuah daerah.

Dan kalau ingin sampai ke sana, resepnya sebenarnya sederhana: Tanam. Dampingi. Fokus. Cari pasar. Bangun industri.

Jangan biarkan tanah tidur.

Sebab tanah yang dibiarkan tidur tidak akan pernah mengubah nasib pemiliknya. (cis/cis)