Captain Nicholas F. Goselin.
Captain Nicholas F. Goselin.

sergap.id, YAHUKIMO – Pagi itu, langit di atas pegunungan Papua masih diselimuti udara dingin. Matahari perlahan muncul dari balik gugusan bukit yang mengelilingi Distrik Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Di daerah yang nyaris tak memiliki akses jalan memadai, suara baling-baling pesawat selalu menjadi pertanda kehidupan. Setiap pesawat yang datang bukan sekadar alat transportasi. Ia membawa makanan, obat-obatan, kebutuhan pokok, tenaga kesehatan, pekerja misi, hingga harapan bagi ribuan warga yang tinggal di pedalaman.

Namun, Kamis pagi, 2 Juli 2026, harapan itu berubah menjadi tragedi.

Sekitar pukul 06.46 WIT, pesawat Pilatus PK-RCY milik PT Associated Mission Aviation (AMA) mendarat di Lapangan Terbang Balinggama. Di dalam pesawat terdapat tujuh penumpang yang baru saja menyelesaikan perjalanan menuju salah satu wilayah terpencil di Papua.

Di kursi pilot duduk seorang pria muda berusia 29 tahun asal Amerika Serikat, Captain Nicholas F. Goselin. Tak pernah terbayang bahwa pendaratan pagi itu akan menjadi yang terakhir dalam hidupnya.

Tak lama setelah roda pesawat menyentuh landasan, suasana mendadak berubah mencekam. Kelompok kriminal bersenjata (KKB) diduga melancarkan serangan.

Aparat menyebut kelompok tersebut dipimpin M Mbalingga, yang disebut sebagai kelompok baru yang muncul di wilayah Papua.

Dalam hitungan menit, rentetan kekerasan terjadi. Captain Nicholas ditembak hingga meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara pesawat yang baru saja menyelesaikan misinya dibakar hingga hangus.

Api melalap badan pesawat dan menyisakan rangka yang menghitam di tengah landasan kecil Balinggama. Asap membubung tinggi di antara pegunungan, menjadi saksi berakhirnya sebuah misi penerbangan sipil yang seharusnya berjalan seperti biasa.

Di tengah situasi yang mencekam, tujuh penumpang berhasil diselamatkan dan dievakuasi dalam kondisi selamat.

Meski demikian, kabar selamatnya para penumpang tidak mampu menghapus duka atas gugurnya sang pilot.

Karena kondisi keamanan yang belum memungkinkan, proses evakuasi jenazah Captain Nicholas tidak dapat dilakukan pada hari yang sama. Pasukan Satgas TNI di bawah kendali Kogabwilhan III kemudian dikerahkan menggunakan helikopter pada Jumat (3/7/2026).

Sekitar pukul 08.00 WIT, prajurit TNI berhasil mengevakuasi jenazah pilot tersebut dari lokasi kejadian.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto menyebut korban merupakan pilot pesawat Pilatus PK-RCY milik PT AMA yang menjadi korban pembunuhan dalam aksi penyerangan tersebut.

Setelah dievakuasi dari Yahukimo, jenazah Captain Nicholas diterbangkan dari Timika menuju Jayapura menggunakan pesawat Boeing 737 pada Jumat sore.

Di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua, tim medis melakukan visum terhadap jenazah korban.

Hasil pemeriksaan mengungkap gambaran tragis mengenai detik-detik terakhir yang dialami sang pilot.

Karumkit RS Bhayangkara Polda Papua, dr. Rommy Sebastian, menjelaskan bahwa tim medis menemukan sejumlah luka berat pada bagian kepala dan wajah korban.

“Terdapat luka terbuka pada kepala, dahi, pipi kiri, dan daerah sekitar telinga kanan, luka lecet pada sisi kanan kepala, patah tulang rahang atas kiri dan kanan serta patah tulang rahang bawah sisi kanan akibat kekerasan benda tumpul,” jelasnya.

Tim medis juga menemukan luka terbuka pada pipi kiri yang sesuai dengan karakteristik luka tembak masuk tempel atau contact gunshot wound, yakni kondisi ketika moncong senjata menempel langsung pada permukaan kulit saat tembakan dilepaskan.

Menurut hasil pemeriksaan, peluru masuk melalui pipi kiri dan keluar di sekitar telinga kanan, menyebabkan kerusakan berat pada tulang wajah dan dasar tengkorak.

Pemeriksaan radiologi menunjukkan adanya patah tulang pada dasar tengkorak yang mengakibatkan cedera fatal.

“Dari hasil tersebut diketahui bahwa lintasan peluru masuk dan keluar serta menyebabkan kerusakan berat pada dasar tengkorak. Cedera inilah yang menyebabkan korban meninggal dunia dengan sangat cepat atau sudden death,” ujar dr. Rommy.

Hasil visum itu menggambarkan bahwa Captain Nicholas meninggal seketika akibat luka tembak yang dideritanya.

  • Pilot yang Memilih Terbang ke Pedalaman

Tidak semua pilot bersedia menerbangkan pesawat menuju pedalaman Papua.

Medan pegunungan yang ekstrem, cuaca yang berubah cepat, landasan pendek, serta tantangan keamanan menjadikan pekerjaan tersebut sebagai salah satu profesi penerbangan paling berisiko di Indonesia.

Namun, selalu ada orang-orang yang memilih menjalani tugas itu.

Captain Nicholas adalah salah satunya.

Setiap kali menerbangkan pesawat menuju pedalaman, ia menjadi penghubung antara dunia luar dan masyarakat yang hidup jauh dari pusat kota.

Pesawat yang dikemudikannya bukan sekadar mengangkut penumpang. Ia membawa harapan.

Di banyak kampung, keterlambatan satu penerbangan saja dapat berdampak pada distribusi logistik, pelayanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, setiap pilot yang bertugas di Papua sesungguhnya menjalankan peran yang jauh melampaui profesinya sebagai penerbang.

  • Bergantung pada Jalur Udara

Kabupaten Yahukimo merupakan salah satu wilayah dengan kondisi geografis paling menantang di Indonesia.

Pegunungan tinggi, lembah curam, serta minimnya akses jalan membuat transportasi udara menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Bagi warga pedalaman, pesawat bukanlah simbol kemewahan. Pesawat adalah kebutuhan dasar yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.

Melalui jalur udara, berbagai kebutuhan pokok, pelayanan kesehatan, hingga mobilitas warga dapat berlangsung.

Karena itu, ketika sebuah pesawat dibakar dan seorang pilot kehilangan nyawa, dampaknya tidak hanya berupa kerugian materi. Pelayanan kepada masyarakat pun ikut terganggu.

  • Duka yang Menyeberangi Samudra

Kabar meninggalnya Captain Nicholas tidak hanya mengguncang rekan-rekan sesama pilot dan dunia penerbangan perintis.

Duka itu juga menyeberangi ribuan kilometer menuju Amerika Serikat, tempat keluarganya menunggu kabar kepulangannya.

Seorang anak, saudara, sahabat, dan rekan kerja yang berangkat menjalankan tugas kini pulang dalam peti jenazah.

Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 turut menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tersebut.”Atas nama Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban, pihak PT AMA, serta seluruh pihak yang terdampak atas peristiwa ini,” ujar Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo.

  • Harga Sebuah Pengabdian

Banyak orang mengenal Papua karena keindahan alamnya yang luar biasa.

Namun, di balik panorama pegunungan yang memukau, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi mereka yang mengabdikan diri di wilayah tersebut.

Pilot-pilot penerbangan perintis terbang bukan untuk mencari ketenaran atau sensasi. Mereka memastikan masyarakat di daerah terpencil tetap memperoleh akses transportasi, logistik, dan pelayanan dasar.

Captain Nicholas menjadi salah satu dari mereka.

Perjalanan yang dimulainya pada pagi 2 Juli 2026 seharusnya berakhir dengan mematikan mesin pesawat, menyapa para penumpang, lalu bersiap untuk penerbangan berikutnya.

Namun takdir berkata lain.

Rentetan tembakan menghentikan langkahnya.

Api menghanguskan pesawat yang baru saja mengantar harapan ke pedalaman.

Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing di landasan Balinggama, kesedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, dan pertanyaan besar tentang keselamatan penerbangan sipil di wilayah konflik.

Di balik setiap pesawat yang terbang menuju pedalaman Papua, selalu ada seseorang yang mempertaruhkan nyawanya demi menghubungkan masyarakat yang terisolasi dengan dunia luar.

Pada pagi itu, pengabdian Captain Nicholas dibayar dengan harga yang paling mahal: nyawanya sendiri. (chiper)