Felix Baghi, SVD/Dosen Filsafat IFTK Ledalero
Felix Baghi, SVD/Dosen Filsafat IFTK Ledalero

Dewasa ini kita sering menganggap politik sebagai urusan kekuasaan dan puisi  sebagai urusan keindahan kata-kata. Politik berbicara tentang pemerintahan, hukum, dan institusi; puisi berbicara tentang kata-kata, metafora, dan imajinasi. Yang satu dianggap dunia tindakan, yang lain dunia imajinasi. Yang satu mengubah dunia, yang lain sekadar menggambarkannya.

Aristoteles menolak pemisahan ini.  Bagi filsuf Yunani ini, politik dan puisi lahir dari sumber yang sama: usaha manusia memahami dirinya sendiri sebagai makhluk yang bertindak. Keduanya berangkat dari kenyataan bahwa hidup manusia tidak pernah berlangsung dalam kepastian matematis, melainkan dalam ruang kemungkinan, imajinasi, kreativitas, pilihan, risiko, dan konsekuensi. Karena itu keduanya tidak berbicara tentang apa yang niscaya, melainkan tentang apa yang mungkin; bukan tentang hukum-hukum yang tidak berubah, melainkan tentang pola-pola kehidupan yang berulang dalam sejarah manusia.

Di sinilah letak revolusi berpikir Aristoteles. Ia mengangkat puisi dari sekadar hiburan menjadi pengetahuan. Ia mengembalikan politik dari langit metafisika ke bumi pengalaman manusia” dan di antara keduanya ia menemukan suatu wilayah bersama: wilayah tindakan, tempat manusia membangun nasibnya sendiri.

  • Politik Berawal dari Kehidupan yang Dihidupi

Aristoteles tidak memulai filsafat politik dari dunia ide yang sempurna sebagaimana Plato. Ia memulai dari kehidupan yang dijalani manusia sehari-hari. Manusia bertindak karena menginginkan sesuatu. Tidak ada tindakan tanpa tujuan, tanpa niat. Tidak ada pilihan tanpa harapan akan suatu kebaikan. Seluruh kehidupan manusia bergerak oleh daya tarik berbagai tujuan yang dianggap bernilai.

Karena itu politik bukan pertama-tama soal negara. Politik adalah soal kehidupan yang baik. Di balik setiap keputusan ekonomi, setiap kebijakan publik, setiap hukum, setiap perdebatan tentang keadilan, tersembunyi satu pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana manusia seharusnya dengan hidup?

Pertanyaan inilah yang bagi Aristoteles menjadi inti filsafat politik. Kebaikan tertinggi itu disebutnya eudaimonia – kebahagiaan. Namun kebahagiaan di sini bukan dalam arti kesenangan sesaat, melainkan kehidupan yang berkembang secara utuh. Politik hadir agar kehidupan semacam ini mungkin diwujudkan bersama-sama dalam suatu komunitas.

Karena itu, politik bukan sekadar teknik mengelola kekuasaan. Politik adalah seni membentuk dunia tempat manusia dapat menjadi manusia.

  • Dunia Manusia adalah Dunia Kemungkinan

Namun hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa dunia manusia berbeda dari dunia geometri. Tidak ada rumus yang dapat memastikan bahwa keberanian selalu menghasilkan kemenangan. Tidak ada hukum yang menjamin bahwa kekayaan selalu membawa kesejahteraan. Tidak ada formula yang membuat keadilan selalu menang. Tidak ada prinsip yang menjamin bahwa kekuasaan itu kekal.

Kehidupan manusia bergerak dalam wilayah yang oleh Aristoteles disebut epi to polu – apa yang terjadi “pada umumnya”. Keberanian biasanya menghasilkan kehormatan. Keserakahan biasanya menghasilkan kehancuran. Kebijaksanaan biasanya menghasilkan kehidupan yang baik. Tetapi dalam kenyataan tidak selalu demikian.

Ini menjadi alasan mengapa  politik tidak pernah dapat menjadi ilmu pasti. Ia hanya dapat menjadi kebijaksanaan praktis.  Politik tidak menawarkan kepastian mutlak, melainkan memberi orientasi. Politik tidak memberikan jawaban final, melainkan kemampuan menilai dengan baik dalam situasi yang selalu berubah; dan politik  yang melupakan kenyataan ini akan berubah menjadi ideologi.  Sebaliknya  politik yang mengingat dan menjaga hal ini dengan baik, ia tetap menjadi kebijaksanaan.

  • Mengapa Puisi Lebih Filosofis daripada Sejarah?

Dalam salah satu kalimat paling mengejutkan dalam seluruh tradisi filsafat Barat, Aristoteles menulis bahwa puisi lebih filosofis daripada sejarah. Pernyataan ini terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin kisah rekaan lebih filosofis daripada fakta?

Jawabannya sangat sederhana tetapi mendalam. Sejarah menceritakan apa yang terjadi. Puisi mengungkap apa yang dapat terjadi. Sejarah berbicara tentang seseorang. Puisi berbicara tentang manusia. Sejarah mencatat peristiwa. Puisi menyingkap pola. Karena itu puisi mampu menembus lapisan fakta menuju struktur terdalam kehidupan manusia. Ia memperlihatkan bagaimana ambisi melahirkan kejatuhan.

Bagaimana kesombongan mengundang kehancuran. Bagaimana cinta mengubah nasib. Bagaimana ketakutan menghasilkan kekerasan. Bagaimana keputusan kecil dapat mengubah seluruh arah sejarah. Di dalam puisi, kehidupan menjadi lebih jelas daripada kehidupan itu sendiri.

  • Mythos: Jiwa Tersembunyi Politik

Bagi Aristoteles, unsur terpenting puisi bukanlah tokohnya, melainkan mythos – alur tindakan yang menghubungkan peristiwa-peristiwa menjadi satu kesatuan bermakna. Setiap tindakan melahirkan akibat. Setiap akibat menjadi sebab bagi peristiwa berikutnya.

Setiap pilihan membuka masa depan tertentu dan menutup masa depan yang lain. Tidak ada kehidupan tanpa narasi. Tidak ada politik tanpa cerita. Bangsa-bangsa tidak hidup hanya dari konstitusi. Mereka hidup dari cerita tentang siapa diri mereka. Mereka bergerak karena gambaran tentang masa depan. Mereka bertahan karena keyakinan bahwa sejarah mereka memiliki makna.

Dalam arti inilah politik selalu mengandung unsur puitis. Bukan karena politik harus menjadi fiksi. Melainkan karena manusia hanya dapat bertindak jika mampu membayangkan tujuan yang belum ada. Tragedi sebagai Sekolah Kebijaksanaan Aristoteles memahami bahwa manusia sering belajar bukan dari keberhasilan, melainkan dari kehancuran.

Karena itu tragedi memiliki nilai politik yang besar. Ketika Oidipus jatuh, kita tidak hanya menyaksikan penderitaan seorang tokoh. Kita menyaksikan bagaimana suatu kesalahan penilaian berkembang menjadi bencana.

Kita melihat bagaimana keputusan-keputusan tertentu menciptakan rantai akibat yang tidak lagi dapat dihentikan. Kita mengenali pola. Dan karena kita mengenalinya, kita memperoleh kebijaksanaan. Tragedi mengajarkan sesuatu yang sering gagal diajarkan oleh teori: bahwa tindakan memiliki konsekuensi. Bahwa sejarah tidak pernah lahir dari kehampaan. Bahwa setiap kehancuran memiliki asal-usul. Bahwa nasib kolektif sering dimulai dari pilihan yang tampaknya kecil.

Di sinilah tragedi menjadi pendidikan politik. Ia mengajar tanpa berkhotbah. Ia membimbing tanpa memerintah. Ia mengubah tanpa memaksa. Puisi sebagai Penuntun Hermeneutis. Puisi tidak memberikan hukum. Puisi tidak mengeluarkan perintah. Puisi tidak menetapkan pasal-pasal.

Namun puisi melakukan sesuatu yang bahkan hukum tidak mampu lakukan: ia mengubah cara manusia melihat dunia. Puisi menyingkap makna. Ia memperlihatkan hubungan yang sebelumnya tersembunyi. Ia mengajarkan manusia membaca kehidupannya sendiri.

Karena itu fungsi pertama puisi adalah hermeneutis. Puisi membuat dunia dapat dipahami. Tetapi pemahaman tidak pernah netral. Cara kita memahami dunia menentukan cara kita bertindak di dalamnya.

Maka dari fungsi hermeneutis lahirlah fungsi normatif. Puisi tidak berkata: “Lakukan ini.” Tetapi ia memperlihatkan apa yang terjadi jika kita melakukannya. Puisi tidak berkata: “Jangan lakukan itu. Tetapi ia menunjukkan akibat dari tindakan tersebut.

Melalui representasi, puisi menghasilkan orientasi. Melalui narasi, puisi menghasilkan penilaian. Melalui imajinasi, puisi membentuk tindakan. Politik Membutuhkan Penyair. Di sinilah filsafat  Aristoteles menjadi sangat aktual.

Masyarakat tidak hidup hanya dari administrasi. Bangsa tidak bergerak hanya oleh anggaran. Negara tidak bertahan hanya dengan birokrasi. Manusia membutuhkan makna. Dan makna selalu lahir melalui bahasa, simbol, cerita, dan imajinasi.

Karena itu setiap proyek politik yang besar selalu mengandung dimensi puitis. Ia menawarkan gambaran tentang masa depan. Ia menyusun kisah bersama. Ia membentuk horizon harapan. Tanpa itu, politik berubah menjadi manajemen. Efisien mungkin, tetapi  ia dapat kehilangan jiwa.

Aristoteles mengingatkan bahwa manusia adalah zoon politikon, makhluk politik yang hidup melalui logos. Namun logos bukan hanya rasio yang menghitung; ia juga bahasa yang menafsirkan dan memberi arah.

Di sinilah penyair memperoleh peran politiknya. Bukan sebagai penguasa. Bukan sebagai legislator. Bukan sebagai filsuf-raja. Melainkan sebagai pembentuk dunia makna.

Penyair menjaga kemampuan masyarakat membayangkan yang adil. Menamai yang baik. Mengkritik yang buruk. Dan membukakan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan bersama.

  • Penutup

Sebagai akhir dari refleksi ini, baiklah diperhatikan peralihan dari polis politik menuju polis puitis.  Aristoteles menunjukkan bahwa politik dan puisi bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya berakar pada usaha yang sama, yaitu memahami tindakan manusia dan mengarahkannya menuju kehidupan yang baik.

Politik membutuhkan puisi karena manusia tidak hanya hidup dari fakta semata. Manusia hidup dari makna. Puisi membutuhkan politik karena makna selalu mencari bentuk dalam kehidupan bersama yang konkret.

Maka seorang penyair bukan sekadar seorang penghibur. Ia adalah penjaga imajinasi publik. Ia adalah penafsir pengalaman bersama. Ia adalah arsitek simbolik dari dunia yang belum ada. Barangkali  setiap polis yang besar lahir ketika para warga tidak hanya mengetahui realitas sebagaimana adanya, tetapi juga mampu membayangkan realitas sebagaimana seharusnya. Di titik inilah  puisi menjadi politik; dan politik yang benar kembali menemukan jiwanya. (Felix Baghi, SVD/Dosen Filsafat IFTK Ledalero)