Marianus Sae

sergap.id, JAKARTA – Marianus Sae muncul sebagai kandidat Gubernur terbaik dalam survei opini pakar bertajuk Mencari Kandidat Gubernur Terbaik NTT yang dirilis oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (LPP UI), Minggu (26/11/17) di Hotel NEO, Kupang. 

Sebanyak  302 orang pakar NTT berpartisipasi dan memberikan penilaiannya terhadap kandidat dalam survei ini.

Dalam rilis survei yang dimoderatori oleh Dr. Rufus Patty Wutun (Akademisi Undana) ini,  turut hadir tiga pembahas, yakni Prof. Dr. Hamdi Muluk (Ketua LPP UI),  Dr. David B.W Pandie (akademisi Undana) dan Michael Rajamuda Bataona (pengamat politik).

“Survei ini adalah bentuk partisipasi publik yang rutin dilakukan oleh lembaga yang saya pimpin. Tujuannya agar tercipta iklim seleksi kepemimpinan yang lebih baik dan mendorong Parpol agar dapat mencalonkan kandidat-kandidat terbaik di Pilgub demi kemajuan provinisi NTT,” ungkap Prof Hamdi Muluk.

Lebih lanjut Dia menambahkan, survei ini bertujuan agar masyarakat lebih memahami kualitas pemimpin yang akan dipilih, supaya tidak seperti beli kucing dalam karung.

“Jangan seperti selama ini, hanya terpaku pada popularitas dan elektabilitas calon,” ujarnya.

Survei opini pakar (opinion leader survey) yang dilakukan oleh LPP UI ini menilai dua dimensi besar yang harus ada dalam diri calon Gubernur, yaitu kompetensi dan karakter diri.

Dimensi kompetensi terdiri dari enam aspek penilaian, yaitu aspek visioner, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan memimpin, gaya kepemimpinan, kemampuan politik, serta kemampuan komunikasi politik.

Sedangkan dimensi karakter diri terdiri dari aspek integritas moral dan temperamen. Pada simulasi pertanyaan terbuka survei, para pakar di NTT menilai bahwa integritas moral adalah aspek paling penting yang harus dimiliki figur Gubernur NTT dibandingkan kompetensi.

Temuan survei ini mengungkapkan bahwa Marianus sae dinilai sebagai kandidat terbaik hampir di semua aspek, yaitu pada aspek visioner, kemampuan memimpin, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan politik, dan kemampuan komunikasi politik.

Sementara pada aspek integritas moral, gaya kepemimpinan, dan temperamen (emotional stability), Kristo Blasin dinilai pakar sebagai kandidat terbaik. Secara lebih rinci, untuk dimensi kompetensi, Marianus Sae berada di peringkat pertama dengan nilai rata-rata 7.22, diikuti Kristo Blasin di peringkat kedua dengan nilai rata-rata 6.88, dan Christian Rotok di peringkat tiga dengan nilai rata-rata 6.82.

Sedangkan pada dimensi integritas moral, Kristo Blasin berada di peringkat pertama dengan nilai rata-rata 7.04, diikuti Marianus Sae di peringkat kedua dengan nilai rata-rata 6.57, dan Christian Rotok di peringkat ketiga dengan nilai rata-rata 6.44.

Dr. David B.W Pandie (akademisi Undana) dalam kesempatan ini menyatakan bahwa survei ini harus dipahami sebagai penilaian pakar, bukan masyarakat biasa.

“Survei ini memberikan kita peta mengenai integritas, kompetensi, hingga elektabilitas kandidat dari para pakar. Ini hanya prediksi saja berdasarkan persepsi para pakar, mirip seperti perkiraan cuaca”, ungkap Dr. David.

Dia menambahkan “ini baru penilaian kandidat secara individu, akan lebih menarik lagi jika riset ini menilai kandidat yang sudah berpasangan”.

Di sisi lain, menurut Mikhael Rajamuda, sebuah survei bisa disebut kapabel atau tidak ditentukan oleh metodologi dan juga reputasi dari lembaganya.

“Dari hal reputasi, lembaga LPP UI dan Prof. Dr. Hamdi Muluk memiliki reputasi yang sudah diakui secara Nasional sehingga kredibilitasnya tidak diragukan lagi,” tegasnya.

Kedua tokoh ini sepakat bahwa hasil survei ini bisa menjadi bagian dari pendidikan politik bagi masyarakat NTT.

Sementara dalam simulasi tingkat keterpilihan terbuka tanpa memberikan nama tokoh (top of mind), Marianus Sae memiliki elektabilitas paling tinggi dari para pakar, yaitu sebesar 21.5 persen, bersaing  dengan Kristo Blasin di peringkat dua dengan elektabilitas sebesar 16.2%,  dan Eshton Foenay dengan elektabilitas sebesar 14.5 %.

Ada sebelas tokoh yang dinilai para pakar dalam survei, yaitu Jacky Uly, Lusia Adinda Lebu Raya, Melkiades Laka Lena, Daniel Tagu Dedo, Benny K Harman, Raymundus Fernandez, Ibrahim Agustinus Medah,Esthon Foenay, Christian Rotok, Kristo Blasin dan Marianus Sae.

Para tokoh ini dipilih berdasarkan kriteria rekam jejak dan prestasi, serta karena telah mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon Gubernur NTT.

Para pakar yang berpartisipasi dalam dalam survei ini 29.3% berlatar belakang sebagai akademisi, 14.1% dari kalangan profesional, pengamat politik sebanyak 0.7%, konsultan politik sebenayak 9.2%, tokoh masyarakat/budaya, agama sebanyak 19.9%, pers sebanyak 3.4%, tokoh partai sebanyak 0.3%, pebisnis sebanyak 9.8%, LSM sebanyak 4.0%, tokoh muda sebanyak 11.4%, dan pakar manajemen tata kota sebanyak 2.0 %.

Hasil survei ini juga mengungkapkan tokoh yang paling direkomendasikan dan tokoh yang paling tidak direkomendasikan oleh para pakar untuk menjadi Gubernur NTT yang baru.

Untuk tokoh yang paling direkomendasikan menjadi Gubernur NTT, Marianus Sae menempati prioritas pertama dengan dukungan 22.2% pakar. Lalu pada prioritas kedua, Esthon foenay  dipilih oleh 16.56 %  pakar. Sedangkan untuk prioritas ketiga ditempati oleh Raymundus Fernandez  dengan dukungan 12.6 % pakar.

Lebih lanjut, untuk tokoh yang paling tidak direkomendasikan pakar menjadi Gubernur NTT adalah Lusia Adinda Lebu Raya, yang dipilih oleh 40% pakar. Lalu pada prioritas kedua ditempati oleh Ibrahim Agustinus Medah yang dipilih oleh 14.9% pakar. Sedangkan pada prioritas terakhir, nama Lusia Adinda Lebu Raya kembali muncul sebagai tokoh yang paling direkomendasikan menjadi Gubernur NTT, dengan dukungan sebanyak 12.25% pakar. (sp/sp)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.