
sergap.id, KUPANG – Paroki Santo Yoseph Naikoten Kupang resmi memberlakukan skema iuran wajib bulanan bagi umat untuk membiayai pembangunan tiga menara baru dan pemugaran gereja dengan total anggaran mencapai Rp7,8 miliar. Program yang rencananya mulai berjalan Agustus 2026 itu akan berlaku selama lima tahun dan menyasar 1.445 kepala keluarga (KK) dengan nominal kontribusi mulai Rp25 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
Kebijakan tersebut langsung menyita perhatian umat karena diterapkan dalam jangka panjang, di tengah pengakuan panitia bahwa menara gereja yang baru berusia sekitar 25 tahun kini sudah rapuh dan berisiko jika terjadi gempa bumi besar saat misa berlangsung.
Kebijakan penggalangan dana itu diumumkan melalui surat resmi bernomor 96/PSY-NKT/V/2026 yang ditujukan kepada seluruh Ketua KUB, Ketua Wilayah, dan Ketua Stasi.
Dalam pedoman tersebut, umat diminta mendukung pembangunan melalui tiga bentuk kontribusi, yakni iuran wajib bulanan, sumbangan sukarela di luar iuran wajib, serta bantuan material bangunan.
Panitia membagi umat dalam empat kategori ekonomi, mulai dari pengusaha, pegawai negeri dan swasta, pensiunan, hingga umat berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan.
Besaran iuran pun bervariasi. Untuk kategori pengusaha, iuran ditetapkan antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per bulan per KK. Sementara PNS Golongan IV dan pegawai swasta setara diwajibkan membayar Rp200 ribu per bulan. Untuk umat berpenghasilan rendah, iuran ditetapkan antara Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per bulan.
Skema ini langsung menjadi perhatian umat karena masa pemberlakuannya sangat panjang, yakni lima tahun penuh.
“Dana digunakan sepenuhnya untuk pembangunan menara dan pemugaran Gereja Santo Yoseph Naikoten Kupang,” demikian isi pedoman tersebut.
Pengumpulan dana dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama, melalui Ketua KUB yang akan menghimpun iuran umat setiap bulan sebelum diserahkan kepada bendahara panitia pembangunan. Kedua, umat dapat mentransfer langsung ke rekening resmi panitia pembangunan.
Panitia juga meminta setiap KK mengisi formulir pernyataan kesanggupan sebelum program iuran dimulai. Formulir itu akan menjadi dasar administrasi pengumpulan dana di tingkat KUB.
Selain iuran wajib, panitia membuka ruang bagi umat yang ingin memberikan sumbangan tambahan maupun bantuan material bangunan.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa hanya ada dua rekening resmi yang digunakan, yakni rekening Bank NTT dan Bank Mandiri atas nama Panitia Pembangunan Gereja Santo Yoseph Naikoten.
Ketua I DPP, Frans Wayan, bersama Ketua Panitia Pembangunan, dr. Yovita Anike Mitak, MPH, menyampaikan apresiasi kepada umat atas dukungan dan semangat gotong royong membangun rumah ibadah.
Pedoman ini diketahui langsung oleh Pastor Paroki Santo Yoseph Naikoten, RD Yohanes Rusae.
Sementara itu, Ketua DPP II Paroki Santo Yoseph Naikoten, Adi Lamury, menjelaskan penggalangan dana tersebut sangat penting karena kondisi menara gereja saat ini sudah sangat rapuh.
“Tembok sudah keropos,” tegasnya kepada SERGAP, Jumat (29/5/2026).
Adi mengakui usia menara yang ada saat ini baru sekitar 25 tahun. Namun, menurutnya, kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan untuk dipertahankan.
“Usia 25 tahun sebenarnya masih muda. Tetapi diduga pembangunan dulu tidak terlalu memperhatikan kualitas material seperti pasir dan besi yang digunakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah dilakukan analisis, menara gereja dinilai berisiko apabila terjadi gempa bumi berkekuatan besar.
“Menara ini dibangun sejak tahun 2000. Setelah kami analisa, kalau terjadi gempa di atas 7 skala Richter, apalagi saat misa berlangsung, itu berbahaya. Memang Kupang tidak punya gunung berapi, tetapi kalau ada gempa besar di Flores atau wilayah lain yang dampaknya terasa sampai Kupang, itu sangat berisiko. Karena itu kami sepakat bongkar dan bangun baru,” katanya.
Rencana pembangunan tersebut, lanjut Adi, telah dikonsultasikan kepada Uskup Agung Kupang.
“Uskup menyarankan agar terlebih dahulu membangun komunikasi dengan umat. Karena itu sekarang kami sedang gencar melakukan sosialisasi,” katanya.
Adi juga mengungkapkan pihaknya sempat berkonsultasi dengan ahli terkait opsi perbaikan menara melalui metode penyuntikan retakan. Namun biaya yang dibutuhkan dinilai sangat besar.
“Akhirnya kami putuskan lebih baik bongkar total dan bangun baru. Tentu harus cari dana. Selain dari umat, kami juga membuka peluang donasi dari dalam maupun luar Kota Kupang,” jelasnya.
Saat ini jumlah umat tercatat sebanyak 1.445 KK. Berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), kebutuhan dana pembangunan diperkirakan mencapai Rp7,8 miliar untuk pembangunan tiga menara, pemugaran lantai gereja, plafon, dan atap.
Menurut Adi, apabila rata-rata kontribusi umat mencapai Rp100 ribu per KK setiap bulan, maka dalam lima tahun total dana yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp8,6 miliar.
“Kalau dalam dua tahun kebutuhan biaya sudah terpenuhi, maka skema sumbangan umat akan dihentikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini proses awal seperti uji laboratorium tanah untuk menentukan kedalaman fondasi menara sudah dilakukan. Panitia juga sedang menyusun gambar teknis dan menentukan konsultan dari Unika, Poltek, dan Undana.
“Mereka minta sekitar Rp50 juta dari pagu RAB konsultan sebesar Rp227 juta,” katanya.
Adi mengaku, efisiensi anggaran mulai terlihat. Salah satunya pada biaya pembongkaran menara yang awalnya dianggarkan Rp300 juta, namun ada kontraktor yang bersedia mengerjakannya dengan biaya Rp150 juta.
“Artinya sudah ada penghematan. Jadi potensi partisipasi umat tidak sampai lima tahun itu sangat mungkin,” ujarnya.
Saat ini panitia masih melakukan sosialisasi kepada umat. Rencananya, program partisipasi umat mulai berlaku pada Agustus 2026.
Selain mengandalkan partisipasi umat, panitia juga telah mengajukan proposal bantuan hibah kepada Pemerintah Provinsi NTT senilai Rp4 miliar.
“Kami sudah ajukan proposal kepada gubernur. Kalau disetujui, tentu akan sangat membantu,” katanya.
Adi menegaskan, umat bebas menentukan nominal kontribusi sesuai kemampuan masing-masing dan dapat menyetor secara tunai maupun melalui transfer bank.
“Bukti transfer diserahkan ke KUB. Mau transfer berapa, terserah. Umat menentukan sendiri masuk kategori mana sesuai kemampuan. Kalau ada hibah pemerintah, maka partisipasi umat tentu tidak sebesar pedoman awal,” ungkapnya.
Tiga menara yang akan dibangun nantinya dirancang dengan model klasik mengikuti arsitektur gereja-gereja Eropa lama. (cis/cis)






























