Dedy Karo, staf Karantina Pelabuhan Marapokot Mbay, Kabupaten Nagekeo.

sergap.id, MBAY – Dedy Karo, staf Karantina Pelabuhan Marapokot Mbay, Kabupaten Nagekeo, tak terima dugaan pungli pengiriman sapi dari Marapokot tujuan Jeneponto ditulis wartawan.

Sekitar pukul 22.07 Wita tanggal 9 Mei 2017 lalu, pria berkulit hitam yang mengaku sebagai ponakan kandung dari Bupati Kabupaten Ende Marsel Petu itu menelpon Kepala Biro SERGAP.ID Flores Lembata, Sherif Goa.

Kepada Sherif, Dedy mengaku tersinggung dengan pemberitaan tentang dugaan pemerasan yang terjadi di pelabuhan Marpokot yang ditulis SERGAP.ID tanggal 7 Mei 2017 lalu.

“Kenapa bapak (SERGAP.ID) harus investigasi? Memangnya bapak ini polisi? Saya sangat tersinggung dengan pemberitaan ini,” ucap Dedy.

Namun ketika akan ditanya kenapa tersinggung? Dedy malah menutup teleponnya.

Informasi yang dihimpun SERGAP.ID menyebutkan, Dedy tersinggung atau merasa terganggu, karena selama ini dia yang membekingi adik kandungnya bernama Deny dalam menjalankan bisnis jual beli hewan yang dikirim ke Jeneponto.

Perusahaan yang dipakai Deny dalam pengiriman itu adalah CV. Kelirando. Pengiriman biasa dilakukan melalui Pelabuhan Ropa, sebuah pelabuhan kecil di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende.

Masyarakat setempat menjuluki pelabuhan Ropa sebagai pelabuhan ‘tikus’. Sebab aktivitas di pelabuhan jauh dari pantauan aparat hukum.

Apalagi fasilitas pelabuhan sangat tidak layak untuk mengangkut hewan. Ternak yang akan diberangkatkan dipaksa berenang menuju kapal yang pasang jangkar jauh dari pelabuhan. Setelah itu, ternak ditarik paksa masuk ke dalam kapal.

Ternak yang dikirim pun tidak dilengkapi dengan dokumen resmi. BACA JUGA: Karantina Marapokot Diduga Peras Pengusaha Hewan Rp10 Juta Per Kapal

Dari bisnis ilegal ini, kabarnya, keuntungan yang didapat lumayan besar. Hasilnya dibagi dua. Dedy 50 persen, Deny 50 persen.

Hewan yang diangkut dari Pelabuhan Marapokot tujuan Jeneponto.

Dugaan Pungli

Dugaan praktek pungutan liar (pungli) yang terjadi di Pelabuhan Marapokot selama ini sudah menjadi rahasia umum bagi petugas karantina dan pengusaha hewan antar pulau di Kabuaten Nagekeo.

Setiap kapal yang muat hewan selalu dipalak Rp10 juta. Katanya untuk ‘jatah’ pimpinan.

Dalam sebulan paling sedikit ada 5 kapal yang mengangkut hewan dari Marapkot ke Jeneponto. Itu artinya ‘jatah’ pimpinan per bulan adalah Rp50 juta.

Kepala Karantina Pelabuhan Marapokot, Syukur, mengakui bahwa sering sekali terjadi selisih jumlah hewan yang dikirim dari Marpokot ke Jeneponto berdasarkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang di keluarkan oleh Dinas Peternakan Nagekeo dan Surat Keluar Hewan (SKH) yang diterbitkan oleh Karantina.

Jika dalam SKKH 80 ekor, maka dalam pemuatan hewan sesuai SKH bisa mencapai 200 ekor. “Iya memang sering terjadi selisih,” kata Syukur.

Apakah ini yang menjadi penyebab terjadinya pungli di Marapokot? Syukur tak bisa menjawab. Dia hanya tertunduk diam ketika ditanya SERGAP.ID.

Sejumlah pengusaha ternak di Nagekeo, mengaku, selisih antara SKKH dengan SKH itu menjadi alasan petugas Karantina Marapokot melakukan pungli. “Praktek ini sudah berjalan lama,” kata salah satu pengusaha ternak yang meminta namanya tidak ditulis. (Sherif)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.