Keluarga Markus Usu dan almarhum Mikael Waso saat menghadang aparat Polres Nagekeo yang hendak menanam plang hak kepemilikan tanah Polres Nagekeo.
Keluarga Markus Usu dan almarhum Mikael Waso saat menghadang aparat Polres Nagekeo yang hendak menanam plang hak kepemilikan tanah Polres Nagekeo.

sergap.id, MBAY – Pembangunan gedung kantor Polres Nagekeo akan dilaksanakan pada tahun 2021 dengan dana sebesar Rp 6 miliar.

Demikian disampaikan Kapolres Nagekeo, AKBP. Agustinus Hendrik Fai, SH.M.Hum, usai pemasangan plang di lokasi tanah milik Polres Nagekeo di Guru Aga, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Selasa (17/11/20).

Menurut Hendrik, pemasangan plang tersebut berdasarkan sertifikat Hak Pakai Nomor: 24.17.01.01.4.00.10.4, dengan luas lahan 25,320 M2.

“Kita punya bukti kuat dan secara hukum kita sudah punya bukti yang kuat,” tegasnya.

Hendrik menjelaskan, pada awal anggotanya menuju lokasi untuk pasang plang, sempat terjadi keributan kecil dengan keluarga Markus Usu yang selama ini tinggal di lokasi milik Polres Nagekeo.

“Tetapi setelah negosiasi, akhirnya anggota saya tetap memasang plang,” ungkap Hendrik.

Hendrik menegaskan, pembangunan gedung kantor Polres Nagekeo akan dilakukan pada tahun depan.

“Dananya sudah ada dan besarnya Rp 6 miliar lebih. Dalam Dipa direncanakan pada tahun 2021 kita sudah bangun gedungnya. Saya meminta dukungan semua pihak agar proses pembangunan berjalan aman dan lancar,” jelasnya.

Hendrik meminta Markus Usu untuk menempuh jalur hukum jika merasa  tidak puas.

“Sampai hari ini Markus masih mengklaim bahwa tanah itu miliknya,” kata Hendrik.

Pantauan SERGAP di lokasi, puluhan aparat Polres Nagekeo bersama Sat Pol PP nyaris bentrok dengan keluarga besar almarhum Mikael Waso dan Markus Usu yang mendiami tanah milik Polres Nagekeo pada Selasa (17/11/20) pagi.

Tanah tersebut berlokasi di depan jalan negara Soekarno Hatta, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, (samping kantor Diskoperindag Nagekeo).

Keributan bermula saat sejumlah aparat hendak menanam plang kepemilikan tanah Polri seluas 25,320 M2 dengan nomor sertifikat hak pakai 24.17.01.01.4.00.10.4.

Keluarga Markus Usu dan almarhum Mikael Waso tiba-tiba menyerobot dan menghadang rombongan aparat yang hendak menanam plang. Perang mulut antara keluarga Markus Usu dan aparat tak terelakan.

“Ini tanah kami, tanah nenek moyang kami, kami tidak pernah merasa menyerahkan tanah ini ke Pemda atau Polisi. Panggil itu siapa yang menyerahkan tanah ini, panggil itu Bupati kami mau omong,” kata Markus Usu berteriak keras.

Keributan tersebut menjadi tontonan warga dan sempat membuat macet lalu lintas.

Menurut Markus Usu, tanah tersebut merupakan  warisan nenek moyangnya dari suku Dhawe. Lokasi tersebut awal mula didiami oleh almarhum kakeknya bernama Rega yang kemudian diwariskan kepada ayahnya Hendrikus Ma’u.

Kata Markus, tanah seluas 1 hektar ini mereka diami sejak tahun 1983.

Markus mengatakan, sejak jaman almarhum ayahnya, keluarga besarnya tidak pernah merasa menyerahkan tanah itu kepada siapa pun, baik Pemda maupun kepada pihak kepolisian.

Markus mengklaim dirinya memiliki bukti kepemilikan tanah berupa buku hijau yang diterbitkan oleh Pemerintah Propinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 1994.

“Memang tidak ada sertifikat karena kami mau urus pihak pertanahan tidak kasi keluar sertifikat, dari almarhum bapak saya hanya ada buku hijau ini,” ungkapnya.

Ferdinandus mengaku saat ini pihaknya sudah membuat laporan resmi terkait persoalan sengketa tanah tersebut ke Pengadilan Negeri Ngada. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.