Seldy Berek mewakili SERGAP dalam acara Balibo Five tahun 2019 di Balibo, Distrik Bobonaro, Timor Leste. Acara ini untuk mengenang sekelompok jurnalis Australia yang tewas dibunuh di Balibo pada tanggal 16 Oktober 1975.
Seldy Berek mewakili SERGAP dalam acara Balibo Five tahun 2019 di Balibo, Distrik Bobonaro, Timor Leste. Acara ini untuk mengenang sekelompok jurnalis Australia yang tewas dibunuh di Balibo pada tanggal 16 Oktober 1975.

sergap.id, KUPANG – Sejak ditugaskan di Kabupaten Malaka pada tahun 2017, Seldy Berek getol menulis kasus dugaan korupsi yang terjadi di tubuh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka. Ia juga kerap menulis kasus perjudian di daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste itu.

Namun disaat yang sama, dia harus berhadapan dengan oknum-oknum yang tidak ingin ada pemberitaan tentang dugaan korupsi dan perjudian. Alhasil dia sering mendapat teror, salah satunya ancaman akan dibunuh.

Ketika Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) belum buka suara melarang semua bentuk perjudian di NTT, termasuk di Malaka, kabupaten ini dikenal sebagai kawasan perjudian bebas. Bahkan permainan yang dilarang oleh semua agama itu dibackup oleh orang-orang yang punya kuasa.

Para tokoh agama di sana kewalahan menghadapi masalah sosial ini. Beberapa diantara mereka lantas menghubungi Seldy agar menulis praktek perjudian itu. Hasilnya Seldy diancam akan dibunuh. Bahkan ia dicari hingga ke rumahnya.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polda NTT, namun sayang, hingga hari ini, proses hukum kasusnya tak jelas.

Walau begitu, Seldy tak patah semangat. Ia kembali ke Malaka dan kembali menulis tentang ketidakadilan yang terjadi di kampung halamannya itu.

Sejumlah kasus dugaan korupsi dibongkarnya, diantaranya:

  1. Kasus dugaan korupsi pengadaan bibit bawang di Dinas Pertanian Kabupaten Malaka yang merugikan negara Rp 4,9 miliar.
  2. Kasus dugaan korupsi pembangunan Unit Ruang Sekolah Baru (USB) SMA Negeri Wederok, Kecamatan Weliman, senilai Rp 2,1 miliar.
  3. Kasus proyek pembangunan tembok perkuatan tebing di Desa Naimana, Kecamatan Malaka Tengah senilai Rp 3.287.095.000 yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun anggaran 2016.
  4. Kasus dugaan korupsi pengadaan lampu sehen sebanyak 1.529 unit pada tahun anggaran 2016 senilai Rp 6.792.404. 000 dan 268 unit pada tahun anggaran 2017 senilai Rp 1.130.131.000.
  5. Kasus pembangunan rumah tunggu Puskesmas Fahiluka di Kecamatan Malaka Tengah senilai Rp 440 juta.

Karena itu, sejumlah pihak berupaya untuk membungkamnya dengan uang dan fasilitas lain. Namun ia tak bergeming. Ia tetap kukuh menjalankan tugas mulianya sebagai seorang wartawan.

Beberapa waktu yang lalu ia kembali membuat heboh jagat Malaka dengan beritanya yang berjudul Kapolri dan Panglima TNI Diminta Tindak Tegas Kapolres Malaka dan Dandim Belu. Pasca berita ini meledak, kabar tak sedap mulai menghinggapi telinganya.

Dari salah seorang informan Sergap yang juga seorang anggota polisi, diketahui Seldy diancam akan ditembak mati. Bersamaan dengan itu beredar rumor kalau Seldy akan ditetapkan sebagai tersangka.

Kasusnya apa? Itu akan dicari! Begitulah cerita dari mulut ke mulut.

Benar saja, tak lama setelah rumor itu beredar, Sabtu 16 Mei 2020 kemarin, Seldy dipanggil polisi.  Bahkan dalam surat bernomor: SP/321/V/2020/Reskrim Polres Malaka itu, Seldy telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat pengaduan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kabupaten Malaka, Loresnz Lodiwyk Haba dan laporan polisi nomor: LP/15/IV/2020/SPKT/Polres Malaka tanggal 25 April 2020.

Seldy mengaku ia sama sekali belum pernah dipanggil atau diperiksa oleh polisi. “Saya sendiri tidak tahu saya ada salah apa,” kata Seldy.

Walau begitu Seldy tetap akan memenuhi panggilan polisi, sekaligus bisa mengetahui perkara apa yang sedang ia hadapi.

Besok, Senin 18 Mei 2020 pukul 10 pagi, Seldy akan memenuhi panggilan polisi. Ia akan didampingi oleh sejumlah aktivis anti korupsi dan sejumlah pengacara yang tahu betul kiprah Seldy sebagai wartawan di Malaka.

Para pengacara tersebut diketuai oleh Melkianus Conterius Seran, SH dengan anggota Wilfridus Son Lau , SH, MH, Silvester Nahak, S.H, Ferdinandus Eduardus Tahu Maktaen, SH, dan Meridian Dewanta Dado, SH.

Helen Keller, penulis hebat dari Amerika Serikat era 1880-1968, mengatakan, kebenaran akan selalu mencari jalan untuk mengungkapkan dirinya sendiri. Dan, di dalam kebenaran selalu ada telinga yang mendengar. (cs/cs)

1 COMMENT

  1. Gas terus jgn ko rem….

    Sesuatu yg baik belum tentu benar
    Tapi yg benar itu baik…

    Pemilik kebenaran itu milik kita….
    Jangan perna merasa pesimis
    Tuhan selalu melindungi.

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.