Rapat perumusan Perdes penertiban ternak di Desa Hale.

sergap.id, HALE – Wahana Tani Mandiri (WTM) dan Pemerintah Desa (Pemdes) Hale mulai merumuskan Peraturan Desa (Perdes) tentang penertiban ternak.

Perdes ini dibuat karena banyaknya ternak masyarakat yang di lepas berkeliaran bebas di wilayah Hale.

Rumusan Perdes tersebut merupakan kelanjutan dari studi Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) yang dilakukan kader tani WTM bekerja sama dengan Critycal Ecosystem Parthnersip Fund (CEPF) melalui program Improving Ecosystem Manajemen dan Livehoods in Egon Mountion Indonesia.

Studi itu lantas merekomendasikan beberapa perumusan Perdes sebagai jawaban atas masalah yang ditemukan di Desa Hale.

Karena itu dibentuklah tim perumus Perdes yang dikoordinir oleh BPD Hale bersama Aparatur Desa, Pendidik, Kader Tani, Tokoh Perempuan, Konsultan Hukum, dan Staf WTM.

Sebagai langka awal  dari kegiatan itu dibuatlah identiftikasi untuk menentukan permasalahan yang mendesak dan solusi, serta dilanjutkan dengan Analisa Roccipi sebagai salah satu langkah perumusan Perdes.

Kegiatan analisa Roccipi ini difasilitasi oleh Yohanes S. Kleden (PBH Nusra) yang dihadiri Wihelmus Woda (Koordinator Advokasi) dilakukan di Kantor Desa Hale tanggal 10 hingga 11 Mei 2017.

Perumusan Perdes penertiban ternak di Desa Hale.

Kepada SERGAP.ID, pada Sabtu (13/5/2017), Yohanes S. Kleden, mengatakan, pihaknya, mencoba mereview hasil studi PSDA dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemukan dalam penelitian.

“Di Desa Hale ada banyak masalah yang ditemukan, diantaranya hutan rusak, ternak berkeliaran. Karena itu perlu diatur karena sesuai kearifan yang ada bahwa dalam istilah adat sering terdengar istilah Wihing Wawi Peni Manu. Karena itu ternak yang berkeliaran perlu diatur dalam Perdes,” kata Kleden.

Menurut dia, tim perumus dibagi dalam dua kelompok guna melakukan analisis dengan metode ROCCIPI (Role = Aturan, Opportunity=Peluang/Kesempatan, Capacity=Kapasitas, Communication=komunikasi, Interest=Kepentingan, Process=Proses dan Ideology=Sikap dan Nilai).

Dari analisis yang ada, ditemukan beberapa aktor dalam masalah ternak, yakni pemilik ternak, Pemdes, Masyakat dan lembaga adat. “Dari beberapa aktor ini kemudian dianalisa, apakah perilaku bermasalah, penyebab perilaku bermasalah dan solusi,” paparnya.

Jika sudah oke, maka tinggal disepakati naskah akademisnya, dan draf Perdes siap didiskusikan di tiga dusun di Desa Hale.

Dengan demikian, Perdes yang dirumuskan ini mendapatan berbagai masukan dari masyarakat untuk disempurnahkan dan kemudian dikonsultasikan dengan bagian Hukum Pemdes dan Bagian Hukum Setda Sikka agar mendapatkan nomor registrasi.

Yani, Ketua BPD Hale, memberi apreseasi kepada WTM yang telah memfasilitasi pembentukan Perdes. Setidaknya tim perumus telah memiliki pengetahuan tentang bagaimana membuat Perdes yang baik dan benar. (Jhon)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.