Gereja Nele dulu dan sekarang!
Gereja Nele dulu dan sekarang!

sergap.id, KISAH – Tahun 2026 menjadi penanda bersejarah: Paroki Roh Kudus Nelle genap 105 tahun sejak berdiri pada 1921. Lebih dari sekadar angka, usia ini adalah jejak panjang iman dibangun dari pengorbanan, darah martir, dan keteguhan pewartaan lintas abad.

Jejak itu bermula jauh dari Flores. Dari Goa, India Selatan, benih Kekristenan ditanam sejak abad pertama oleh Santo Thomas Rasul pada tahun 52 Masehi. Dari titik ini, kabar kasih Tuhan mengalir ke timur melintasi Malaka, Solor, Larantuka, hingga akhirnya berakar kuat di Maumere, Sikka, termasuk Nelle.

Masuknya iman Katolik ke wilayah ini bukan tanpa harga. Tahun 1566 menjadi babak penting ketika dua misionaris Dominikan, P. João Baptista da Fortalezza, OP dan P. Simao da Madre de Deus, OP, diutus dari Larantuka untuk menjangkau pesisir selatan Flores. Mereka berkarya di Paga dan Sikka, membuka jalan bagi tumbuhnya komunitas iman.

Namun sejarah mencatat tragedi berdarah.

Dalam perjalanan kembali menuju Larantuka, badai laut menggiring mereka ke Lamalera. Di sana, konflik memuncak. Demi menyelamatkan 90 warga yang ditawan, kedua imam ini memilih menyerahkan diri. Mereka tahu risikonya: penyiksaan brutal dan kematian keji. Tubuh mereka dihancurkan, tetapi iman mereka tak tergoyahkan.

Mereka pun gugur sebagai martir. Namun kematian mereka bukan akhir, justru menjadi awal. “Jika biji gandum tidak jatuh dan mati, ia tetap satu; tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah.” Darah para martir pun menyuburkan tanah misi. Iman bertumbuh.

Peristiwa 20 Januari 1621 itu mengguncang banyak pihak. Bahkan dua panglima Benteng Solor yang menyaksikan kekejaman tersebut berbalik arah masuk Katolik dan menguburkan jasad para martir dengan hormat.

Memasuki abad ke-19, tongkat estafet diambil alih oleh para Yesuit. Tahun 1868, P. Cornelius J. Omtzigt, SJ menemukan sekitar 6.000 umat Katolik di wilayah Maumere, angka yang mengejutkan dan menandakan pertumbuhan pesat.

Dari sini, misi berkembang sistematis. Sekolah didirikan, pendidikan iman diperkuat, dan kader awam dilatih. Stasi demi stasi bermunculan: Sikka, Koting, Lela, Nita, hingga Nelle. Pada awal abad ke-20, Nelle telah menjadi salah satu basis umat terbesar.

Pewartaan tak hanya lewat mimbar, tetapi juga melalui budaya. Para misionaris menyusun katekismus lokal, menerjemahkan Kitab Suci, dan membangun pendekatan yang membumi. Iman tidak dipaksakan, ia ditanam, dirawat, dan dibiarkan tumbuh. Hingga akhirnya, pada 1921, Paroki Roh Kudus Nelle resmi berdiri.

Kini, setelah lebih dari satu abad, Nelle bukan lagi sekadar wilayah administratif gereja. Ia adalah simbol perjalanan iman yang ditempa oleh sejarah Panjang, dari pengorbanan para martir, kerja keras misionaris Dominikan, Yesuit, hingga Serikat Sabda Allah. Dan, Paroki Roh Kudus Nelle tetap berdiri dalam bingkai kasih Allah, dulu, kini, hingga selamanya. (Disarikan oleh chris parera dari buku Satu Abad Paroki Roh Kudus Nele dengan judul Tetap Tegar Di Tengah Badai)