Polisi kini dihadapkan pada pekerjaan besar: mengurai apakah ini kejahatan individual atau bagian dari konflik terorganisir yang lebih luas.
Polisi kini dihadapkan pada pekerjaan besar: mengurai apakah ini kejahatan individual atau bagian dari konflik terorganisir yang lebih luas.

sergap.id, TUAL – Penikaman yang menewaskan Agrapinus Rumatora alias Nus Kei di pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026), diduga bukan sekadar tindak kekerasan spontan. Di balik serangan yang terjadi di ruang publik itu, muncul pola relasi lama, konflik yang belum tuntas, hingga keterkaitan keluarga yang membuka lapisan baru dalam kasus ini.

Dua orang telah diamankan polisi, yakni HR (28) dan FU (36). Nama HR – Hendrikus Rahayaan -menjadi sorotan utama. Ia disebut-sebut sebagai ponakan John Kei, figur yang selama ini terkenal di pusaran konflik antar kelompok di Jakarta. Koneksi ini langsung memantik spekulasi: apakah ini aksi personal, atau bagian dari rangkaian konflik lama yang belum padam?

Hendrikus bukan sosok tanpa rekam jejak. Lahir di Watran, Kota Tual, 6 Desember 1997, ia dibesarkan di Desa Hollat, Kei Besar. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini sempat menempuh pendidikan hukum di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang.

Di dunia olahraga, namanya cukup dikenal. Ia pernah menjuarai Kejuaraan Muaythai Open Se-Jawa kelas Senior Elite 63,5 kg pada April 2025 di Semarang. Sekembalinya ke Maluku, Hendrikus bergabung dengan Sasana 3H Gym dan mengoleksi sejumlah prestasi, diantaranya emas Wushu di Pekan Olahraga Provinsi Maluku, dua emas di ajang One Pride MMA, emas Pra-PON, hingga perunggu di PON.

Namun rekam prestasi itu kini kontras dengan dugaan keterlibatannya dalam aksi penikaman brutal terhadap Nus Kei.

  • Kronologi

Pukul 10.45 WIT, pesawat Lion Air JT880 mendarat dari Ambon. Nus Kei dijemput keluarga dan sempat berbincang di area pintu keluar bandara. Beberapa menit kemudian, seorang pria berjaket merah dan bermasker mendekat lalu menikam korban.

Serangan berlangsung cepat. Kakak korban, Antonius Rumatora, sempat melawan dan menjatuhkan pelaku. Namun pelaku berhasil meloloskan diri. Nus Kei yang terluka sempat berusaha menyelamatkan diri ke dalam area bandara, sebelum akhirnya tumbang di pintu keluar.

Pada pukul 11.44 WIT, setelah sempat mendapat penanganan medis, nyawanya tak tertolong.

Pertanyaannya: apakah pelaku sudah mengetahui jadwal kedatangan korban? Jika ya, ini mengarah pada aksi yang direncanakan, bukan kebetulan.

  • Motif Lama: Dendam yang Menyala Kembali

Dugaan kuat mengarah pada konflik lama antara Nus Kei dengan John Kei terkait masalah tanah di Maluku. Seperti diketahuii, pada 29 Oktober 2023, bentrokan di Bekasi menewaskan satu anggota kelompok Nus Kei akibat tertembus peluru. Tembakan tersebut diduga datang dari kelompoknya John Kei.

Relasi Nus Kei dengan John Kei sendiri penuh kontradiksi. Nus Kei pernah mengklaim bahwa John Kei adalah keponakannya, namun dibantah oleh John Kei. Jhon Kei justru menyebut dirinyalah yang membawa Nus Kei ke Jakarta hingga Nus Kei memiliki ‘nama besar’ di Jakarta. Hubungan keduanya pun terus memburuk seiring waktu.

Jika Hendrikus benar merupakan ponakan John Kei, maka garis konflik ini menjadi lebih personal, bukan sekadar antar kelompok, tetapi juga menyentuh relasi keluarga yang retak.

BACA JUGA: Detik-Detik Terakhir Nus Kei

Kasus ini masih menyisakan sejumlah lubang:

Apakah Hendrikus bertindak sendiri atau bagian dari jaringan?

Sejauh mana peran FU dalam peristiwa ini?

Apakah ada perintah, atau murni aksi balas dendam pribadi?

Bagaimana pelaku bisa mengetahui secara presisi waktu kedatangan korban?

BACA JUGA: Jejak Nus Kei di Panggung Politik hingga Dunia Premanisme

Polisi kini dihadapkan pada pekerjaan besar: mengurai apakah ini kejahatan individual atau bagian dari konflik terorganisir yang lebih luas. (le/cis)