
sergap.id, NGADA – Satu demi satu penjaga sejarah pergi meninggalkan dunia. Kali ini, Kabupaten Ngada kehilangan sosok yang selama puluhan tahun menjadi penutur sejarah, penjaga tradisi, sekaligus penghubung antara masa lalu dan masa depan. Namun kini dia telah berpulang.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang tokoh adat atau budayawan. Ngada kehilangan seorang manusia yang menjadikan hidupnya sebagai persembahan bagi sejarah, budaya, dan identitas masyarakatnya.
Dosen Filsafat IFTK Ledalero, Pater Feliks Baghi menyebut Daud L. Bara sebagai sosok yang tidak hanya menulis sejarah, tetapi menghidupinya.
“Ada orang yang menulis sejarah dengan tinta. Ada pula yang menuliskannya dengan hidupnya sendiri. Daud L. Bara adalah salah seorang di antaranya,” ungkap Pater Feliks.
Bagi banyak orang, Daud L. Bara adalah ensiklopedia hidup tentang Ngada. Di setiap tutur katanya tersimpan kisah para leluhur. Di setiap retorikanya mengalir sejarah yang nyaris terlupakan. Ia menghidupkan kembali cerita-cerita lama agar tetap menjadi bagian dari jati diri masyarakat Ngada.
Sebagai tokoh budaya, ia percaya bahwa kebudayaan bukan benda mati yang disimpan di museum. Budaya adalah napas kehidupan yang harus terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, ia tak pernah lelah mengajarkan sejarah, adat, dan filosofi kehidupan orang Ngada kepada siapa pun yang ingin belajar.
Sebagai sejarawan tutur, Daud L. Bara merangkai kembali serpihan kisah para leluhur. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini agar masyarakat tidak tercerabut dari akarnya. Baginya, bangsa yang kehilangan sejarah perlahan akan kehilangan identitasnya sendiri.
Kemampuan bertuturnya membuat setiap kisah terasa hidup. Ia tidak sekadar mengingat nama tokoh atau peristiwa, tetapi mampu menjelaskan tempat, waktu, dan makna di balik setiap sejarah yang diceritakannya.
Sebagai ahli retorika, ia mengajarkan bahwa kata-kata bukan hanya alat berbicara, melainkan rumah bagi kebenaran, jembatan persaudaraan, dan benteng yang menjaga martabat budaya.
Dalam kehidupan beriman, Daud L. Bara memperlihatkan bahwa adat dan iman bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam penghormatan kepada Tuhan, leluhur, dan sesama manusia.
Sebagai mosa laki Sa’o Ria Sawi Sadha Laja, ia memikul amanah leluhur dengan rendah hati. Ia menjaga bukan hanya rumah adat, tetapi juga nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat Ngada selama berabad-abad.
Kini sang penutur telah terdiam. Namun cerita-cerita yang diwariskannya akan terus hidup dalam setiap perayaan Reba, setiap syair adat yang dilantunkan, setiap pelataran sa’o, di bawah ngadhu dan bhaga, serta dalam setiap anak Ngada yang bertanya tentang asal-usulnya.
Wakil Bupati Ngada, Berny Dhey Ngebu (BDN), mengaku sangat kehilangan sosok yang selama ini dikenal sebagai salah satu ahli sejarah terbaik yang dimiliki Ngada.
“Kita kehilangan salah satu putra terbaik Ngada, sekaligus ahli tentang sejarah Ngada. Beliau banyak tahu tentang peristiwa-peristiwa penting di Ngada, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Beliau sangat hafal dan paham tentang sejarah,” ujar BDN.
Menurutnya, daya ingat almarhum tetap luar biasa meski usianya telah lanjut. Setiap kisah yang disampaikannya selalu rinci, lengkap dengan tempat dan waktu kejadian.
“Beliau ini juga orangnya sangat rendah hati. Kami benar-benar kehilangan. Semoga surga menjadi tempat terakhirnya,” tutur BDN.
BDN menyampaikan bahwa jenazah Daud L. Bara akan dimakamkan di Laja pada Minggu, 12 Juli 2026.
Kepergian Daud L. Bara menandai berakhirnya satu bab penting dalam perjalanan sejarah lisan Ngada. Namun warisan yang ia tinggalkan tidak akan ikut terkubur. Selama adat masih dijunjung, Reba masih dirayakan, syair leluhur masih dilantunkan, dan generasi muda masih mencintai budayanya, nama Daud L. Bara akan terus dikenang sebagai penjaga ingatan, perawat identitas, dan pelita budaya Ngada.
Requiescat in pace. Selamat jalan, Daud L. Bara. Terima kasih telah menjaga sejarah agar tetap hidup. (sg/cp)































