Juru Bicara Posko Pencegahan dan Penanggulangan (3P) Covid-19 Kabupaten Nagekeo, Silvester Teda Sada.
Juru Bicara Posko Pencegahan dan Penanggulangan (3P) Covid-19 Kabupaten Nagekeo, Silvester Teda Sada.

sergap.id, MBAY – Bupati Kabupaten Nagekeo, Yohanes Don Bosco Do, meminta seluruh masyarakat Nagekeo untuk tetap tinggal di rumah. Sebab di Nagekeo ada 414 orang yang baru datang dari tempat terjangkit virus corona atau Covid-19.

Berdasarkan data Surveilans Harian Dinas Kesehatan Nagekeo pada Sabtu (28/3/20) pukul 15.00 Wita, jumlah Pelaku Perjalanan dari Tempat Terjangkit (P2T2) yang datang ke Nagekeo telah mencapai 414 orang.

Juru Bicara Posko Pencegahan dan Penanggulangan (3P) Covid-19 Kabupaten Nagekeo, Silvester Teda Sada, menjelaskan, P2T2 yang masuk ke Nagekeo datang dari Sulawesi 87 orang, Jakarta 68 orang, Jawa Timur 60 orang, Bali 41 orang, Kalimantan 39 orang, dan Malaysia 31 orang.

P2T2 ini paling banyak diperiksa di Puskesmas Danga, yakni 219 orang, dan Puskesmas Boawae 82 orang.

Pada Kamis (26/3/20), jumlah P2T2 tercatat sebanyak 351 orang, namun pada Jumat 27 Maret 2020 meningkat menjadi 381 orang.

“Berdasarkan data Surveilans Harian Dinas Kesehatan Nagekeo pada Sabtu (28/3/20) pukul 15.00 WITA, P2T2 meningkat menjadi 414 orang,” papar Silvester kepada SERGAP, Sabtu (28/3/20) sore.

Kata Silvester, setelah diperiksa suhu badannya, para P2T2 diwajibkan melakukan karantina mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. Dan, bila dalam waktu 14 hari ada gejala batuk pilek dan demam, maka segera melapor ke petugas kesehatan di Desa atau Puskesmas terdekat guna dapat segera mendapat perawatan medis.

Selain P2T2, di Nagekeo juga terdapat Orang Dalam Pantauan (ODP) Covid-19, yakni sebanyak 17 orang. Karena itu, “Bupati meminta masyarakat untuk tetap tinggal di rumah,” tegas Silvester.

Menurut Silvester, rata-rata P2T2 dan ODP berusia antara 2 bulan sampai 48 tahun. Sementara dari 17 ODP yang terdata, 3 orang sedang di rawat di Puskesmas dan kondisinya mulai membaik, sementara 14 lainnya masih menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

“Semua ODP tetap dipantau keadaannya dan harus tetap melakukan isolasi diri,” ucapnya.

Sivester merinci, 17 ODP dalam pengawasan itu tersebar di enam kecamatan di Nagkeo, yakni di Puskesmas Danga 8 orang, Puskesmas Boawae 4, Puskesmas Mauponggo 1, Puskesmas Jawakisa 2, Puskesmas Maunori 1, dan Puskesmas Nangaroro 1.

Silvester pun menghimbau agar masyarakat tetap tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), walau Nagekeo masih berstatus negatif Covid-19.

“Wajib jaga jarak. Bagi ODP dan P2T2 wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Mereka ini tetap dipantau kesehatannya oleh para medis,” ujarnya.

“Masyarakat wajib tinggal di rumah. Bagi yang sakit dan berstatus ODP, harus menggunakan masker atau kain penutup hidung dan mulut untuk mencegah penularan kepada orang lain. Dan, bagi masyarakat yang sehat, bila sangat perlu melakukan aktifitas di luar rumah, harus tetap menjaga jarak fisik minimal 1 meter dengan orang lain,” tandas Silvester.

Palang Jalan di depan Posko Siaga Covid-19 di Dusun Perengating, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,
  • Alat Ukur Suhu Badan Rusak

Petugas medis yang betugas di Posko Siaga Covid-19 di Dusun Perengating, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, mengaku kewalahan mendeteksi virus corona pada warga yang melintas di daerah itu. Sebab satu-satunya alat pengukur suhu badan yang dimiliki petugas Posko Perengating telah rusak.

Selain alat pengukur suhu rusak, Posko Perengating juga tidak memiliki Alat Pelindung Diri (ADP) yang memadai.

“Yang kami gunakan ini adalah masker, sarung tangan, dan pelindung wajah yang saya dan teman-teman buat sendiri,” beber Matilde Wea Duga, salah satu petugas Posko Perengating kepada SERGAP, Sabtu (28/3/20) sore.

Menurut Matilde, di Posko Perengating ada 10 petugas yang didampingi 3 anggota Satgas Keamanan, yakni 1 anggota TNI, 1 Polisi, dan 1 Pegawai dari Kantor Kecamatan Aesesa.

Jam kerja pada posko yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada itu mulai berlaku pukul 08.00 sampai 21:00 Wita.

“Tadi siang sekitar jam 2, alat itu rusak. Kami disini pengukur suhu badan hanya satu. Sementara jumlah warga yang melintas sangat banyak. Hari ini saja ada 230 orang yang melintasi, sebagiannya sudah kami periksa suhu badannya, tapi yang lain kami hanya minta mereka cuci tangan,” ujar Matilde.

Para Petugas Kesehatan dan Satgas Keamanan Posko Siaga Covid-19 di Dusun Perengating, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,

Petugas Posko Perengating lainnya, yakni Maria Brigita Kondo, mengatakan, alat ukur suhu badan yang dimiliki Posko Perengating adalah alat ukur suhu badan yang cara pemakaiannya diletakan pada balik ketiak.

Karena itu, banyak warga yang protes. Sebab alat ukur itu dipakai dari satu ketiak ke ketiak yang lain. Apalagi ada warga yang ketiaknya sedang berkeringat tapi tetap harus diukur suhu badannya dalam rangka mencegah penyebaran virus corona di Nagekeo.

Maria berharap Dinas Kesehatan Nagekeo segera mendatangkan alat ukur suhu tubuh termometer demam Virus Corona, agar ia dan teman-temannya dapat mendeteksi virus corona dengan baik dan benar. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.