Maria Yosephina Morukh, guru SDK Kaenbaun, di Desa Kaenbaun, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi, Provisi Nusa Tenggara Timur, saat berbicara langsung dengan mendikbud RI, Nadiem Anwar Makarim.
Maria Yosephina Morukh, guru SDK Kaenbaun, di Desa Kaenbaun, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi, Provisi Nusa Tenggara Timur, saat berbicara langsung dengan mendikbud RI, Nadiem Anwar Makarim.

sergap.id, INSPIRASI – Maria Yosephina Morukh, guru SDK Kaenbaun, di Desa Kaenbaun, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi, Provisi Nusa Tenggara Timur, berkesempatan berbicara langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim.

Kesempatan ini didapat Maria setelah suratnya kepada Nadiem terpilih sebagai surat yang paling menginspirasi di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 saat ini.

“Saya gugub, tapi saya senang sekali bisa bicara langsung dengan Mas Menteri,” ujar Maria.

Kepada Nadiem, Maria bercerita tentang keadaan dunia pendidikan di sekolahnya.

“Saya ini mengajar di daerah pedalaman. Jaringan internet sangat susah. Jika ada tugas-tugas online, anak-anak selalu cari tempat ketinggian, naik ke gunung untuk cari jaringan. Susah sekali, terakhir saya ambil keputusan bagaimana saya bisa kunjungi anak-anak di rumah. Tapi kadang saya kesana, anak-anak dengan orang tuanya sudah ke kebun. Saya kemudian berusaha buatkan jadwal bagaimana supaya bisa bertemu dengan anak-anak. Saya siapkan waktu. Misalnya hari pertama, lima anak yang saya harus kunjungi. Rumah mereka jauh-jauh. Saya sendiri yang bawa sepeda motor. Murid kaget, mungkin karena mereka senang karena lihat saya datang. Mereka seperti rindu sekali mau masuk sekolah. Saya bilang, kita belum bisa sekolah, karena masih ada Corona. Jadi ibu datang ini, ibu hanya mau kasi tugas untuk kamu,” cerita Maria kepada Nadiem.

“Orang tua disini sangat mendukung. Tapi karena mereka tidak punya HP anroid, jadi susah untuk komunikasi. Karena orang tua disini tidak mampu semua. Terkadang saya susah di jalan, apalagi ketika hujan. Tertahan karena banjir untuk bertemu anak-anak.  Tapi saya tetap semangat. Kasi pelajaran untuk mereka,” beber Maria.

Diakhir obrolan Maria meminta Nadiem untuk memperhatikan sekolahnya.

“Saya minta tolong perhatikan sekolah saya. Di sekolah saya tidak ada televisi. Parabola juga tidak ada mas. Terlalu terpencil sekali sekolah saya ini, katanya.

Namun Maria berpesan kepada semua guru dan murid untuk tetap semangat mengajar dan belajar, walau dari rumah karena pandemi Covid-19.

“Mari kita tetap semangat, jangan berputus asa,” ajaknya.

Nadiem yang mendengar cerita Maria merasa senang.

“Luar biasa. Guru dan orang tua berubah pandangannya mengenai sesama. Guru baru sadar betapa pentingnya orang tua, sementara orang tua baru sadar betapa sulitnya menjadi seorang guru. Murid-murid kangen ke sekolah. Biasanya mereka kepingin bolos dan lain-lain, tapi sekarang mereka melihat sekolah itu bukan hanya tempat belajar, tapi disitu mereka bisa ketemu teman, ketemu guru. Ini pembelajaran bagi kita semua. Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal hikmah dari pembelajaran ini. Karena akar dari kesulitan adalah akar dari pembelajaran hidup kita,” ujarnya.

Nadiem pun memuji Maria, “Anda adalah guru penggerak. Dari jawabannya, dari fashionnya, ibu Maria adalah guru penggerak. Anda-lah yang kita butuhkan di seluruh penjuru negeri. Kesenjangan akibat kovid nampak sekali antara kota dan daerah. Kita akan majukan bersama. Terima kasih telah menjadi inspirasi buat saya dan Kementerian Pendikanan”.

Cerita Maria berawal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan lomba menulis surat untuk Menteri Nadiem Anwar Makarim di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Dari ribuan surat yang masuk, Kemendikbud telah memilih lima surat paling menginspirasi yaitu dua surat yang dikirim guru dan tiga surat dari siswa.

Salah satu surat yang terpilih adalah surat dari Maria Yosephina Morukh, guru SDK Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi, Nusa Tenggara Timur.

Surat tersebut dibacakan langsung oleh Mendikbud, sekaligus berbincang langsung dengan para penulis surat.

Kegiatan dengan tema “Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim” ini diselenggarakan pada tanggal 11 sampai 17 Mei 2020.

Sebanyak 3.495 surat yang masuk melalui surat elektronik cerdasberkarakter@kemdikbud.go.id dikirim oleh 2.884 guru dan 611 siswa. Sedangkan surat yang dikirim melalui WhatsApp sebanyak 3.194 surat yang terdiri dari 633 dari guru dan 2.561 surat dikirim oleh siswa.

Pandemi Covid-19 bukan menjadi sebuah penghalang untuk tetap mencerdaskan anak bangsa. Kita dianjurkan untuk diRumahSaja, panggilan jiwalah yang akhirnya mampu menggerakkan sejumlah guru untuk melakukan pembelajaran yang bermakna.

Hal ini dirasakan Santi Kusuma Dewi (Guru Bahasa Inggris SMP Islam Baitul Izzah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur) dan Maria Yosephina Morukh (Guru SDK Kaenbaun, Kabupaten TTU, Nusa Tenggara Timur). Mereka menuangkan apa yang dirasakan di tengah pandemi dama surat inspiratif untuk Mas Menteri. (ns/ns)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.