Presiden RI, Joko Widodo saat berada di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, beberapa waktu lalu.
Presiden RI, Joko Widodo saat berada di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, beberapa waktu lalu.

sergap.id, KUPANG – Presiden RI, Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk tidak tergesa-gesa membuka pariwisata di masa pandemi Covid-19.

“Kapan waktunya kita membuka sektor pariwisata? Tidak usah tergesa-gesa. Kita terlebih dahulu harus melalui tahapan-tahapan tertentu dan dikontrol dengan baik,” tulis Jokowi di laman instagramnya, Kamis (28/5/20).

Menurut dia, sejauh ini pemerintah masih memantau situasi lapangan apakah pandemi Covid-19 cenderung menurun atau meningkat.

“Kita akan memantau situasi lapangan dengan ketat sebelum membuka sektor pariwisata, sehingga wisatawan bisa berwisata dengan aman, dan masyarakat bisa produktif, utamanya bagi pelaku-pelaku pariwisata,” ucapnya.

Sementara untuk petani dan nelayan, kata Jokowi, pemerintah telah menyiapkan empat skema agar para petani dan nelayan dapat tetap berproduksi dan menjaga ketersediaan bahan pokok selama masa pandemi.

Pertama, melalui program jaring pengaman sosial untuk meringankan biaya konsumsi rumah tangga mereka.

Kedua, program subsidi bunga kredit yang saat ini sedang berjalan, melalui sejumlah program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Membina Keluarga Sejahtera (Mekaar), pembiayaan ultramikro (UMi), pegadaian, hingga pembiayaan dan bantuan permodalan dari beberapa kementerian.

Ketiga, pemberian stimulus sebagai modal kerja bagi para petani dan nelayan yang dapat disalurkan melalui perluasan program KUR bagi para penerima yang dinilai layak kredit.

“Saya telah meminta ke jajaran terkait agar prosedur dan aksesnya dipermudah, sederhana, dan tidak berbelit-belit,” tegasnya.

Keempat, bantuan melalui instrumen nonfiskal dengan cara mengupayakan kelancaran rantai pasokan yang akan meningkatkan produktivitas para petani dan nelayan.

“Kita harapkan usaha pertanian dan perikanan ini bisa lebih baik melalui ketersediaan bibit, pupuk, dan alat-alat produksi,” tutupnya.

Sebelumnya, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, mengatakan, semua bidang pembangunan di NTT, termasuk pasiwisata, akan kembali beraktivitas normal mulai tanggal 15 Juni 2020.

Kebijakan ini tentu bertentangan dengan harapan Presiden. Apalagi jumlah pasien positif Covid-19 di NTT terus meningkat. Sejauh ini sudah ada 90 orang di NTT yang terkonfirmasi positif corona, dan beberapa diantaranya terjangkit akibat penularan lokal atau transmisi lokal.

Apakah aktivitas pariwisata di NTT tetap dibuka mulai 15 Juni 2020, walau eskalasi Covid-19 masih terus terjadi?

“Walaupun semua kegiatan ini secara resmi dimulai pada tanggal 15 Juni 2020, namun Bapak Gubernur menegaskan agar seluruh protokol-protokol kesehatan tetap dijaga. Selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menghindari atau tidak menciptakan kerumunan yang sangat banyak, di kantor-kantor diatur jarak antara pegawai dan pastikan bahwa kita berusaha memutus mata rantai penyebaran virus corona. Karena memang sampai saat ini kita masih berada dalam kondisi eskalasi penyebaran virus corona,” ujar Marius kepada wartawan di Kupang, Selasa (26/5/20) sore. (ns/ns)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.