Benih padi sebanyak 45 ton disita Kejati NTT, Selasa (25/6/19).

sergap.id, BESIKAMA – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati)  NTT menyita barang bukti berupa benih padi sebanyak 45 ton di Desa Loofoun, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka.

Informasi yang dihimpun SERGAP menyebutkan, benih tersebut disita dari rumah Inno Nggebu, salah satu warga Desa Loofoun pada hari Selasa (25/6/19) malam, sekitar pukul 20.00Wita.

Menurut Inno, rumahnya hanya disewa sebagai tempat penampungan benih.

Sementara itu, Kepala Desa Loofoun, Kornelis Seran, mengatakan, awalnya, dirinya tidak tahu adanya penyitaan tersebut.

“Pagi tadi baru dapat informasi dari warga bahwa ada penyitaan benih padi. Kata warga ada tim Tipikor Polda NTT dan Kejari angkut padi menggunakan dua truk,” ucap Kornelis kepada SERGAP, Rabu (26/6/19).

Sebelumnya, Jaksa Peneliti Kejati NTT, Anton Lona didampingi Kasi Intel Kejari Belu, John M Purba kepada wartawan di Kantor Kejari Belu, Rabu (25/6/19) menjelaskan, penyitaan dilakukan dalam rangka pengumpulan barang bukti dan tersangka untuk diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Penyitaan tersebut dilakukan atas izin Pengadilan Negeri Atambua.

Sementara tersangka Emanuel Poli masih dalam perjalanan dari Kupang menuju Atambua.

Kasus ini akan disidangkan di Pengadilan Negeri Atambua, Belu.

Penyidik menyita barang bukti, karena benih yang disediakan oleh tersangka tidak bersertifikasi dan tidak melalui uji laboratorium.

Dijelaskan, tersangka adalah pengurus Koperasi Petani di Oesao, Kabupaten Kupang.

Ia membeli padi dari Jawa yang tidak bersertifkat, lalu dia sendiri yang membuat label untuk selanjutnya dikirim ke Malaka.

Namun saat tiba di Malaka, Dinas Pertanian setempat melakukan sortir sesuai protap dan menemukan benih tidak layak untuk disalurkan kepada petani.

Dinas Pertanian lantas membuat berita acara agar benih tersebut tidak disalurkan ke petani.

Kasus ini bermula dari bantuan uang tunai Kementerian Pertanian Tahun 2018 sebesar Rp 400 juta disalurkan kepada petani di Loofoun.

Dalam proses penanganan perkara yang dilakukan penyidik Kejati NTT, tersangka sudah mengembalikan uang tersebut melalui Dinas Pertanian Kabupaten Malaka.

Terkait kasus ini, tersangka melanggar UU Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dengan ancaman pidana maksimal lima tahun. (sel/sel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.