Presiden Jokowi, contoh pemimpin rendah hati yang sukses membangun negeri.
Presiden Jokowi, contoh pemimpin rendah hati yang sukses membangun negeri.

Publik NTT dikejutkan dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020 tentang penetapan daerah tertinggal tahun 2020-2024, termasuk 13 kabupaten di NTT.

Kenapa bisa? Menurut saya, ini kesalahan pemimpin! Karena pemimpin memiliki peranan penting dalam kesuksesan daerah.

Menjadi seorang pemimpin memang terlihat menggiurkan. Karena ia memiliki wewenang besar untuk melakukan banyak hal, dan mendapatkan banyak keuntungan di dalamnya.

Namun tugas utama pemimpin di daerah ini adalah bagaimana mengelola potensi daerah yang ada untuk kesejahteraan rakyatnya.

Yang terjadi disini malah sebaliknya. Pemimpin dan keluarganya terlihat kaya raya. Sementara rakyat tampak tetap terbenam di dasar sungai kemiskinan.

Anehnya, ketika daerahnya ditetapkan sebagai daerah tertinggal, tanpa malu, sang pemimpin memberi alasan, “bukan hanya daerah saya. Banyak daerah di NTT juga masih tertinggal koq”.

Saya kontan muntah-muntah. Karena jijik mendengar jawaban yang tidak beradab itu. Mestinya dia malu. Mestinya dia diam. Karena dia tidak pantas memberi alasan. Yang harus dia lakukan adalah mengevaluasi kepemimpinannya. Apa yang salah? Apa yang harus dilakukan kedepan?

Bukan rahasia lagi kalau di daerah ini banyak pemimpin yang punya sifat malas, tidak peka, tidak kreatif, korup, dan sombong tidak berkompeten.

Tipe pemimpin seperti ini kerjanya hanya jalan-jalan ke luar kota dengan berbagai alasan untuk menghalalkan biaya perjalanan dinas yang dirampok dari APBD.

Jika ditanya apa yang sudah dia buat, jawabannya pasti marah-marah dan menyalahkan bawahannya. Bahkan agar bawahannya bungkam, pemipin tipe ini suka menggertak, bahkan mengancam dengan tindakan yang lebih ekstrim.

Kelakuan pemimpin dengan merk dagang ini biasanya dilakukan untuk menutup kesalahan dirinya yang tidak fokus mengurus daerah. Bahkan kemiskinan yang ada di depan matanya selalu ia tumpahkan menjadi kesalahan pemimpin terdahulu.

Sombong atau takabbur atau membanggakan diri sendiri sudah menjadi warna pemimpin yang kosong pikiran, itu kalau tidak mau dibilang dungu oleh tuan Rocky Gerung.

Sebab, sombong, mudah marah, kasar, dan arogan dalam bersikap merupakan tanda-tanda seseorang yang tidak kompeten dalam memimpin.

Setidaknya begitulah hasil studi yang dipublikasikan Washington Post berdasarkan pernyataan seorang psikolog bernama Ashley Merryman.

BACA JUGA: Jokowi Tetapkan 13 Kabupaten di NTT Sebagai Daerah Tertinggal 2020-2024

Menurut Merryman, sikap sombong dan arogan bukan menjadi kriteria psikologis yang ideal bagi seorang pemimpin. Pemimpin yang selalu merasa benar justru menunjukkan sikap negatif selama menjalankan tugas.

Bahkan pemimpin yang arogan terlalu dungu mengakui kesalahannya. Ini dinamakan Duning Krueger Effect. Artinya, merasa apa yang dilakukan selalu benar, tapi kenyataannya dia tidak tahu bahwa apa yang dia tahu itu sedikit dan tidak penting.

Kata Merryman, pemimpin yang rendah hati akan terlihat lebih fokus, efektif, dan produktif dalam bekerja, ketimbang pemimpin sombong.

Faktanya pemimpin yang rendah hati di daerah ini mampu mengeluarkan daerahnya dari status daerah tertinggal. Tidak percaya? Coba cek disekeliling! (chris parera)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.