sergap.id, KUPANG – JFPS alias Sinta, mantan Kepala Sub Bagian (Kasubag) Protokol, Bagian Humas dan Protokol, Biro Umum  Setda Provinsi NTT di masa kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Esthon Foenay, membantah dirinya berselingkuh dengan suami IR seperti yang dituding IR.

Menurut Sinta, tudingan IR terhadap dirinya tanpa dasar atau tanpa bukti. Yang ada justru ia diserang secara fisik di Pasar Inpres Naikoten I Kupang pada tanggal 23 Desember 2019 dan dihina lewat SMS secara berulang kali.

“Waktu di pasar itu, sehabis belanja saya mau pulang. Tiba-tiba dari arah depan, dia (IR) datang dan langsung menghampiri saya. Dengan suara keras, dia kata-katai saya. Saya diam. Karena saya tidak ingin ladeni dia. Tapi dia terus menyerang saya. Dia bahkan sempat pukul saya dengan helm. Karena itu saya menepis serangannya. Tanpa sengaja, kunci (sepeda motor) yang saya pegang menggores pipinya,” beber Sinta kepada SERGAP, Rabu (29/1/20) siang.

Atas perbuatan IR itu, Sinta telah melaporkan IR ke Polres Kupang Kota dengan nomor Laporan Polisi: LP/B/1334/XII/2019/SPK Resta Kupang Kota tanggal 23 Desember 2019.

Dalam kasus ini IR terancam dijerat dengan Pasal 315 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu, serta Pasal 310 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 9 bulan.

“Selain maki-maki saya di tempat umum, dia (IR) juga kata-katai saya, maki-maki saya lewat SMS. Padahal saya tidak ada hubungan (spesial) dengan suaminya,” papar Sinta.

Perbuatan IR ini kembali dilaporkan oleh Sinta ke Polres Kupang Kota dengan nomor LP: 121/STTP/I/2020/SPKT RESTA KUPANG KOTA .

IR terancam dijerat dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Sebab apa yang dilakukan IR melalui pesan singkat (Short Message Service/SMS), termasuk informasi/data elektronik.

Perkataan “anjing” dan “pelacur” yang dilontarkan IR melalui SMS merupakan tindakan yang melanggar ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Tindakan IR ini memenuhi unsur melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar yang sanksi pidananya diatur dalam Pasal 45 ayat (1) UU ITE.

“Kalau ada masalah dalam keluarga, selesaikan masalah itu di keluarga sendiri. Kenapa saya yang dipersalahkan dengan tuduhan tanpa bukti?,” kata Sinta.

Sekali lagi, apakah Anda berselingkuh dengan suami IR? Tanya SERGAP.

“Tidak. Saya pastikan tidak. Karena memang saya tidak punya hubungan (cinta terlarang) dengan suaminya,” tegas Sinta.

Sinta juga membantah tuduhan bahwa dirinya telah memploroti uang puluhan juta milik suami IR.

“Aduh Tuhan e, beta (saya) ni ada gaji. Tiap bulan dengan gaji Rp 4 juta cukup untuk beta pung (punya) hidup,” ucap Sinta.

Sinta mengaku dirinya siap menghadapi proses hukum yang sedang berjalan. Sebab proses damai yang disarankan keluarga masih menemui jalan buntu.

Sejauh ini polisi juga belum meminta keterangan dari suami IR untuk memastikan apakah dia berselingkuh dengan Sinta atau tidak.

“Suaminya harus juga diperiksa. Sebab masalah ini berawal dari dia. Karena saya dituduh punya ‘hubungan’ dengan dia, makanya saya dimaki-maki oleh istrinya,” tegas Sinta.

“Karena masalah ini sudah masuk ke ranah publik lewat pemberitaan media, maka suaminya juga harus dimintai keterangan oleh media, supaya publik tahu apakah tuduhan kepada saya itu benar atau tidak. Jangan hanya nama saya saja yang ditulis, tapi suaminya tidak. Media harus minta keterangan suaminya, biar masalah ini terang benderang,” pinta Sinta.

Sayangnya hingga berita ini diturunkan, IR dan suaminya belum berhasil dihubungi SERGAP. (cis/vit)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.