Petrus Selestinus Mite
Petrus Selestinus Mite

Kegaduhan Covid 19 sebagai musibah besar, mimpi buruk dan pandemik mematikan itu belum berakhir atau finish.  Orang-orang membuat prediksi dan asumsi tentang “Sampai kapan situasi negeri ini normal lagi?”.

Sampai Kapan fenomena dan ketidakpastian ini selesai? Daerah NTT (Timor, Flores, Sumba dan Alor) tidak luput dari kegaduhan pandemik ini. Bahkan Covid 19 dikategorikan sebagai salah satu informasi yang paling hits dan top diperbincangkan di berbagai media sosial. Belum lagi beberapa hari belakangan ini, Daerah NTT diberitakan oleh beberapa media lokal dan pusat tentang meninggalnya pasien Covid 19 dan bertambahnya masyarakat yang terserang Covid 19. Desksripsi Pos Kupang.com tentang meninggalkannya salah satu pasien Positif Corona di Kupang. (Nong, 2020). Sebelumnya Kompas.com juga menjelaskan tentang bertambahnya jumlah pasien yang terkena virus ini , sehingga jumlahnya kurang lebih menjadi 18 kasus di NTT. (Bere, 2020). Lalu, media Alinea.id mengungkapkan bahwa Gubernur NTT sudah menemukan obat penyembuh dari pandemik ini. (Yudha, 2020). Tirto.id mempunyai informasi lain soal bertambahnya jumlah 12 pasien positif Covid 19 di NTT, sehingga totalnya menjadi 30-an pasien. (Damaledo, 2020). Informasi ini sama dengan informasi Kompas TV yang meliput tentang meningkatnya jumlah pasien Covid 19 di NTT. (Kompas TV, 2020). Singkatnya semua informasi tersebut diperjelas oleh Sergap.id yang menyatakan bahwa 7 Kabupaten di NTT telah ditetapkan sebagai daerah zona merah yang terperangkap Covid 19. (Tim Redaksi Sergap, 2020).

Fenomena ini sudah menciptakan banyak kegaduhan dan situasi khaos dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bayangkan saja ada berapa banyak orang yang mengalami permasalahan krisis ekonomi karena covid? Ada berapa banyak orang yang meninggal dunia dan krisis kesehatan karena Covid 19? Belum lagi terhitung masyarakat yang diklasifikasikan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Fakta membuktikan bahwa hampir sebagian besar Masyarakat NTT belum sejahtera dalam aspek kesehatan dan aspek kehidupan lainnya. Banyak sekali masyarakat yang kehilangan pekerjaan, baik yang merantau maupun yang ada diaerahnya masing-masing. Rumah-rumah ibadat menjelma menjadi gedung-gedung tua yang tidak berpenghuni. Pasar-pasar, kebun, sawah, dan semua area perkantoran hampir tidak berjalan seperti biasanya. Harga bahan kebutuhan hidup dan komoditas menurun dan situasi kehidupan masyarakat menjadi semakin kompleks dan tidak menentu. Situasi demikian sudah diramalkan Anthony Giddens sebagai “konsekuensi dari modernitas” dan masyarakat NTT terpaksa menelan pil pahit ini. (Martono, 2016). Mungkin benar seperti ungkapan Ulrich Beck (Sosiolog Jerman), bahwa: “Tidak ada pilihan lain untuk masyarakat sekarang, selain bergelinding seperti bola salju dalam resiko-resiko yang ada”. Kemudian bergelut bersama Covid 19 tanpa ada rasa takut dan panik yang berlebihan. (Beck, 2015).

Bergelut Melawan Covid 19: Pemerintah dan Masyarakat NTT

Ada beberapa usaha penanganan Covid 19 yang sedang dilakukan oleh Negara dengan berbagai kebijakan dari Pemerintah Pusat, Pemda, lembaga Agama, NGO dan masyarakat. Usaha ini sedang dilakukan, tetapi dampaknya belum terlalu menyentuh kehidupan masyarakat secara utuh, bahkan usaha ini justru tidak memberi efek yang maksimal bagi masyarakat, misalkan Masyarakat NTT.

Pertama: Peningkatan Tenaga Medis dan Distribusinya. Artinya Negara mencoba meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kesehatan di Indonesia. Namun, perlu disadari bahwa Indonesia sendiri mengalami kekurangan dokter-dokter spesialis paru atau dokter-dokter ahli virologi, seperti Covid 19 (Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia). Selain itu kekurangan fasilitas kesehatan dan distribusi tim medis yang belum merata. (Nafi, 2020). Sederhananya banyak sekali dokter dan tenaga medis berpusat di Jakarta dan pulau Jawa, sedangkan untuk daerah NTT sendiri sangat sedikit. Coba perkirakan saja, ada berapa banyak dokter yang tersebar di masing-masing daerah di NTT? Atau ada berapa banyak orang NTT yang berprofesi sebagai dokter? Beberapa hal inilah yang perlu dikaji secara bersama-sama dan menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah, Masyarakat, NGO, Agama dan Instansi-instansi lainnya. Demikian pula soal persediaan fasilitas kesehatan yang masih kurang di daerah-daerah Kabupaten sekitar Timor, Flores, Sumba dan Alor. Misalkan: Pengadaan mesin Fentilator (mesin yang berfungsi untuk membantu proses pernapasan) di setiap Rumah sakit.

Kedua, Kebijakan Pemerintah Pusat, Pemerintah NTT dan Pemda sekitarnya untuk PSBB dan Lockdown. Pada dasarnya kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan yang cukup baik dalam meminimalisir persebaran Covid 19. Namun, habitus dan ranah perjuangan (field of struggle) setiap masyarakat NTT untuk survive tidak sama. (Sutopo, 2020). Sebab tidak semua masyarakat NTT adalah masyarakat yang makmur secara finansial dan sejahtera dalam aspek ekonomi. Hal inilah yang perlu dipertimbangkan lagi oleh Pemda-pemda sekitar (NTT-Timor, Flores, Sumba dan Alor) untuk tidak secara ekstrem dan radikal menerapkan aturan tersebut tanpa mengkaji secara mendalam tentang habitus dan kebiasaan masyarakat umumnya.

Ketiga, Kebijakan Pemerintah untuk mewajibkan masyarakat memakai masker, menjaga kebersihan dan social distancing. Kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang patut diapresiasi, karena cukup membantu masyarakat dalam mengurangi terjangkitnya virus atau membawa virus bagi orang lain. Namun, persoalannya adalah harga masker melambung tinggi dan tidak semua orang bisa memilikinya.

Keempat, Pemerintah menyalurkan Bantuan Sosial (Bansos) bagi masyarakat yang terdampak Covid 19. Bansos sudah disalurkan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian masyarakat mengkomplain soal Bansos yang tidak merata. Kondisi demikian yang terkadang menimbulkan masalah dan ketegangan antara pemerintah dan masyarakat. Perlunya transparansi dan obyektivitas dalam menangani persoalan Bansos. Ada tindakan komunikatif yang bisa diaplikasikan Pemerintah dan Masyarakat (saling memahami, berdiskusi secara online atau konvensional tentang Bansos). Rasionalitas yang dipakai saat ini adalah rasionalitas komunikatif dan procedural. (Hardiman, 2009). Kesempatan untuk membuka ruang bagi siapa saja dalam menyampaikan argumen dan kepentingannya. Kemudian semua pihak bersama-sama membuat konsensus tentang persoalan Bansos. Bukan rasionalitas instrumental yang diterapkan dalam penanganan Bansos tersebut, apalagi melibatkan tindakan strategis antara Pemerintah dan masyarakat. Di mana keduanya saling memanfaatkan, memanipulasi dalam mempertahankan status quo dan kepentingannya masing-masing.

Kelima, Pengawasan dan penertiban oleh pihak-pihak keamanan (Polisi, TNI, Pol PP dan lainnya) terhadap adanya kemungkinan masyarakat yang melanggar kebijakan lockdown, social distancing dan tidak bermasker. Cukup kesulitan dengan konteks kehidupan masyarakat NTT yang sebagian besar masyarakat bekerja di alam bebas atau beraktivitas di luar rumah. Pemprov NTT dan Pemda-pemda perlu beradaptasi dan mempertimbangkan konteks kehidupan masyarakat lokal. Tidak bisa dibenarkan, jika penertiban terhadap masyarakat yang melanggar dengan menggunakan kekerasan fisik dan verbal.

Keenam, Adaptasi lembaga Keagamaan terhadap situasi Covid 19. Para jemaat keagamaan dan para pemimpin keagamaan melakukan ibadat dan ritual keagamaannya tidak lagi di rumah ibadat, tetapi dirumah masing-masing. Aktivitas kerohanian dan praktik spiritualitas dilakukan secara konvensional bersama keluarga dan secara online (zoom atau skype) dengan pihak Gereja dan lainnya.

Ketujuh, Gelar ritual adat mencegah Covid 19. Beberapa desa di NTT membuat ritual-ritual tradisional (Ritual Tolak Bala) sebagai sebuah kepercayaan dan upaya untuk menolak atau mencegah pandemik tersebut. (Patricia, 2020).

“Kritis Dalam Bertindak” Bersama Gramsci

Antonio Gramsci menyoroti peran masyarakat sebagai subyek yang berintelektual. Ia membedakan dua subyek intelektual yaitu tradisional dan organik.  Intelektual tradisional:  mereka yang  secara  terus  menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi. Mereka adalah penyebar ide dan mediator antara massa rakyat dengan kelas atas. Misalkan: ilmuwan, seniman, wartawan, jurnalis, kaum birokrat dan lainnya. (Tahir, 2020). Sedangkan Intelektual organik: mereka yang tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial dari luar berdasarkan kaidah-kaidah saintifik, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman real yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri. Figur Intelektual organik merupakan mereka yang mampu merasakan emosi, semangat dan apa yang dirasakan kaum marginal dan tertindas, memihak kepada mereka dan mengungkapkan apa yang dialami dan kecenderungan-kecenderungan objektif masyarakat. (Maulana, 2015). Berhadapan dengan realitas Covid 19 dan meminjam konsep Gramsci sebagai pisau analisis untuk membuka sedikit celah dari sekian banyak kebuntuan yang dirasakan masyarakat NTT saat ini. Sebuah pernyataan reflektif dari Gramsci, “semua orang adalah intelektual, tapi belum tentu berfungsi sebagai intelektual”.

Pernyataan ini  membuat semua kita menyadari tentang: Apa arti aku sebagai subyek yang berintelektual? Apakah aku adalah gambaran subyek yang hanya pandai merangkai kata-kata dalam tulisan ini? Aku yang tidak mampu melakukan apa-apa untuk mereka yang tertindas. Apakah aku hanyalah subyek yang tidak lain adalah sampah peradaban yang diam membisu, kaku dan tidak tahu harus melakukan apa, ketika banyak orang jatuh dalam penderitaan, kelaparan, kemiskinan, pengangguran, terinfeksi virus dan mati tidak berdaya. Atau aku adalah pembaca dari tulisan ini yang juga kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku adalah pembaca yang juga merupakan korban dari sistem dunia dan modernitas. Korban dari hadirnya Covid 19. Ternyata kita sama-sama menjadi korban dari semua musibah ini. Lantas, apa yang harus kita lakukan dengan fenomena pandemik ini? Apa yang harus kita lakukan untuk NTT yang kita cintai ini? Jawabannya adalah kita tidak bisa berlama-lama bersembunyi, membuat berbagai aturan yang memiliki tendensi untuk menciptakan konflik, kesenjangan dan perpecahan di antara kita sendiri. Berusaha menyalurkan berbagai bantuan dan ternyata tidak semua bantuan bisa dinikmati semua masyarakat.

Meningkatkan atau perbaikan persedian alat-alat kesehatan dan tenaga medis, tetapi dampak dan kontribusinya tidak terlalu efektif dan efisien bagi masyarakat. Akhirnya aku menyadari bahwa: Kita semua terjebak dalam permainan ini. Sebuah permainan yang diciptakan oleh elit atau kapitalis global dan lokal. Bahkan tanpa disadari aku dan kamu juga turut berpartisipasi dalam permainan yang keji ini. Cara terakhir yang bisa kita lakukan adalah keberanian sebagai subyek intelektual organik yang sadar dan kritis untuk bertarung mengahapi Covid 19. Wujud keberanian itu terintegrasi dalam peran kita masing-masing sebagai subyek yang berintelektual. Hal ini mengandaikan bahwa semua orang tetap melakukan aktivitasnya secara normal, tetapi wajib menggunakan masker dan social distancing. Jika ada sebagian orang yang tidak menggunakan masker maka perlu diingatkan dengan sanksi dan denda dari pihak yang berwajib. Solusi final penuh dengan resiko dan tantangan. Daripada kita bersembunyi dan mengurung diri, tidak ada salahnya bila solusi ini dicoba dan diterapkan. Mengurung diri bukan sebuah solusi yang tepat, apalagi dalam konteks kehidupan masyarakat NTT yang hampir seluruhnya adalah masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dan peternakan.

  • Penulis: Petrus Selestinus Mite

1 COMMENT

  1. 👏👏👏 salut Pak San Mite. Terima kasih atas kritik dan sarannya. Semoga seruan Pak San Mite, yg mwakili masyarakat akar rumput ini dapat didengarkan semua khalangan pemerintahan.
    🙏🙏🙏🙏

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.