Foto pergolakan di Timor-Timur ketika Indonesia menduduki daerah itu sejak tahun 1975.

sergap.id, LOROTOLUS – Kisah 5 September 2000 silam tidak akan mungkin dilupakan oleh kami masyarakat Wanibesak, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT.

Kampung kami yang awalnya tenang, tiba-tiba berubah menjadi medan perang yang mengerikan.

Saya tidak ingin mengingat kembali tragedi itu, tapi ini jadi bahan permenungan atau refleksi, sekaligus mengenang warga kami yang tewas di medan perang, yakni Jhon Leto, Kundus Bere, Ba’ i Bot, Joni Bere dan lainnya.

Jajak pendapat di Timor – Timur tahun 1999 menjadi awal tragedi berdarah di kampung kami. Karena kalah jajak pendapat, warga pro integrasi mengungsi ke Timor Barat. Sebagian dari mereka adalah masyarakat kami yang berasal dari Desa Lorotolus yang dulu mengikuti program transmigrasi lokal di Timor –Timur pada awal tahun 1990.

Walau jumlah mereka tidak sebanyak masyarakat kami, namun kehadiran para pengungsi itu membuat kami mulai was-was.

Awal kedatangan mereka di Wanibesak, semuanya baik- baik saja. Tidak ada kebencian ataupun amarah. Mereka menghormati kami, begitupun sebaliknya. Saling tolong menolong terjadi dalam kebersamaan.

Tapi, selang beberapa bulan kemudian, masalah mulai datang. Berawal dari sebuah kesalapahaman antara pemuda Lorotolus dengan sekelompok pengungsi, tragedi berdarah pun terjadi.

Mulanya, salah satu pemimpin kelompok pengungsi menyandera salah satu pemuda Lorotolus. Padahal tidak ada masalah di antara mereka. Diduga pimpinan kelompok itu hanya ingin menunjukan kehebatannya sebagai pemimpin paling berbahaya.

Kontan saja warga Lorotolus tidak senang. Mereka kemudian menyusun strategi untuk membebaskan pemuda yang disandera. Sementara sebagian pemuda Wanibesak dan beberapa lainnya mengadakan pertemuan singkat tentang bagaimana cara agar bisa membebaskan sandera.

Setelah duduk bersama dengan para tua adat, di ambil keputusan untuk melakukan penyerangan demi membebaskan pemuda yang disandera. Dan, yang akan melakukan penyerangan adalah sebagian dari para pemuda dibantu beberapa orang tua yang dianggap masih mampu berperang. Sementara yang lain menjaga kampung demi mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Pertempuran pun tidak bisa dihindari.

Menurut cerita mereka yang ikut dalam perang bahwa pemuda yang disandera berhasil dibebaskan. Sementara si pemimpin komplotan tersebut berhasil ditaklukkan. Bererapa pengikutnya tidak ditemukan karena melarikan diri sebelum penyerbuan dilakukan.

Namun dalam penyerbuan itu, salah satu pemuda kami terluka akibat ditembak oleh pemimpin kelompok itu. Konon, si pemimpin itu menyimpan beberapa pucuk senjata yang dibawanya dari Timor – Timur pasca jajak pendapat.

Kebahagiaan bercampur sedih.  Ada ketakutan yang mendalam, jangan sampai para pengikut dari si pemimpin tersebut melakukan penyerangan balasan. Tidak ada yang tahu secara pasti. Dalam situasi ini, luka tembak yang diderita salah seorang pemuda kami semakin parah. Kemungkinannya untuk selamat semakin tipis.

Meski demikian, beberapa tua meminta kami untuk berjaga – jaga, jangan sampai ada serangan balasan. Kekhawatiran itu akhirnya terjadi sekitar pukul 03.00 dini hari.

Para pengikut dari si pemimpin itu melakukan penyerangan ke kampung kami. Kami kewalahan, karena tidak ada persiapan. Mereka tidak hanya berjumlah ratusan orang, tetapi juga membawa senjata. Jalan terakhir adalah para pemuda di kampung kami mundur dan mengungsi ke desa tetangga.

Akibatnya, kampung kami beserta isinya luluh lantak. Rumah di bakar hingga tak ada satu pun tersisa. Untungnya, dalam penyerangan tersebut, semua keluarga saya selamat, walau rumah dan segala isinya ludes terbakar.

Bagi kami masyarakat Wanibesak, tanggal 05 September 2000 tetap akan terkenang selamanya. Entah sampai kapan pun, kisah ini tidak mungkin lenyap oleh waktu. Mungkin sampai tujuh turunan sekalipun.  Sebab di hari itulah untuk pertama kalinya  jiwa kami hancur karena penyerangan dan rentetan senjata.

Kami pasrah. Kami menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Segala kesombongan akan runtuh pada saatnya. Jika bukan karena orang lain, pasti karena diri sendiri. Karena itu damailah, karena damai itu indah. (luki)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.