Mega Bere
Mega Bere

PANCASILA sebagai pandangan hidup dan dasar negara menjadi pegangan setiap warga dan lembaga yang “dipayungi” negara. Warga atau lembaga yang bernaung itu mempunyai latar belakang berbeda-beda, baik secara kultural maupun religius.

Bagi penulis ini sungguh membanggakan bahwa penduduk Indonesia begitu majemuk. Tentu para founding fathers sudah menyadari hal ini sehingga berani memproklamasikan kemerdekaan Indonesia kala itu.

Keberbedaan itu lalu dibahasakan dalam satu bahasa simbol yakni Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan ini menegaskan bahwa keberbedaan itu selalu ada dan mengajak kita untuk menghargainya bukan menyatukan atau mempertandingkannya.

Meskipun demikian, realitas berbicara  lain. Konflik bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) bermunculan di mana-mana, bahkan konflik yang satu berkembang menjadi konflik berikutnya. Dengan demikian, keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak terwujud.

Salah satu konflik yang menjadi perhatian serius yakni konflik antarpemeluk agama. Agama yang satu mengklaim diri sebagai yang paling benar dalam ajaran dan menganggap yang lain sebagai yang salah. Bahkan, agama yang satu berusaha mensubordinasi yang lain. Berhadapan dengan realitas ini, apa yang mesti dilakukan atau jalan keluar manakah yang perlu ditempuh supaya keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat terwujud?

Bentuk komunikasi yang lebih mungkin untuk mengatasi persoalan di atas yakni dialog antaragama. Memang, dialog ini sudah dibicarakan sejak Konsili Vatikan II, tetapi  proses dialog ini belum mencapai puncak atau belum memberi solusi yang sempurna. Karena itu, berdialog itu tetap ada dan akan tetap ada. Namun, mesti diingat bahwa tujuan utama dari dialog adalah bukan untuk mencari siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan untuk saling memperkaya. Puncak dialog itu mengantar orang pada situasi damai dan saling pengertian.

Karena itu, tesis utama tulisan ini, yakni: pertama, apa itu dialog, bagaimana bentuk-bentuk dialog, apa saja tuntutan dasar dalam membangun dialog, apa saja hambatan-hambatan dalam dialog. Kedua, bagaimana dialog antaragama itu berpretensi membangun bangsa yang berdamai dan sejahtera.

  • Dialog Membangun Bangsa

Dialog memiliki beberapa arti. Menurut Kamus Ilmiah kata ”dialog” artinya percakapan. Menurut dokumen Kongregasi Evangelisasi bangsa-bangsa dan sekretariat untuk dialog antaragama (DP) membedakan tiga macam arti dialog.

Arti pertama, sebagai komunikasi timbal balik dalam kehidupan sehari-hari, untuk saling tukar informasi atau menjalin persatuan.

Arti kedua, sebagai sikap hormat, penuh persahabatan, ramah, terbuka, suka mendengarkan orang lain. 

Arti ketiga, merupakan hubungan antaragama yang positif dan konstruktif. Arti ketiga ini memberikan arti tersendiri untuk hubungan antarpribadi, antarumat dari agama-agama lain. Hubungan antaragama ini bisa terjalin bila seseorang memiliki iman dan pengetahuan yang baik akan agamanya sendiri, serta penghayatan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.

Gereja dalam dokumen tentang dialog yang sebenarnya dijalankan dalam lingkup kebenaran dan kebebasan.

”Dialog yang sejati tidak hanya memajukan kerjasama dan sikap terbuka, tetapi juga memurnikan dan mendorong untuk menggapai kebenaran dan kehidupan, kesucian, keadilan, kasih dan perdamaian… Yohanes Paulus II mengatakan dialog dalam level paling mendalam pada prinsipnya adalah dialog keselamatan. Yang dimaksudkan dengan dialog keselamatan adalah dialog yang terus-menerus berusaha menemukan, memperjelas, dan memahami tanda-tanda Allah dalam persatuan manusia sepanjang masa…“

Dari beberapa pengertian dialog di atas, dapat dikatakan bahwa untuk melakukan dialog itu tidak mudah. Orang harus terbuka untuk “yang lain” dan “yang lain” hendaknya terbuka untuk menerima. Ini berarti bahwa dialog merupakan saling membuka diri untuk saling menerima dan memberi.

Bentuk-bentuk dialog dibawah ini merupakan bentuk keterlibatan Gereja dalam dialog antaragama. Dalam Dialogue and mission diajukan tiga bentuk dialog yakni: Pertama, dialog kehidupan. Bentuk dialog ini diperuntukkan bagi semua orang dan merupakan level dialog paling mendasar. Dialog ini mudah ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam ada bersama di masyarakat, setiap individu memiliki pengalaman tersendiri. Dan masing-masing mereka ada kesediaan untuk membagikan pengalaman satu sama lain. Tentunya  pengalaman-pengalaman itu sungguh menyentuh kehidupan mereka, dan bentuk dialog ini tidak langsung menyentuh perspektif  agama.

Kedua, dialog karya. Dialog karya merupakan kerjasama yang lebih intens dan mendalam dengan para pengikut agama-agama lain, dengan tujuan pembangunan manusia dan peningkatan martabat manusia. Bentuk dialog inilah yang menjadi basis dialog antaragama atau dengan organisasi-organisasi dalam menghadapi masalah-masalah, baik di tingkat internasional, nosional maupun lokal.

Di samping itu dialog ini makin mempererat hubungan dan kerjasama dalam karya-karya. Dialog ini juga nampak dalam hubungan Gereja dan bangsa seperti dalam GS no.76”…negara dan Gereja melayani dalam aspek-aspek yang berbeda-beda panggilan perorangan maupun sosial orang-orang yang sama. Pelayanan itu akan dapat diberikan dengan lebih efektif demi kesejahteraan mereka semua, jika negara dan gereja meningkatkan kerja sama yang menguntungkan dengan meningkatkan kerja sama yang menguntungkan dengan mengingat keadaan zaman dan daerah…” Dari kutipan ini dapat dimengerti bahwa antara agama (gereja) dan negara punya hubungan dan punya tujuan yang sama yakni menyejaterahkan masyarakat.

Ketiga, dialog pengalaman keagamaan. Bentuk dialog ini merupakan dialog tingkat tinggi. Dialog ini dimaksudkan untuk saling membagi pengalaman iman, dan saling memperkaya penghayatan nilai-nilai tertinggi dan cita-cita rohani masing-masing pribadi. Dialog ini tercipta mengandaikan pribadi sudah matang, tahu secara mendalam agamanya, dan percaya secara sungguh akan apa yang diimaninya. Atau dengan kata lain dialog ini menuntut iman yang mantap dan mendalam.

Ketiga bentuk dialog ini akan dijalankan dengan baik jika orang mampu membuka diri terhadap “yang lain”. Ya, dengan membuka diri yang total mampu membuat orang mencapai bentuk dialog ketiga yang merupakan bentuk dialog tingkat tinggi. Ini merupakan suatu harapan yang terus diperjuangkan oleh kita untuk membangun kesejahteraan hidup dalam keberagaman membangun bangsa ini dengan penuh kedamain dan cinta akan yang lain.

  • Tuntutan Dasar Membangun Dialog

Agar dialog dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka ada beberapa pedoman dasar dialog antaragama yang didesain oleh Leonard Swidler. Pertama, tujuan dialog antaragama adalah untuk menambah pengetahuan, yakni mengembangkan persepsi dan pemahaman tentang realitas yang selanjutnya dilaksanakan secara tepat.

Kedua, dialog antaragama harus dari dua pihak yang masing-masing sebagai pemeluk agama. Ketiga, masing-masing pihak dalam dialog antaragama harus bersikap jujur dan ikhlas. Selain itu, masing-masing pihak juga harus menganggap pihak lain juga jujur dan ikhlas.

Keempat, dalam dialog antaragama tidak boleh membandingkan antara konsep dengan praktek, tetapi hendaknya yang dibandingkan adalah konsep dengan konsep atau praktek dengan praktek. Kelima, masing-masing pihak dalam dialog antaragama harus memposisikan dirinya sesuai dengan eksistensinya sendiri.

Artinya seorang yang beragama Islam, harus berdiri sebagai seorang muslim, tidak boleh dia berdiri atas nama umat kristiani atau umat lainnya ataupun sebaliknya.

Keenam, masing-masing pihak dalam dialog antaragama tidak dibenarkan memiliki asumsi untuk mencari perbedaan-perbedaan, tetapi harus berusaha mencoba setuju dengan pihak lain sejauh masih terpelihara integritas keyakinannya.

Ketujuh, dialog antaragama hanya bisa dilakukan dengan posisi seimbang. Artinya, masing-masing pihak secara bersama saling memberi pengetahuan. Misalnya, seorang Muslim atau Kristen tidak boleh memandang pihak lain sebagai pihak yang lebih rendah.

Kedelapan, dialog antaragama bisa terlaksana atas dasar saling percaya. Artinya, masing-masing pihak harus benar-benar mau berdialog dan memenuhi syarat. Orang yang tidak memahami agamanya sendiri, tidak bisa mengikuti dialog. Kesembilan, orang yang berniat mengikuti dialog antaragama, setidaknya memiliki sifat kritis terhadap dirinya dan agamanya.

Dia mesti sadar bahwa diri dan keberagamaannya masih perlu penyempurnaan. Kesepuluh, masing-masing pihak harus berusaha mengalami  agama atau tradisi agama rekan dialognya ‘dari dalam’.

  • Hambatan Dialog

Di tengah kegemilangan ide untuk mewujudkan dialog antaragama, ada beberapa hal yang dipandang sebagai hambatan yang membawa kesulitan-kesulitan. Perlu diingat dan diakui bahwa dialog dalam arti komunikasi dalam tingkat manusiawi saja, dalam tukar-menukar informasi saja tidak mudah, apalagi dialog antaragama.

Hambatan-hambatan dalam membangun dialog antaragama yakni: pertama, pengetahuan dan pemahaman yang dangkal akan agama-agama lain secara benar dan seimbang, yang akan menyebabkan kurangnya penghargaan dan sekaligus akan  mudah memunculkan sikap-sikap curiga yang berlebihan. Kedua, kurang yakin terhadap nilai-nilai dialog antaragama; sejumlah orang menganggapnya sebagai tugas khusus para ahli atau melihat dialog sebagai salah satu tanda kelemahan.

Ketiga, perbedaan kebudayaan karena tingkat pendidikan yang tidak sama; juga masalah bahasa yang sangat peka dalam kelompok-kelompok tertentu. Keempat, faktor-faktor sosial politik dan beban ingatan traumatis akan konflik-konflik dalam sejarah. Kelima, merasa diri cukup atau paling sempurna, sehingga memunculkan sikap-sikap defensif dan agresif.

Keenam, permasalahan zaman sekarang ini, misalnya, bertumbuhnya materialisme, sekularisme, sikap acuh tak acuh dalam hidup beragama, dan banyaknya sekte-sekte keagamaan fundamentalis yang menimbulkan kebingungan dan memunculkan persoalan-persoalan tertentu.

Ketujuh, sikap tidak toleran yang kerap kali diperparah oleh faktor-faktor politik, ekonomi, ras, etnis, dan aneka kesenjangan lainnya. Hambatan- hambatan ini tidak menjadikan kita pesimistis untuk membangun dialog antaragama. Melainkan membantu kita untuk terus melihat dan berjuang membangun dialog antaragama dalam membangun bangsa kita.

  • Agama Berdialog Membangun Bangsa

Kemajemukan bangsa kita tidak perlu dipungkiri atau disamakan dan dikemas dalam satu kesatuan. Dalam hal ini tidak meleburkan semua keberbedaan dalam wadah yang satu dan sama. Hendaknya semua keberbedaan itu menyatu dalam satu tujuan yang sama untuk membangun bangsa, tanpa meleburkan diri menjadi satu. Singkatnya, yang dibutuhkan adalah persatuan bukan keseragaman.

Bila melihat lebih jauh dan jelas bangsa kita ini, maka kita akan menemukan beberapa kepincangan yang ada dalam bangsa kita, yang menimbulkan berbagai konflik yang sulit diselesaikan. Konflik itu muncul karena terdapat ketidakseimbangan dalam bangsa itu sendiri. Bangsa kita menyerukan perdamaian namun serentak pula muncul berbagai konflik dalam bangsa kita ini.

Lantas, siapa yang disalahkan, mengapa muncul konflik, apakah mungkin pihak agama juga disalahkan. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita perlu kembali pada landasan utama bangsa kita yakni Pancasila. Kelima nilai yang terkandung dalam Pancasila itu merupakan falsafah bangsa kita sekaligus menjadi harapan atau cita-cita bersama, yakni mencapai kesejahteraan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Dalam keberbedaan itu dibutuhkan suatu dialog yang intens. Dialog oleh siapa dan untuk siapa.

Bangsa kita mengakui enam agama yang secara resmi termuat dalam pasal-pasal UUD 1945, yaitu agama Islam, Kristen protestan, Hindu, Budha, dan Katolik, dan pada masa presiden Abdurrahman Wahid diakui pula agama Konghuchu di Indonesia. 

Keenam agama yang diakui itu tentu mempunyai ajaran masing-masing dan mengandung nilai-nilai luhur dari ajaran-ajaran tersebut. Dan para penganutnya terus berusaha untuk mempertahankan ajarannya dan melihat agamanya sendiri lebih bernilai ketimbang agama-agama lain. Hal ini menjadi tanda bahwa orang menutup diri dan tidak menerima dan mengakui keberadaan agama-agama lain. Ketertutupan ini membuat orang cenderung berpikir negatif atas realitas yang ada di luar diri dan agamanya, dan orang kemudian mulai membangun tembok-tembok pembatas diri yang membuat ruang geraknya sendiri tidak bebas, dalam hal  ini ruang geraknya terbatas.

Di sini, tentu saja secara tidak langsung mereka mempertanyakan pluralitas bangsa.  Dengan menyangkal hal ini, maka nilai-nilai luhur bangsa yang ingin diperjuangkan perlahaan mulai luntur dan kabur.

Untuk membongkar semua itu dibutuhkan dialog. Dialog itu akan terjadi jika orang saling terbuka, dan dengan itu orang akan mudah untuk mencapai pemahaman yang sama atau kesepakatan bersama. Dan salah satu dialog yang sedang dibangun adalah dialog antaragama. Bangsa kita tidak memaksa seseorang untuk memeluk suatu agama. Pasal-pasal  dalam UUD 1945 menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk, untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya. Hal ini berarti negara tidak bermaksud untuk mencampuri urusan warganya dalam memeluk suatu agama. Di sini bangsa berdiri pada tempat yang netral. Namun perlu disadari oleh pemeluk agama, bahwa agama-agama berada dalam “payung” bangsa. Ini berarti agama bertindak pada tataran bangsa, bukan di luar koridor bangsa, bukan berarti bangsa menekan agama.

Di bawah “payung” kebangsaan itu, agama-agama seharusnya membangun dialog yang kondusif demi terciptanya damai dalam bangsa. Karena itu tepatlah, bahwa perlu adanya dialog antaragama. Dialog itu bukan hanya dengan agama-agama, tapi perlu juga membangun dialog intraagama. Dialog intraagama ini bermaksud agar orang tahu secara sungguh dan mendalam agamanya sendiri dan memperdalam iman dan kepercayaannya. Orang akan berdialog dengan baik bila ia memiliki pengetahuan yang baik atau mempunyai dasar yang kuat akan imannya dan mampu mempertanggungjawabkan imannya secara rasional. Orang tidak mungkin berdialog dalam kekosongan.

Dialog bukan berarti saling menyerang dan mencari titik lemah atau kekurangan dari lawan bicara. Namun lebih pada shering hidup atau dialog pengalaman iman.”Dialogue and mission 35 melihat perbedaan-perbedaan yang terkadang besar tidak menjadi halangan dalam dialog, karena tentu saja orang mengembalikan perbedaan-perbedaan itu kepada Tuhan.” Pernyataan ini mau menegaskan bahwa iman yang mendalam dan kepercayaan yang teguh kepada Allah mampu mengatasi persoalan hidup.

Dengan iman yang mendalam orang sudah pasti memiliki keutamaan-keutamaan hidup dalam dirinya. Dan dengan keutamaan-keutamaan itu ia mampu membangun relasi dengan sesama secara lebih luas. Dialog antaragama itu mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan bangsa. Dialog itu akan tetap ada sepanjang hidup. Jadi tidak ada kata bahwa ”kami tidak lagi membutuhkan dialog, karena kami sudah hidup damai dan bahagia.” Pernyataan ini justru menunjukan bahwa ia sedang ”menguburkan” dirinya. Menyangkal adanya dialog sama halnya menyangkal sesama “yang lain”, sebab orang tidak mungkin mengenal sesamanya tanpa berdialog. Agama-agama yang ada dalam “payung” bangsa harus menyadari bahwa dialog antarmereka dibutuhkan untuk membangun bangsa, bukan untuk mencari titik lemah dan saling menjatuhkan.

  • Tunggal Ika

Seruan untuk berdialog antaragama masih tetap dan terus aktual dan relevan sampai saat ini. Ia tetap relevan dan aktual karena dialog ini terus berusaha untuk menemukan hakikat sejati dialog dan tujuan hakiki dialog itu sendiri.

Antara agama dan bangsa mempunyai keterkaitan satu sama lain. Keduanya bertujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup. Namun perlu di ingat bahwa agama berada dalam “payung” bangsa. Itu berarti nilai-nilai luhur agama tidak keluar dari nilai-nilai luhur bangsa kita.

Dalam hal ini agama mengambil bagian dalam bangsa, karena ia ada dalam bangsa itu sendiri. Jadi, dialog antaragama itu penting untuk mengakrabkan diri dengan agama lain tanpa meleburkan diri dalam membangun bangsa. Kita patut berbangga atas pluralitas bangsa kita yang menjujung tinggi keberbedaan dalam persatuan di bawah semboyang bangsa kita yakni “BHINEKA TUNGGAL IKA”. (Mega Bere)