Suster Rose berlutut di tanah, dengan tangan terbuka lebar, memohon para perwira agar para tentara meninggalkan kompleks Gereja.
Suster Rose berlutut di tanah, dengan tangan terbuka lebar, memohon para perwira agar para tentara meninggalkan kompleks Gereja.

sergap.id, HEROIK –  Kisah perlawanan Suster Ann Rose Nu Tawng menjadi perbincangan tersohor di Myanmar. Ia kini bahkan dianggap sebagai simbol persatuan Myanmar yang tercabik-cabik akibat kudeta militer.

Biarawati Katolik ini dipuji secara luas di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha itu.

Foto-foto dari tindakan pembangkangannya menjadi viral dan menjadi berita utama di seluruh dunia.

Ia berlutut di tanah, dengan tangan terbuka lebar, memohon para perwira agar meninggalkan kompleks Gereja.

“Saya tidak akan berdiri sampai kamu pergi,” ujar Suster Rose kepada para perwira tentara Myanmar seperti dikutip SERGAP dari BBC Indonesia, Jumat (12/3/21).

Melihat Suster berlutut dan mendengar ucapan Suster, dua perwira pun langsung berlutut sambil mengatupkan tangan orang berdoa, lalu berkata, “kami juga memiliki tugas yang harus dipenuhi”.

Namun Suster Rose tetap bergeming pada pendiriannya. Ia kukuh untuk menyelamatkan nyawa para demonstran.

“Jika Anda benar-benar perlu membunuh, silakan tembak saja saya, saya akan menyerahkan nyawa saya,” tegasnya.

Protes massal di Myanmar terjadi semenjak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari melalui kudeta. Pihak militer mengklaim ada kecurangan dalam pemilihan umum yang baru dilaksanakan baru-baru ini.

Setidaknya 54 orang tewas dalam aksi protes yang menyerukan diakhirinya pemerintahan militer dan pembebasan para pemimpin pemerintah terpilih negara itu, termasuk Aung San Suu Kyi, yang digulingkan dan ditahan dalam kudeta itu.

Setelah berhasil mengusir para tentara, Suster Rose, mengatakan kepada BBC, “saya mengatakan kepada mereka, jika Anda benar-benar perlu membunuh, saya bisa menyerahkan hidup saya, kemudian mereka pergi.”

“Ada anak-anak yang terperangkap dan mereka tidak tahu harus lari ke mana, mereka sangat ketakutan,” katanya.

“Saya merasa perlu berkorban.”

“Anak-anak itu kemudian mengelilingi saya, mereka kelaparan, kehausan dan ketakutan, serta tidak berani pulang,” kata Suster Rose.

Sebelumnya, aparat militer terus menembaki kerumunan pengunjuk rasa anti-kudeta di Myitkyina, negara bagian Kachin, Myanmar.

“Rasanya seperti dunia sedang runtuh, ada begitu banyak suara tembakan sehingga saya harus lari ke arah gereja,” kenang Suster Rose.

“Saya meneriaki orang-orang agar tenang, tetapi tidak ada yang bisa mendengar saya pada saat itu.”

Ketakutan sang suster pun menjadi kenyataan. Setidaknya satu orang meninggal tidak jauh dari tempat dia bersembunyi.

Suster Rose pun bergegas mendekati anak muda yang kepalanya dihantam, terluka parah dan terbaring “dalam genangan darah” itu.

“Saya ingin membawa orang yang terluka. Tetapi saya tidak dapat melakukannya sendiri, jadi saya berteriak kepada orang-orang agar datang membantu saya.”

Kemudian, suster dan orang-orang yang membantunya terpapar gas air mata.

“Mata saya perih, kami semua terasa panas dan pusing. Kami berhasil membawa orang yang terluka itu, tapi semua anak-anak di sekitar menangis,” kenangnya.

“Kami semua sangat kesakitan.”

  • Melarikan Diri

Beberapa anggota polisi Myanmar melarikan diri melintasi perbatasan India setelah menolak melaksanakan perintah militer dalam kudeta.

Lebih dari selusin polisi pembelot mengaku melarikan diri karena tidak mau dipaksa untuk membunuh warga sipil.

“Saya diberi perintah untuk menembak para pengunjuk rasa. Saya jawab, saya tidak bisa,” kata Naing, nama yang disamarkan demi keselamatannya.

Kini, pria berusia 27 tahun itu bersembunyi di negara bagian Mizoram, India timur laut.

“Kami merasa militer salah telah menggulingkan pemerintah terpilih.”

Ya, sejak militer Myanmar, yang dikenal sebagai Tatmadaw, merebut kekuasaan pada 1 Februari 2021, ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi turun ke jalan.

Pasukan keamanan dituduh telah menewaskan lebih dari 50 orang.

Naing, seorang perwira berpangkat rendah dari sebuah kota di bagian barat negara itu, mengatakan, unjuk rasa di daerahnya mulai memanas pada akhir Februari.

Dia mengaku, dia kabur setelah dua kali menolak untuk menembaki para demonstran.

“Saya bilang pada bos saya bahwa saya tidak bisa melakukan itu. Militer gelisah. Mereka menjadi semakin brutal,” katanya. (pel/pel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here