Luasia Hoar, Warga Desa Maktihan Kecamatan Malaka Barat, salah satu korban yang tewas akibat diterkam Buaya.

sergap.id, BETUN – Sejak Januari hingga Maret 2018, sudah empat warga Kabupaten Malaka yang tewas akibat diterkam buaya di sungai Benenain dan muara Uluklubuk.

Korban pertama adalah Yeremias Seran (82), warga Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat. Ia diterkam buaya saat hendak mengambil air di sungai Benenain pada Kamis (4/1/18).

Saat itu, korban sedang berada di kebunnya dan hendak mengambil air untuk masak ubi. Tiba di tepi sungai, ia tidak menyadari jika buaya sedang mengamatinya. Dan, saat dia masuk ke aliran sungai, tiba-tiba saja buaya menerkamnya.

Warga yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan jasadnya hingga hari ini belum ditemukan. Warga hanya mendapati dua buah jerigen dan topi anyaman milik korban yang ditelatakan korban di pingiran sungai.

Korban Kedua adalah Lusia Hoar (50), guru SD GMIT di Desa Makthian, Kecamatan Malaka Barat. Ia tewas diterkam buaya ketika sedang menangkap kepiting di sungai Benenain pada Jumat (9/2/18). Korban tewas disaksikan oleh Olintia Nahak, cucunya sendiri.

Jasad korban ditemukan kembali setelah warga melaksanakan ritual adat yang dipimpin oleh pawang buaya bernama Alfons.

Korban Ketiga adalah Fransiskus Klau Tefa, Warga Desa Weoe, Kecamatan Wewiku. Ia diterkam buaya pada hari Senin (5/3/2018) ketika sedang memasang perangkap kepiting di muara Uluklubuk bersama dua rekannya, yakni Samuel Bria dan Frengki Banonaek.

Saat memasang perangkap, korban menyuruh dua rekannya naik ke tepi muara untuk menyiapkan perangkap lain. Saat itulah korban diterkam buaya dan menariknya ke dasar sungai.

Dua rekannya sempat berusaha menghalau buaya, namun upaya mereka sia-sia. Jasad korban ditemukan tidak utuh lagi. Yang tersisa hanya kepala dan kakinya. Anggota tubuh lain sudah di makan buaya.

Warga ketika mengevakuasi kepala dan kaki Fransiskus Klau Tefa dari muara.

Korban keempat adalah Susana Tora (55), warga Desa Naimana, Kecamatan Malaka Tengah. Ia diterkam buaya ketika hendak mengambil air minum bersama 4 saudaranya di sungai Benenain pada Senin (12/3/18) .

Tiba-tiba saja buaya menyerang dan menyeretnya ke tengah sungai. Keempat saudaranya sempat meminta bantuan pawang buaya. Namun upaya sang pawang hanya berhasil merebut jasad korban dari mulut buaya. Jasad korban akhirnya di bawa pulang dan dimakamkan.

Kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTT telah memasang rambu-rambu bahaya di tempat-tempat yang diduga menjadi sarang buaya. (sel/sel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.