Santy Taolin (dalam lingkaran) bersama ibu dan kedua adik kandungnya.
Santy Taolin (dalam lingkaran) bersama ibu dan kedua adik kandungnya.

sergap.id, ATAMBUA – Kristina Lazakar, seorang ibu beranak tiga di Atambua, Kabupaten Belu digugat oleh Santy Taolin, anak sulungnya.

Gugatan Santy Taolin dengan Nomor: 06/Pdt.G/2021/PN.Atb tanggal 22 Februari 2021 telah memasuki pokok perkara di Pengadilan Negeri Atambua.

Sidang dilanjutkan ke pokok perkara lantaran sidang mediasi sebelumnya ngagal mendamaikan ibu dan anak kandung itu.

Kasus ini didaftarkan ke PN Atambua oleh kuasa hukum Santy Taolin,  yakni Helio Monisz Araujo, SH., Ferdinand Ba’e, SH, dan Kornelius Dominggus Talok, SH.

Materi gugatan adalah perbuatan memasuki dan menyuruh orang lain memasuki pekarangan dengan merusakan pekarangan, menaruh alat-alat kerja, material-material, melakukan aktivitas kerja, dan mendirikan bangunan tambahan diatasnya secara tanpa hak dan tanpa izin yang berhak sehingga merupakan perbuatan melawan hukum.

Santy Taolin dalam gugatannya, menyatakan, tanah tersebut miliknya yang berasal dari almarhum ayahnya, yakni Dominggus Taolin (alm), dan sudah dilakukan penolakan warisan oleh mama kandungnya Kristina Lazarkar dan kedua adik kandungnya, yakni Ervina Taolin dan Hanny Oktvian Taolin, serta sudah ada putusan Pengadilan Negeri Atambua dengan Nomor: 13/Pdt.G/2016/PN.Atb jo Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor: 155/PDT/2016 PT.KPG.

Dalam sidang mediasi, Santy Taolin memilih tidak hadir di Pengadilan sampai mediasi dinyatakan gagal oleh Hakim.

“Iya benar saya digugat oleh anak kandung. Santy Taolin itu anak sulung saya, dia yang paling besar. Saya sudah tua dan tidak mengerti hukum, jadi perkara ini saya serahkan pada kuasa hukum saya dari Firma Hukum ABP untuk menghadapi gugatan anak kandung saya Santy Taolin”, ujar Kristina Lazakar seperti dikutip SERGAP dari AKSINEWS.ID, Senin (3/5/21).

Menurut Kristina, semua harta peninggalan suaminya hanya dikuasai oleh Santy Taolin.

“Lalu bagaimana (dengan) kedua adiknya? Apa mereka tidak memiliki hak warisan dari bapaknya?” ucapnya, lirih.

“Karena rumah ini saya yang tinggal, kemudian Santy Taolin gugat agar saya keluar dari rumah ini. Saya sebagai mama ingin agar harta ini dibagi adil dengan kedua adiknya. Dia (Santy Taolin) buat surat penolakan warisan saat itu, adiknya masih dibawah umur, waktu itu Hanny Taolin masih berumur 11 tahun. Saya serahkan semua ini pada kuasa hukum saya karena saya tidak mengerti hukum”, ungkap Kristina.

Rizal Simon Thene, SH, MHum selaku kuasa hukum Kristina Lazakar di Kupang, Minggu (25/4/2021), menjelaskan, perkara ini sudah memasuki pokok perkara.

“Selaku kuasa hukum, kami sudah siap menghadapi gugatan Santy Taolin. Gugatan Santy Taolin telah kami jawab pada hari Kamis, 22 April 2021. Menunggu repliek Santy Taolin sesuai jadwal yang diberikan Majelis Hakim pada Senin 3 Mei 2021,” katanya.

Rizal menambahkan, mengajukan gugatan adalah hak Santy Taolin. Soal benar atau salah tergantung pembuktian di Pengadilan dan penilaian Majelis Hakim.

Hanya saja, saat dibuatkan surat-surat warisan tersebut, posisi Hanny Taolin belum cukup umur atau belum cakap melakukan perbuatan hukum.

“Jika belum cakap melakukan perbuatan hukum, maka anak tersebut berada di bawah pengawasan orang tua. Jika hendak mengalihkan hak-hak warisan maka harus atas ijin Pengadilan,” tegasnya.

Kristina Lazakar dan anak-anaknya adalah warga Negara Indonesia keturunan Tiong Hoa, maka untuk membuat surat-surat warisan harus dengan akta yang dibuat di hadapan Notaris/PPAT.

“Kecuali pribumi dapat dibuat dengan menggunakan akta di bawah tangan,” ucapnya.

Soal Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor: 155/PDT/2016/PT. KPG jo. putusan Pengadilan Negeri Atambua Nomor: 13/Pdt.G/2016/PN.Atb yang disinggung dalam gugatan Santy, menurut Rizal, justru putusan Pengadilan itu membatalkan surat-surat warisan yang dibuat oleh Santy Taolin saat itu.

“Surat-surat itu oleh Pengadilan dinyatakan batal demi hukum, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dalam pertimbangan hukumnya. Tidak ada amar putusan Pengadilan yang memberikan hak warisan tunggal kepada Santy Taolin atas harta peninggalan almarhum Dominggus Taolin”, jelasnya.

Karena tanpa hak Santy Taolin melakukan balik nama atas sertifikat tanah tersebut, maka Santy Taolin telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Penyidik Polres Belu.

“Karena Santy Taolin tidak terima ditetapkan menjadi tersangka, Santy Taolin ajukan Praperadilan terhadap Polres Belu, tapi Praperadilan Santy Taolin ditolak Pengadilan Negeri Atambua. Ini perkara anak dan mama kandung, bukan mama tiri”, pungkas pria yang juga Dosen Fakultas Hukum Undana itu. (cis/fre)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here