Penangan kasus ini telah selesai melalui musyawarah pengambilan keputusan yang dilakukan oleh penyidik bersama pekerja sosial (Peksos) dan pembimbing kemasyarakan
Penangan kasus ini telah selesai melalui musyawarah pengambilan keputusan yang dilakukan oleh penyidik bersama pekerja sosial (Peksos) dan pembimbing kemasyarakan.

sergap.id, BAJAWA – Bimbingan orang tua perlu ditingkatkan agar anak tidak salah dalam bertindak seperti yang terjadi pada salah satu anak SD di Desa Wogowela, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada.

Anak berumur 12 tahun ini dilaporkan berbuat cabul berdasarkan Laporan Polisi (LP) Nomor: 65 / V / 2021 / NTT / Res Ngada tanggal 19 Mei 2021.

Awalnya pada Rabu 12 Mei 2021, sekira pukul 10.00 Wita, pelaku datang bermain bersama korban di rumah korban. Pelaku kemudian mengajak korban bermain di kebun milik tetangga. Di sana mereka bermain serbuk kayu gergaji.

Saat tengah bermain, pelaku mengajak korban untuk menjauh dari teman bermain yang lain. Setelah itu pelaku menurunkan celana korban, namun celana korban dinaikan kembali, karena pelaku takut.

Pelaku kemudian menyuruh temannya untuk turut serta. Keduanya kemudian merebahkan tubuh korban dan pelaku ke 2 membuka celana korban. Selanjutnya dia menindah korban dan menggosokan kemaluannya pada kemaluan korban. Namun pelaku masih menggunakan celana.

Setelah itu pelaku pertama gantian menindih korban. Tapi aksinya dilihat oleh kakak korban.

Kakak korban kemudian memakaikan kembali celana korban dan mengajak korban pulang ke rumah.

Sampai di rumah, masalah ini tidak diceritakan kepada orang tua mereka. Baru pada tanggal 18 Mei 2021, kakak korban menceritakan kepada neneknya. Maka tersebarlah aib ini.

Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Polres Ngada pada tanggal 19 Mei 2021.

Kapolres Ngada melalui Kasat Reskrim Polres Ngada, Iptu. I. Ketut Rai Artika, mengatakan, Pasal yang diterapkan dalam kasus ini adalah Pasal 76 e jo 82 ayat 1 UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan kedua UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagaimana telah diubah dengan Perpu RI No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Penangan kasus ini telah selesai melalui musyawarah pengambilan keputusan yang dilakukan oleh penyidik bersama pekerja sosial (Peksos) dan pembimbing kemasyarakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak yang berbunyi: dalam hal anak belum berumur 12 tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, maka penyidik, peksos, dan Pembimbing Kemasyarakatan mengambil keputusan untuk:

  1. Menyerahkannnya kepada orang tua atau wali.
  2. Mengitkutsertakann pelaku dalam program pendidikan, pembinaan dan pembimbingan di instasi pemerintah atau LPKS di instansi yang menangani bidang kesejahteraan sosial, baik di tingkat pusat maupun daerah paling lama 6 bulan.

“Hasil pengambilan keputusan dimaksud sudah diajukan ke pengadilan dan sudah mendapatkan penetapan dari pengadilan dengan nomor penetapan Nomor : 1 / Pen.Anak/ 2021 / PN.Bjw,” kata Rai Artika. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here