Guru dan peserta didik terpaksa menerjang banjirsaat ke sekolah maupun pulang sekolah.
Guru dan peserta didik terpaksa menerjang banjirsaat ke sekolah maupun pulang sekolah.

sergap.id, BOAS – Babahane adalah sebuah dusun terisolasi yang terletak di Desa Wemeda, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penelusuran SERGAP (5/5/2020) siang, kondisi jalan menuju kampung terpencil itu tanpa perkerasan jalan yang baik. Bahkan warga menyebut, jalan bebatuan itu dikerjakan sejak indonesia belum meredeka.

Dusun ini hanya berjarak kurang lebih 2  kilometer dari Desa Dirma, desa tetangganya, yang juga merupakan wilayah Boas ibukota Kecamatan Malaka Timur.

Kala musim hujan, masyarakat Babahane terpaksa mengurung diri di rumah masing-masing. Mereka tak bisa pergi kemana-mana. Maklmum wilayah mereka dikepung sungai besar yang tak memiliki jembatan penyeberangan.

“Tidak ada jembatan penghubung antara Babahane dengan Boas,” ujar Moses Luan, mantan Caleg DPRD Malaka asal Partai Perindo.

Kampung Babahane terbagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Babahane A dan Dusun Babahane B. Ada sekitar 100 lebih  Kepala Keluarga (KK) yang tinggal disana. 90 persen bekerja sebagai petani. Sementara ASN bisa dihitung dengan jari.

Selain tak memiliki jembatan dan akses jalan yang buruk, wilayah ini juga belum dialiri listrik. Itu sebabnya, jika malam tiba, masyarakat hanya mengandalkan lampu petek untuk penerangan.

Menurut Moses, dulu pernah diusulkan pembangunan jembatan gantung, akan tetapi sejak tahun 2017 hingga 2020, usulan tersebut tak pernah dijawab oleh Pemerintah Kabupaten Malaka.

Walau terpencil dan terisolasi, Babahane dikenal sebagai kawasan tanah subur dan air berlimpah. Bahkan air bersih yang dipakai masyarakat Boas berasal dari kampung kecil ini.

Sayangnya, jika musim hujan tiba, guru dan peserta didik terpaksa menerjang banjir, baik saat ke sekolah maupun pulang sekolah.

  • Internet

Penggunaan internet sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern saat ini. Namun tidak halnya dengan warga Babahane. Bagi mereka, internet adalah barang langka. Jangankan smartphone canggih, listrik saja mereka belum pernah nikmati.

“Bagi kami hal biasa. Meski keadaan seperti ini, kami sudah mampu beranak cucu disini,” tutur Moses Luan.

Kata Moses, sebagian besar warganya tidak mengenal istilah internet.

“Jangankan internet, kami juga belum pernah menikmati listrik sama sekali. Jika malam tiba kami hanya mengunakan padamala atau lampu minyak tradisional,” ucapnya.

Moses berharap Presiden Joko Widodo sedikit melirik memperhatikan kehidupan warga Babahane.

“Yang kami butuh adalah akses jalan jembatan dan listrik. Itu yang utama,” pungkasnya. (sel/sel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.