Kristina dan Santy semasa masih akur
Kristina dan Santi ketika masih akur.

sergap.id, ATB – Tega banget ibu kandung dilaporkan ke pengadilan hanya gara-gara ingin menguasai warisan ayah! Begitulah penggalan tanggapan netizen ketika membaca berita tentang seorang ibu di Atambua, Kabupaten Belu, digugat oleh anak kandungnya.

Sang ibu yang bernama Kristina Lazakar (53) itu, mengaku, tujuan gugatan anaknya adalah mengusirnya dari rumah, sebuah rumah hasil kerja kerasnya bersama Dominggus Taolin, mendiang suaminya yang telah meninggal pada 6 Januari 2007 lalu.

Kini kasus ‘aneh’ tersebut sedang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Atambua dan mendapat perhatian luas dari masyarakat NTT.

Ibu dari tiga anak itu mengaku tak habis pikir kenapa Santy Taolin, anak sulungnya itu, tega menyeretnya ke pengadilan hanya karena ingin menguasai sendiri warisan orang tua. Padahal Santy memiliki dua orang adik yang juga memiliki hak yang sama atas harta tersebut.

Menurut Kristina, Santy tahu betul bagaimana perjuangan orang tua membesarkannya dan kedua adiknya setelah ayah mereka meninggal dunia. Bahkan sampai sekarang Santi juga tahu bahwa hanyalah mamanya seorang yang menjadi benteng keuangan bagi Hanny Oktavian Taolin, adiknya yang masih kuliah di Surabaya, Jawa Timur.

Terlepas dari prahara yang sedang menimpa keluarga Taolin itu, Kristina punya cerita pahit yang patut disimak sekaligus bisa dijadikan pelajaran, agar setiap orang tua patut dihormati, walaupun di saat tua mereka ada kesalahan yang mereka buat.

Cerita hidup Kristina dan Santy mulai dari Mena, Oepuah, Biboki Moenleu, Timor Tengah Utara (TTU) hingga ke Suai, Covalima, Timor Leste, dan Atambua, Belu.

Karena keadaan ekonomi yang sulit, usai menikah tahun 1979 di Mena, Kristina bekerja sebagai pembuat kue dan menjualnya sendiri ke pasar. Sedangkan suaminya berprofesi sebagai sopir bemo.

Tahun 1980 Santi lahir, dan profesi penjual kue terus dilakoni pasca melahirkan Santy.

Setiap hari, sebelum ke pasar, Kristina terlebih dahulu memandikan Santy dan memberinya makan. Setelah itu, dengan menggendong Santy, Kristina menuju pasar sambil berharap dagangannya terjual habis.

Saat itu di Mena masih terasa aneh jika ada seorang wanita berjualan kue di pasar. Apalagi memiliki anak yang masih kecil. Itu sebabnya Kristina menjadi bahan omongan orang se pasar, bahkan di antara teman-temannya ada yang meremehkannya. Namun Kristina tak peduli. Itu semua dilakukannya demi membesarkan Santy.

Suatu hari, saat pulang kerja, suaminya nampak dongkol karena mendengar olokan orang-orang yang meremehkan Kristina karena berjualan kue di pasar.

Dan, biasanya, setelah suaminya tiba di rumah, Kristina menyuruh suaminya untuk berganti pakaian, lalu makan. Tapi kali ini suaminya tak menghiraukannya, dan tiba-tiba suaminya berkata, “Mama (panggilan untuk Kristina) jangan pergi ke pasar lagi. Jangan lagi”.

Mendengar itu, Kristina bingung, dan geleng-geleng tak mengerti apa penyebabnya. Namun Kristina urung bertanya. Ia tetap bersikap diam agar suaminya tidak terkena serangan darah tinggi.

Beberapa saat kemudian, ketika suaminya terlihat mulai tenang, Kristina kembali mengajak suaminya untuk makan. Menu yang sudah disediakan di meja adalah sebakul nasi, beberapa ekor ikan goreng, sayur daun singkong, dan sambal kemangi kesukaan suami.

Akhirnya, Sang Suami mau makan juga. Usai makan, Kristina berbisik pelan kepada suaminya, “ikan yang dimakan itu, itu hasil dari saya jualan di pasar tadi.”

“Seandainya suami saya orang mampu, saya tidak akan pergi kepasar. Sejujurnya saya lebih suka memasak dan membersihkan rumah sambil momong anak,” kata Kristina.

“Sejak menikah tahun 1979, kami hidup susah. Tapi (syukurnya) kami tidak putus asa. Tahun 1980 Santy lahir. Di tahun itu, sambil menggendong Santy yang baru berumur beberapa bulan, saya berjalan keliling pasar untuk berjualan,” bebernya.

Suatu waktu, kata Kristina, saat sedang berjualan kue sambil menggendong Santy di pasar, ia bertemu dengan ayah kandungnya. Disertai air mata, Kristina bercerita kepada ayahnya bahwa hidupnya sedang susah.

Mendengar itu, beberapa waktu kemudian, ayahnya memberi bantuan kepada Kristina berupa satu unit mobil dum truck dengan catatan; Kristina harus mengembalikan uang membeli dum truck seharga Rp 35 juta.

“Saya menyanggupi permintaan bapak,” ucap Kristina.

Selepas itu, mobil yang diberikan oleh ayahnya dikemudikan sendiri oleh Kristina ketika suaminya sedang taksi atau sedang keluar masuk kampung untuk urusan jual beli ternak sapi.

“Ketika suami tidak ada, dan ada yang minta pasir, maka saya sendiri yang menyetir. Santy yang masih kecil tetap disamping saya. Dalam sehari saya bisa muat hingga 6 ret,” katanya.

Kehadiran dum truck tersebut membuat perekonomian keluarga Kristina membaik. Selain untuk makan sehari-hari, pendapatan yang diperoleh, juga disisikan untuk menabung.

Ekonomi mereka terus membaik seiring sukses suaminya menggeluti bisnis jual beli sapi, hingga akhirnya Kristina dan suaminya bisa membeli sebidang tanah untuk rumah tinggal.

“Kami tidak mau anak-anak hidup susah di kemudian hari,” ujarnya.

“Tahun 1986, anak kami kedua (Ervina Taolin) lahir. Waktu itu kami masih di Mena. Tahun 1991 kami pindah ke Timor Leste dengan modal dum truck pemberian bapak. Prinsip kami waktu itu, kalau mau maju harus keluar kampung. Setelah hijrah di Timor Leste, kami berjuang lagi disana. Dengan modal yang ditabung, disana kami membuka toko dan usaha armada bus rute Suai – Dili. Ada 4 unit waktu itu. 2 dari Suai ke Dili, dan duanya lagi dari Dili ke Suai nginap semalam,” paparnya.

Awal ke Timor Leste, kata Kristina, ia dan keluarganya mengontrak sebuah rumah selama 2 tahun hingga akhirnya bisa membeli rumah dan tanah yang mereka tempati.

“Tahun 1997, pas saya sedang hamil besar anak ketiga (Hanny Oktavian Taolin), tengah malam terjadi kebakaran. Satu toko dan rumah di belakang toko beserta segala isinya ludes terbakar. Kami tinggal pakaian di badan. Saya hampir mau gila waktu itu. Tapi tahun 1998 kami mendapat asuransi kebakaran sebesar Rp 500 juta. Dari uang itu kami bangun lagi rumah dan toko 2 lantai,” bebernya.

“Kalau mengingat kisah hidup dulu, saya seperti babu, tidak urus diri, hanya urus cari uang, karena ingat anak-anak yang masih kecil. Saya buka toko sampai jam 9 malam. Setelah itu mandi dan lanjut kerja mengolah 1 karung terigu untuk dibuat roti hingga jam 11 atau 12 malam. Dan, jam 3 pagi, saya harus sudah bangun untuk buat roti kue, karena pagi jam 7 toko sudah buka, dan kue beserta roti harus sudah siap jual. Habis gelar roti dan kue, saya harus cek manifest penumpang mobil, takut ada yang tidak dijemput, nanti orang mengamuk,” kata Kristina.

Tahun 1999 ketika Timor Timur lepas dari Indonesia dan berganti nama menjadi Timor Leste, Kristina dan kelurganya terpaksa meninggalkan Timor Leste.

“Waktu itu kami eksodus ke Atambua. Bapak saya beri saya toko yang sekarang bernama Gloria. Saat itu bapak saya langsung buatkan surat hibah dan sertifikat atas nama saya. Sambil usaha sedikit-sedikit, akhirnya kami bisa membeli tanah dan membuat rumah di Atambua yang saya tinggali sekarang. Tapi ironisnya, sekarang saya digugat oleh Santy dan kasusnya sedang berjalan di pengadilan,” uangkap Kristina.

BACA JUGA: Anak Kandung Gugat Mama Kandung Agar Si Mama Keluar dari Rumah

“Saya kecewa dan sakit hati. Santy sedang lupa diri. Melupakan saya sebagai Mama yang mengandung, melahirkan, dan merawatnya hingga besar sampai dia berumah tangga. Setiap saya ingat kisah hidup saya, saya selalu menangis. Saya benar-benar kecewa, sedih. Karena yang membuat saya menderita adalah anak kandung saya sendiri”, ujar Kristina dalam linangan air mata seperti dikutip SERGAP dari Aksinews.Id, Kamis (6/5/21). (cis/fre)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here