
sergap.id, KEFAMENANU – Sebuah video yang diunggah TikToker Jtlawyer memuat pernyataan Ketua DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Krsto Efi, terkait kondisi almarhumah dr. Icha setelah menghadapi tekanan yang terjadi saat sang dokter menangani seorang pasien yang dipagut ular.
Krsto Efi mengungkapkan bahwa dr. Icha kepadanya mengaku mengalami tekanan dan intimidasi dari Anggota DePeEr Veronika Lake (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Therensius Lazakar (Partai Golongan Karya), dan Norbertus Tubani (Partai Kebangkitan Bangsa) yang kini ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda NTT.
Tekanan itu, menurut pengakuan yang disampaikan Krsto, membuat dr. Icha kehilangan kepercayaan diri untuk kembali menjalankan profesinya sebagai dokter.
“Intimidasi oleh teman-teman DPRD dengan nada tinggi,” ujar Krsto.
Menurut Krsto, dr. Icha merasa seolah-olah telah melakukan kesalahan besar dalam menangani pasien. Padahal, kata dia, tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah mengikuti SOP dan sebelumnya dikonsultasikan dengan dr. Tri Maharani, ahli gigitan ular.
Kondisi tersebut membuat dr. Icha merasa malu untuk kembali menjadi dokter.
“Dia merasa kalau dia kembali jadi dokter, dia malu terhadap orang-orang yang melihat saat kejadian itu,” kata Krsto.
Pernyataan paling serius muncul ketika Krsto mengaku mendapat cerita langsung dari dr. Icha mengenai kondisi psikologis yang dialaminya.
Krsto mengatakan, dr. Icha kepadanya menyampaikan bahwa tekanan yang dialaminya telah membuatnya melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali.
“Akibat ulah teman bapak-bapak, saya melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali,” ujar Krsto, mengutip pernyataan yang menurutnya disampaikan dr. Icha.
Mendengar pengakuan tersebut, Krsto mengaku berusaha memberikan penguatan kepada dr. Icha agar tidak kembali melakukan tindakan tersebut.
Ia juga meminta dr. Icha untuk segera pulih sehingga dapat kembali memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat TTU.
Krsto juga menyampaikan permohonan maaf atas nama lembaga DPRD TTU kepada dr. Icha dan keluarganya.
Namun, Krsto menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui secara detail mengenai ucapan maupun tindakan yang dilakukan oleh ketiga anggota DPRD TTU itu pada malam kejadian.
“Dia tidak menjelaskan kepada saya secara detail kira-kira kata-kata atau apa yang disampaikan teman-teman saat kejadian tanggal 13 malam itu. Hanya beliau menyampaikan bahwa mereka dengan nada keras memprotes,” katanya.
Krsto kembali menegaskan bahwa berdasarkan cerita yang diterimanya, dr. Icha merasa tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai SOP dan telah melalui konsultasi dengan dokter ahli.
Krsto menjelaskan dirinya bertemu dengan dr. Icha pada 17 Juni malam di Rumah Sakit Leona. Pertemuan itu berlangsung setelah keluarga dr. Icha melaporkan persoalan intimidasi ke kantor DPRD. (le/le)
































