
sergap.id, KUPANG – SMA Negeri Keberbakatan Olahraga (SKO) Flobamorata, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap menempatkan pendidikan akademik sebagai bagian penting dalam pembinaan siswa, meski porsi latihan olahraga diberikan lebih besar.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Valerianus Djerahu, S.Pd.Gr, menjelaskan SKO memiliki kekhususan sebagai sekolah yang membina siswa dengan bakat olahraga.
Menurut Valerianus, secara akademik para siswa tetap mengikuti kurikulum SMA pada umumnya. Kegiatan pembelajaran akademik berlangsung pada pagi hari seperti sekolah reguler.
Namun, karena SKO merupakan sekolah keberbakatan olahraga, porsi latihan fisik dan pembinaan cabang olahraga dibuat lebih besar.
“Untuk akademiknya 40 persen, sedangkan olahraganya 60 persen,” jelas Valerianus.
Ia menegaskan, besarnya porsi latihan olahraga tidak berarti pendidikan akademik diabaikan. Para siswa tetap mengikuti berbagai evaluasi pendidikan, termasuk ujian semester hingga asesmen nasional.
Dengan demikian, para siswa tetap memperoleh ijazah pendidikan formal yang dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
“Kalau olahraga memang menjadi prioritas, tetapi akademik tidak dikesampingkan,” katanya.
Valerianus menjelaskan, lulusan SKO tidak harus melanjutkan karier hanya sebagai atlet. Dengan ijazah yang dimiliki, siswa tetap mempunyai kesempatan memilih berbagai bidang pendidikan sesuai minat dan kemampuannya, termasuk bidang pendidikan maupun kesehatan.
-
Atlet Berprestasi Diberi Dispensasi
Bagi siswa yang memiliki prestasi olahraga dan harus mengikuti pertandingan, pemusatan latihan maupun kejuaraan di luar daerah bahkan luar negeri, pihak sekolah memberikan dispensasi.
Meski demikian, dispensasi tersebut tidak membuat siswa kehilangan hak mendapatkan pendidikan.
Valerianus mengakatan, ketika berada di luar daerah atau luar negeri, siswa tetap mendapatkan pelayanan akademik dari sekolah.
Guru dapat memberikan tugas maupun catatan pelajaran melalui aplikasi WhatsApp. Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat mengerjakan tugas dan melengkapi materi pembelajaran di sela-sela menjalani latihan atau pertandingan.
“Walaupun diberi dispensasi, tetap kami melayani kebutuhan pendidikan mereka,” ujarnya.
-
Seleksi Siswa Tidak Main-Main
Untuk penerimaan peserta didik baru, SKO menerapkan proses seleksi yang cukup ketat. Sekolah tidak secara khusus mencari atlet yang benar-benar baru mengenal olahraga, tetapi lebih memprioritaskan calon siswa yang telah memiliki dasar dan pengalaman dalam cabang olahraga tertentu.
Calon siswa umumnya telah mengikuti klub olahraga, pernah mengikuti pertandingan atau menjalani latihan secara rutin sejak tingkat SMP.
Untuk cabang olahraga bela diri, misalnya, calon siswa diharapkan telah memiliki pengalaman latihan di dojo atau tempat pembinaan lainnya.
Standar seleksi juga ditentukan oleh pelatih sesuai kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Ketatnya proses seleksi tersebut tidak terlepas dari keterbatasan kuota. Dalam satu angkatan, SKO hanya menerima 72 siswa.
Sementara jumlah peminat bisa mencapai sekitar 200 calon siswa.
“Memang harus begitu, karena setiap angkatan kami hanya menerima 72 orang,” jelas Valerianus.
-
Kini Membina 10 Cabang Olahraga
Perkembangan SKO juga terlihat dari bertambahnya jumlah cabang olahraga yang dibina.
Jika sebelumnya hanya terdapat sekitar enam cabang olahraga, kini jumlahnya berkembang menjadi sekitar 10 cabang olahraga.
Cabang olahraga yang dibina antara lain sepak bola, kriket, tenis meja, sepak takraw, kempo, karate, judo, pencak silat dan atletik.
Dari sejumlah cabang tersebut, kriket menjadi salah satu cabang yang dinilai menonjol dari sisi prestasi karena telah mengantarkan atlet SKO ke kompetisi internasional.
Saat ini bahkan terdapat dua atlet yang dipersiapkan mengikuti kegiatan olahraga di luar negeri. Salah seorang berada di Australia untuk mengikuti persiapan kejuaraan kriket, sementara seorang atlet lainnya dipersiapkan menuju Dubai.
Meski demikian, Valerianus menegaskan bahwa keberhasilan kriket tidak berarti cabang olahraga lainnya tidak memiliki prestasi.
“Kalau dari sisi prestasi internasional, kriket memang cukup menonjol. Tetapi bukan berarti cabang olahraga yang lain tidak unggul,” katanya.
Sementara dari sisi jumlah peminat, sepak bola menjadi salah satu cabang yang paling banyak diminati calon siswa.
-
Atlet Angkat Besi Tetap Dibina
SKO juga masih memiliki seorang atlet angkat besi meski cabang olahraga tersebut sudah tidak lagi menjadi cabang pembinaan utama di sekolah.
Penghentian cabang angkat besi dilakukan karena hanya tersisa satu siswa yang menekuni cabang tersebut.
Namun, atlet tersebut tetap tinggal di asrama SKO dan menjalani program pembinaan melalui Pemerintah Provinsi NTT.
Dengan demikian, meskipun cabang angkat besi tidak lagi menjadi bagian dari cabang olahraga yang dibina SKO, atlet yang bersangkutan tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan program latihannya.
Dari sisi pembiayaan, kebutuhan hidup siswa selama berada di asrama ditanggung pemerintah.
Biaya tersebut meliputi kebutuhan makan dan minum, fasilitas tempat tinggal, listrik serta berbagai kebutuhan dasar asrama lainnya.
Meski demikian, siswa tetap dikenakan iuran pendidikan atau IPP sebesar Rp100 ribu per bulan.
Dengan pola tersebut, beban kebutuhan hidup siswa selama menjalani pendidikan dan pembinaan olahraga di asrama relatif lebih ringan.
-
Fasilitas Fisioterapi Belum Tersedia
Di balik pembinaan atlet dan prestasi yang terus berkembang, SKO masih menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan, khususnya untuk penanganan cedera dan pemulihan atlet.
Saat ini fasilitas kesehatan yang tersedia masih berupa Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
SKO belum memiliki ruang fisioterapi khusus untuk menangani cedera maupun proses pemulihan fisik para atlet.
Padahal, aktivitas latihan yang intensif membuat cedera menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi dalam pembinaan atlet.
Meski fasilitas fisioterapi belum tersedia, sekolah telah memiliki tenaga perawat yang bertugas menangani kebutuhan kesehatan siswa.
Kondisi ini menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan SKO ke depan, terutama jika sekolah ingin meningkatkan kualitas pembinaan atlet hingga ke level nasional maupun internasional.
-
Minat Masyarakat Terus Meningkat
Valerianus menilai SKO menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya animo masyarakat serta bertambahnya jumlah cabang olahraga yang dibina.
Dari enam cabang olahraga, kini berkembang menjadi sekitar 10 cabang.
Tingginya minat masyarakat juga terlihat dalam proses penerimaan siswa baru. Jumlah pendaftar dapat mencapai sekitar 200 orang, sementara kuota yang tersedia hanya 72 siswa.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa SKO semakin diminati sebagai tempat pendidikan sekaligus pembinaan atlet muda.
Namun, di balik tingginya minat dan prestasi olahraga, tantangan SKO ke depan adalah memastikan fasilitas pembinaan terus berkembang sehingga para siswa tidak hanya mampu berprestasi di arena olahraga, tetapi juga tetap memiliki fondasi akademik yang kuat untuk masa depan mereka. (neng/neng)
































