Dessy Caroline Chandra Jaya
Dessy Caroline Chandra Jaya

sergap.id, KUPANG – Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan tersangka Dessy Caroline Chandra Jaya kini telah P21. Namun menurut Dessy, kasus ini berawal dari pembongkaran pagarnya yang secara sepihak dilakukan oleh tukang yang dipekerjakan oleh kontraktor Hengki Go.

Berikut penjelasan Dessy kepada SERGAP:

Jadi, kasus ini sudah cukup lama. Ketika awal kasus ini dilaporkan, saya sudah serahkan beberapa bukti yang mengarah ke Perdata. Kenapa, karena memang ada gugatan perdata yang saya layangkan ke Pengadilan Negeri, dan masih berproses sampai sekarang. Belum ada putusannya!

Kasus ini terus berjalan melewati tahap klarifikasi dimana saya tidak mendapatkan kesempatan untuk klarifikasi, langsung naik status, ceritanya begitu.

Ketika naik status pun baru saya tahu bahwa yang dimaksud dengan penipuan dan penggelapan itu adalah barang-barang yang mana, karena awal saya bertanya tapi tidak dijelaskan secara detail apa yang dituduhkan dari pasal penipuan dan penggelapan.

Ketika satu minggu, langsung naik lagi ke status tersangka. Ketika naik status tersangka dan diambil keterangan, eh….sudah ada indikasi dimana saya akan ditahan. Maka, saya membuat surat agar tidak ditahan. Permohonan untuk tidak ditahan itu dengan alasan saya adalah orang tua tunggal dari anak saya yang baru berumur 9 tahun, perempuan, sekian lama kita tinggal sendiri.

Jadi segala kebutuhannya dia, baik sekolah, sehari-hari, semuanya bergantung penuh kepada saya. Oleh alasan itu, saya meminta untuk tidak ditahan dan yang menjadi jaminan adalah mama kandung saya.

Saya bertanya kepada penyidik, apakah itu sudah cukup, atau kalau belum sebagai jaminan, maka ada yang lain yang mau menjamin, tapi kata penyidik cukup. Ketika saya di BAP, itu tidak diindahkan dan saya tetap ditahan.

Ketika saya di tahan tiga hari, anak saya terus mencari saya, karena memang tiap hari anak saya selalu dengan saya. Karena saya takut psikologinya terganggu, maka saya membuat surat penangguhan penahanan dengan alasan yang masih sama bahwa anak saya membutuhkan saya, untuk saya bisa merawat dia secara finansial, kebutuhan hadirnya seorang ibu, itu dia sangat butuh. Tapi ditolak oleh Kapolres katanya. Itu pun saya dapat pemeberitahuan secara lisan dari penyidik.

Ketika saya ditahan selama 60 hari, saya hanya di BAP satu kali. Saya ditahan dari tanggal 28 Februari sampai 60 hari. Sore-sore baru saya dilepas.

Jadi selama itu saya hanya di BAP satu kali. Saya bingung. Karena yang saya tahu, tujuan seseorang di tahan agar mempermudah untuk diambil  keterangan dan tidak melarikan diri. Semetara selama pelaporan ini, sampai saat ini, saya tidak pernah berangkat ke luar pulau atau ke luar kota sekalipun. Saya tetap disini. Karena kalau saya berangkat, siapa yang urus anak saya, jadi pekerjaan luar kota pun saya tidak pernah mau ambil. Saya hanya ambil pekerjaan yang ada di Kota Kupang saja. Saya tidak pernah ada indikasi untuk melarikan diri atau menggelapkan barang bukti. Karena barang bukti itu masih terpasang sampai saat ini di lokasi. Masih lengkap.

Jadi saya terus bertanya, apakah saya ini membahayakan masyarakat kah? Atau saya teroriskah? atau saya seorang korupsi yang cukup membahayakan kalau saya di luar sehingga saya harus diitahan selama 60 hari sampai hak asasi manusi saya pun seakan tidak ada. Saya memenuhi kewajiban saya sebagai seorang ibu pun juga tidak bisa.

Pada saat saya ditahan, dua kali saya mengajukan surat permohonan, tapi tidak diindahkan, tidak dijawab setuju atau tidak, seakan-akan diabaikan, seakan-akan tidak ada surat yang masuk. Maka dengan terpaksa saya pakai pengacara.

Sebenarnya saya tidak pakai pengacara, karena keadaan keuangan saya sudah terbatas, dimana pekerjaan rumah itu terbengkelai, banyak pekerjaan yang harus kita perbaiki seperti seperti atap yang bocor, tembok miring, granit kita harus bongkar, karena granitnya tidak memenuhi konstruksi, karena dia gelombang. Maka dengan terpaksa saya pakai pengacara. Kalau saya terus tidak hadir sidang maka sidang perdata saya terbengkelai. Akhirnya sampai di hari ke 60 saya bebas demi hukum.

Yang membuat saya sampai sekarang terus bertanya, ada apa sebenarnya di Polresta? Ketika saya membaca salah satu media online tentang pernyataan Kasat Reskim yang menyatakan kasus saya sudah P21 dan sudah melewati tahap 2, maka saya mulai mencari tahu apa itu tahap 2?

Tahap 2 itu yaitu penyerahan tersangka dan saksi. Dan, yang saya tahu, harusnya saya juga ikut diserahkan. Tapi sampai hari ini justru itu tidak pernah terjadi. Surat pemberitahuan P21 atau surat pemberitahuan bahwa saya akan diserahkan ke Kejaksaan pun tidak ada sampai hari ini.

Yang membuat saya lebih heran lagi, setelah pernyataan Kasat Reskim, ada lagi pernyataan dari Kasi Pidum yang menyatakan bahwa berkas P21 belum diterima. Berarti jelas bahwa saya belum diserahkan dan berkas belum diterima. Disini membuat saya bingung. Kenapa Kasat Reskim menjawab demikian, dan Kasi Pidum punya jawaban tersendiri?

Dalam proses pun saya melihat banyak kejanggalan seperti surat berita acara peryitaan barang (kusen) tidak ada tanggalnya. Padahal yang saya tahu itu penting untuk sebuah peristiwa di mana kita harus tahu tanggal berapa itu disita seperti jendela dan kusen.

Klarifikasi saya terlewatkan karena penyidik menitipkan surat untuk saya pada orang yang dia sendiri tidak kenal, dan saya juga tidak kenal. Saya bertanya, siapa pak orangnya, biar saya cari, tapi dia bilang tidak tahu, intinya tetangga. Bagaimana mungkin surat penting yang harusnya saya terima atau anggota keluarga atau mungkin karyawan saya, intinya satu rumah, tapi tidak diberikan, malah diberikan kepada orang lain?

Karena ini, saya kemudian dinilai tidak kooperatif, padahal saya tidak menerima undangan itu, akhirnya klarifikasi terlewatkan dan saya tidak mendapatkan hak saya untuk bisa klarifikasi. Jadi banyak hal yang saya temukan disitu yang membuat saya bertanda tanya, ada apa ini?

Ya, saya tadi ke Posresta, saya menunggu Kasat hampir dua jam, tapi karena beliau tidak ada maka saya kembali pulang. Saya ingin bertanya, tahap itu (P21) belum saya lewati, kenapa dikatakan sudah? Bukankah kita harus menjalankan hukum sesuai dengan prosedur sebagaimana ketika saya ditahan, penangguhan saya ditolak, dan saya saya tetap ikut prosedur melawati dua tahap yaitu 60 hari?

Proses hukum saya dilaporkan oleh Hengki Go, kontaktor yang mengerjakan rumah saya. Alasannya saya tidak tahu kenapa, tapi pelaporannya itu terkait penipuan dan penggelapan. Penipuan seperti apa? Karena saya sudah dua kali melakukan pembayaran dari yang harusnya empat tahap.

Hasil (analisa) Politeknik  menjelaskan bahwa saya sudah membayar lebih dari 50 persen dan progres pekerjaan baru 30an persen. Karena saya sudah bayar Rp 215 juta dari nilai kontrak sebesar Rp 340 juta. Kenapa saya mengacu pada Politeknik, karena Politeknik adalah lembaga yang tidak mungkin memihak. Sehingga kita mengacu pada itu. Nah penipuan yang mana yang dimaksud, karena saya membayar.

Sedangkan untuk pasal pengelapan, barang-barang yang dituduhkan, semuanya masih ada sampai sekarang. Yang menjadi aneh lagi adalah ketika dia berhenti bekerja dan dia meninggalkan barang-barang itu, kenapa dia tidak ambil kalau memang itu barangnya? Padahal barang itu masih masuk dalam apa diperkarakan perdata ini.

Yang diperkarakan itu ada satu pintu, satu jendela, tujuh kusen jendela, dan empat kusen pintu, tapi belum di pernis, baru di pasang saja, dengan nominal Rp 8 juta lebih. Jadi barangnya ada. Makanya saya heran kok saya sampai ditahan 60 hari? Apakah saya membahayakan masyarakat dengan nilai Rp 8 juta itu? Apakah ini sudah terbukti benar bahwa saya menggelapkan? Karena status saya saat itu tersangka.

Ketika rekonstruksi lapangan, barangnya ada semuanya sampai saat ini. Saya bersyukur bahwa barang itu tidak hilang, karena saya tidak tinggal disitu. Saya kontrak di Pasir Panjang, kebetulan (lokasi rumah yang direnovasi) berada di Kuanino, agak jauh. Selama proyek pun saya jarang ke lokasi.

Barang yang dituduhkan kepada saya itu masih ada. Kalau hilang apakah tanya ke saya? Sementara saya tidak tinggal di situ. Disitu ada tukangnya, kenapa tidak bertanya ke tukangnya, kenapa ke saya?

Tapi baiklah, saya menghargai proses hukum, maka saya mengikuti BAP-BAP yang dilakukan oleh penyidik. Nilai kontrak itu 340 juta, yang sudah saya bayarkan 215 juta, jadi sudah diatas 50 persen.

Saya ditahan di sel Polresta. Saya perempuan sendiri di antara 80 laki-laki. Itu yang membuat saya cukup stress. Kondisi psikologi saya lumayan kacau, tapi saya coba bertahan. Selnya memang terpisah, tapi hanya dibatasi dengan pintu jeruji yang lubang besi-besinya tetap tembus, dua tangan orang dewasa bisa masuk. Bahkan pandangan dari batasan sel lorong pria ke kamar saya masih bisa.

Saya harap di proses hukum ini masih ada keadilan, saya sangat berharap masih ada keadilan. Kenapa? Karena tidak ada unsur yang dituduhkan pada saya, barangnya ada, saya pun bayar sesuai kontrak. Dan ini masih di rana perdata. Saya tetap mengharapkan, walaupun proses semua sudah berjalan dan saya melihat begitu banyak kejanggalan, tapi saya masih tetap berharap bahwa akan ada keadilan untuk terbuka semuanya bahwa ada apa semua ini, atau ada apa dengan Polresta, ada apa dengan angka 8 juta. Kenapa seakan-akan saya diperlakukan seperti saya penjahat. Saya meminta hak asasi saya untuk supaya anak saya bisa dirawat oleh saya, sehingga psikologinyapun tidak terganggu seperti saya, mendapat tekanan dari masalah ini. Dalam arti, saya cukup stress dengan tekanan ini seakan-akan saya penjahat, psikologi ini sudah menyentuh ke anak saya, dan itu kekwatiran saya. Saya berharap proses hukum bolehlah berjalan, tapi saya mohon perhatikanlah hak asasi kami. Terutama saya sebagai orang tua tunggal. Anak saya perempuan, umur 9 tahun. Saya hanya minta itu.

Kasus ini berawal dari saya mengajukan komplain kepada kontraktor tersebut atas pekerjaannya dia yang sampai sekarang masih kelihatan, karena saya belum ada kelebihan uang untuk memperbaiki pekerjaan itu, seperti atap yang bocor, tembok yang banyak kemiringan, dan lantai granit bergelombang.

Saya minta untuk perbaiki itu, baru masuk ke pekerjaan yang termin ke tiga. Karena termin pertama dan kedua sudah saya bayar, tapi pekerjaan belum selesai. Banyak  pekerjaan yang belum selesai seperti keramik, granit, plafon, instalasi air, banyak, tapi sudah saya bayarkan. Tapi dia meloncat  ke pekerjaan termin ke tiga. Itulah persoalan dimana dia tidak memilih untuk memperbaiki apa yang saya komplain, atau apa yang saya minta diperbaiki. Dia terus mengerjakannya.

Apa yang dikatakan Kata Hengki Go bahwa saya memutuskan pekerjaan, itu adalah sedikit kesalahpahaman dimana maksud saya kalimat yang pernah saya utarakan “proses hukum saja”, itu dikarenakan salah satu tukangnya dengan sengaja membongkar pagar rumah saya dan menjual. Kebetulan tukangnya juga sudah disidangkan, putusannya juga sudah ada, terbukti bersalah karena memang tukangnya juga mengakui itu. Jadi pagar saya itu dalam kontrak tidak masuk dikerjakan. Karena uang saya hanya cukup untuk bangun rumah, tidak dengan pagar. Tapi dengan sengaja tukangnya membongkar terus menjual.

Oleh karena itu saya meminta pertanggungjawabannya, ini penggantian pagarnya bagaimana? Kalau tidak, ya pasang saja yang lama. Tapi tidak kunjung ada pertanggungjawaban, makanya saya bilang ya sudah kita proses hukum saja. Karena barang ini ketika dibongkar saya tidak tahu, nah Pak Hengki sebagai kontaktor tahu, tapi tidak kasi tahu saya. Ini persoalan awalnya.

Seharusnya kontaktor yang setiap hari memantau proyek lebih tahu. Saya jarang sekali turun ke lokasi, karena saya harus sibuk cari uang dengan pekerjaan saya dan saya sibuk mengurusi anak saya seperti antar jemput, lesnya, makan minumnya, demikian.

Karena dia menolak memperbaiki pekerjaan, dan karena dia salah paham dengan yang maksud saya adalah proses hukum terhadap tukangnya, maka dia mengambil keputusan sendiri untuk berhenti bekerja sebelum tanggal selesainya kontrak, dan dia mengatakan bahwa saya membuat pemutusan kontrak secara sepihak.

BACA JUGA: Kronologi Dessy Caroline Chandra Jaya Dilaporkan Ke Polres Kupang Kota

Sebenarnya saya tidak pernah meminta dia berhenti, karena kita memulai dengan kontrak, harusnya kita selesai dengan kontrak juga, yakni kontrak pemutusan.

BACA JUGA: Guru dan Pendeta Ngaku Ditipu Pemilik Wedding Shop Kupang

Kita bisa duduk bermusyawarah utuk menghitung apakah ada kelebihan pekerjaankah yang harus saya bayar atau kelebihan pembayaran? Tapi ketika saya telepon dan telepon, dia tidak menggubris itu. Tiba-tiba dia melaporkan saya di perdata. Hasil keputusan perdata pada hakim adalah tidak dapat diterima, yang mana berikutnya sekarang ini, saya balik menggugat dia dan prosesnya masih sementara berjalan di Pengadilan. (cs/cs)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.