Dessy Caroline Chandra Jaya
Dessy Caroline Chandra Jaya

sergap.id, KUPANG – Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh pemilik Wedding Shop Kupang, Dessy Caroline Chandra Jaya, berawal dari permintaan Dessy kepada Hengki Go untuk merenovasi rumahnya yang beralamat di jalan Prof. Dr. WZ Yohanes, Nomor 20BC, Kota Kupang.

Tahun 2018 lalu, Dessy dan Hengky menyepakati biaya renovasi rumah sebesar Rp 340 juta yang tertera dalam kontrak kerja, Dessy sebagai pihak PERTAMA dan Hengki sebagai pihak KEDUA.

Dalam perjalanan, kontrak kerja ini direvisi. Alasan Dessy, isi kontrak terlalu bersifat umum.

“Karena dia minta revisi, saya ikut saja,” ujar Hengki saat mendatangi redaksi SERGAP di jalan Biknoi, Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Rabu (10/9/20) malam, sekira pukul 19.00 Wita.

Namun revisi kontrak tersebut tidak mengubah nilai kontrak. Isi kontrak baru ini memuat tata cara pembayaran yang disepakat 4 termin dengan beban kerja:

Termin 1: pemberian uang untuk pekerjaan sampai penutupan atap seng rumah sebesar Rp 100 juta.

Terkin 2: pemberian uang untuk pekerjaan pemasangan instalasi listrik, instalasi air, plafon, pemasangan seluruh keramik dan granit sebsar Rp 115 juta.

Termin 3: pemberian uang untuk pekerjaan pemasangan pintu, jendela, cat rumah, dan pembersihan (sampah pekerjaan) sebesar Rp 50 juta.

Termin 4: (tidak ada pekerjaan) pemberian uang saat serah terima pekerjaan sebesar Rp 75 juta.

“Tapi ketika kita sudah kerja 73 persen, tiba-tiba secara sepihak Dessy memberhentikan saya. Padahal kita sudah masuk pada pekerjaan termin 3. Termin 1 dan 2, dia sudah bayar, yakni termin 1 sebanyak Rp 100 juta dan termin ke 2 sebesar Rp 115 juta dengan cara cicil, pertama Rp 15 juta, kedua Rp 20 juta, dan ketiga Rp 80 juta. Sisa pekerjaan itu tinggal termin 3 senilai Rp 50 juta dan termin 4 serah terima kunci sebesar Rp 75 juta,” papar Hengki.

Menurut Hengki, pekerjaan termin 1 dan 2 adalah pekerjaan yang paling berat. Sementara pekerjaan termin 3 terbilang ringan.

“Tiba-tiba dia kasi putus kontrak. Jelas saya rugi. Karena keuntungan saya ada di termin 4. Sementara termin 1 dan 2 terpakai habis untuk beli bahan bangunan rumah. Begitu juga jika termin 3 lancar, semua akan terpakai untuk beli bahan bangunan rumah. Nah… keuntungan saya dan tukang itu ada pada termin 4. Tapi setelah termin 2, Dessy mulai berulah, tukang dia marah-marah, saya juga dia marah-marah. Tidak lama kemudian dia berhentikan saya lewat pesan WA,” beber Hengki.

Hengki menjelaskan, renovasi tersebut adalah menyatukan dua rumah menjadi satu rumah dengan luas bangunan 263 meter persegi.

“Selain pekerjaan yang tertera di kontrak, ada pekerjaan tambahan senilai Rp 57 juta. Di pekerjaan ini, Dessy baru bayar Rp 28,5 juta. Sisanya belum dibayar. Padahal untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada, saya telah mengeluarkan uang pribadi saya sebesar Rp 63 juta untuk beli bahan bangunan rumah. Ini karena di termin ke 2, Dessy membayar secara cicil. Kalau saya tidak keluarkan uang pribadi, maka tukang akan nganggur. Tentu yang rugi saya juga. Makanya saya keluarkan uang, dengan harapan di akhir pekerjaan nanti akan tertutup dengan uang yang dibayar oleh Dessy,” ungkapnya.

Dessy lantas secara sepihak memberhentikan Hengki. Padahal pekerjaan telah memasuki termin 3 dan di termin ini Dessy sama sekali belum membayar. Selain itu, Dessy juga membongkar bahan bangunan milik Hengki yang telah terpasang di rumah itu.

Itu sebabnya, Hengki melaporDessy ke Polres Kupang Kota dan tercatat nomor Laporan Polisi (LP) 850/STTLP/VIII/2019/SPKT Resor Kupang Kota, tanggal 28 Agustus 2019, dengan sangkaan penipuan dan penggelapan.

Kasus ini pun bergulir dan Dessy sempat ditahan selama 60 hari di sel wanita Polres Kupang Kota, setelah Polres Kupang Kota menggelar perkara pada Januari 2020.

  • Suwarno, Edy, Simon

Setelah Hengki diberhentikan, Dessy mempekerjakan Suwarno. Namun pria asal Jawa ini mengalami nasib yang sama dengan Hengki. Upah kerjanya sebesar Rp 1,5 juta tidak dibayar oleh Dessy.

Hal yang sama juga dialami oleh Edy Purwanto. Upah kerjanya sebesar Rp 1,2 juta, plus biaya angkut sampah dari rumah Dessy sebesar Rp 2,1 juta, juga tidak dibayar oleh Dessy.

“Waktu saya minta uang saya, dia nggak mau bayar. Saya bilang, kamu akan saya lapor ke polisi. Eh.. dia balik ngomong ke saya, kamu mau lapor, lapor saja, paling nanti saya lapor balik kamu. Saya bilang, ah.. orang ini gila, wong duit saya gak dibayar, kok ngancam mau laporkan saya ke polisi lagi. Akhirnya saya lapor dia ke polisi,” ujar Edy sambil menunjuk bukti laporan polisinya bernomor: 1354/STTPL/XII/SPKT Resor Kupang Kota, tanggal 28 Desember 2019.

“Dia tipu saya, makanya saya lapor dia ke polisi. Kemarin (Selasa, 9 Juni 2020) saya ke Polres ngecek perkembangan kasus saya. Kalau dia ngajak damai, saya gak mau, saya mau proses hukum saja,” tegas Edy.

Selain Hengki, Suwarno, dan Edy, Dessy juga dilaporkan oleh Simon Sara Tapun, pria berusia 65 tahun asal Hewa, Kabupaten Flores Timur.

Laporan Simon tercatat dengan nomor Laporan Polisi: 39/STTLP/I/SPKT Resor Kupang Kota, tanggal 9 Januari 2020.

“Sampai sekarang Desy belum bayar saya punya uang kerja sebesar Rp 950 ribu,” kata Simon.

  • Kasus P21

Kini kasus yang dilaporkan Hengki telah memasuk tahap P21 atau hasil penyidikan sudah lengkap dan siap di bawa ke meja pengadilan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sementara kasus yang dilaporkan Suwarno, Edy dan Simon sedang ditangani penyidik di Polres Kupang Kota.

“Perkara atas nama Dessy Caroline Chandra Jaya, oleh penuntut umum sudah dinyatakan P21 pada tanggal 14 Mei 2020,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kupang Kota melalui Kasi Intel, Albion M. Blegur, kepada wartawan di ruang kerjanya, pada Rabu (3/6/20).

BACA JUGA: Guru dan Pendeta Ngaku Ditipu Pemilik Wedding Shop Kupang

Sementara itu, Selasa (9/6/20) kemarin, Dessy menggelar jumpa pers. Sambil menangis dia mencurahkan isi hatinya kepada wartawan.

BACA JUGA: Dessy Caroline Chandra Jaya: Kasus Saya Ini Berawal dari Pagar Yang Dibongkar

Dia mengaku telah menjalani masa kurungan selama 60 hari di Polres Kupang Kota.

“Saya heran, kejahatan apa yang saya lakukan sampai hak asasi saya tidak bisa saya dapatkan. Dua kali saya memasukan surat penangguhan dengan alasan saya orang tua tunggal, anak saya membutuhkan saya, dengan jaminan orang tua kandung saya, tapi permintaan penangguhan saya ditolak,” ujar ibu satu anak yang telah bercerai dengan suaminya sejak tahun 2014 itu. (cs/cs)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.