Peristiwa naas ini dialami Hairudin pada hari Kamis 9 Desember 2021 lalu. Hairudin dianiaya di dalam kelas saat menjalan tugasnya sebagai guru
Peristiwa naas ini dialami Hairudin pada hari Kamis 9 Desember 2021 lalu. Hairudin dianiaya di dalam kelas saat menjalan tugasnya sebagai guru. (foto: ilustrasi)

sergap.id, KOMODO – Hairudin, umur 28 tahun, babak belur dikeroyok empat orang anggota keluarga  dari muridnya yang berinisial K, umur 16 tahun.

Peristiwa naas ini dialami Hairudin pada hari Kamis 9 Desember 2021 lalu. Hairudin dianiaya di dalam kelas saat menjalan tugasnya sebagai guru di MA Ar-Rahman Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Saat itu, Hairudin sedang mengawas ujian semester di kelas 1. Para pelaku datang sekitar pukul 09.00 Wita.

“Tiba-tiba mereka masuk, saya sambut, saya kira tamu, tapi tanpa basa-basi (seorang pelaku) langsung pukul saya di mata,” ujar Hairudin seperti dikutib SERGAP dari Pos Kupang, Senin (13/12/21).

Hairudin menjelaskan, ia tidak mengenal para pelaku, tapi ia dapat mengidentifikasi para pelaku. Sebab mereka datang bersama K.

Hairudin mengaku, matanya dipukul oleh pelaku A yang mengaku sebagai kakak dari K.

Setelah itu, A dan tiga pelaku lainnya secara membabi-buta mengeroyok hingga Hairudin terjatuh. Hairudin dipukul dan ditendang hingga mengalami luka di sekujur tubuhnya.

“Saya tersungkur, lalu mereka pukul dan injak-injak saya. Saya tidak tahu berapa pukulan dan tendangan ke wajah dan badan saya,” ungkap Hairudin.

Saat memukul, lanjut Hairudin, seorang pelaku mengeluarkan kata-kata kasar dan mengatai Hairudin sebagai guru yang kurang ajar.

Beruntung aksi main hakim tersebut dapat dilerai oleh sejumlah siswa kelas 3 yang berada di depan kelas.

“Saya sempat tidak sadarkan diri, saya rasa ini hidup saya yang terakhir, karena saya dikeroyok banyak orang,” katanya.

Kepsek MA Ar-Rahman Marombok, Ahmad Radit bersama guru lainnya yang berada di lokasi sempat melakukan mediasi.

Para pelaku dalam mediasi itu mengaku melakukan pengeroyokan karena tersulut emosi lantaran K dianiaya oleh Hairudin hingga patah kaki. Namun tudingan ini dibantah oleh Hairudin. Menurutnya, ia tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap K.

Diakuinya, pada Rabu 8 Desember 2021, ia sempat memberikan tindakan disiplin kepada K, lantaran pada hari sebelumnya K tidak masuk sekolah dan mengikuti ujian tanpa keterangan.

“Hari Rabu lalu dia (K) tidak hadir bersama 1 anak lagi. Lalu saya tanya kenapa tidak ujian? Lalu maju 2 anak itu, kemudian saya berikan tindakan disiplin berlutut di depan kelas tidak sampai 5 menit,” beber Hairudin.

Dalam kesempatan itu, lanjut Hairudin, Kepsek MA Ar-Rahman Marombok, Ahmad Radit pun menjelaskan tidak mungkin K mengalami patah kaki, sebab K masih terlihat sehat dan bersama keempat anggota keluarganya mendatangi sekolah.

Bahkan K terlihat memegang batu ditangan untuk melempari Hairudin.

“Katanya kakinya patah ditendang guru Hairudin ini, tapi kepsek katakan anak anda baik-baik saja, sampai kepsek minta anak itu lempar batu di tangannya,” katanya.

Setelah persoalan tersebut diselesaikan, keluarga murid mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara adat Manggarai.

“Setelah mediasi, saya bilang saya punya keluarga, nanti jawaban apa keluarga kalau keluarga merasakan keselamatan saya terancam, maka akan laporkan,” jawab Hairudin kepada para pelaku saat meminta maaf.

Akibat kejadian tersebut, Hairudin mengalami sakit dan kemerahan di mata kanannya, bengkak pada area kepala dan sakit di area punggung.

“Terutama punggung saya sakit sekali, sampai sekarang masih sakit,” katanya.

Tidak terima atas kejadian tersebut, Hairudin melaporkan kasus pengeroyokan tersebut ke Polsek Komodo. Ia juga telah menjalani visum et repertum di RSUD Komodo Labuan Bajo.

Ia berharap, pihak kepolisian dapat segera menindaklanjuti kasus tersebut, sehingga para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Ia juga mengharapkan dukungan dari semua elemen baik guru dan pemerhati pendidikan atas kejadian yang menimpanya.

“Harus ada undang-undang perlindungan terhadap guru, sehingga kita merasa adil, artinya kami guru rasa aman saat mengabdikan diri untuk anak bangsa. Karena banyak guru tinggal di pelosok dan jauh dari keamanan,” katanya.

Keluarga Hairudin juga berharap, pihak kepolisian dapat bekerja secara profesional dan segera menuntaskan kasus tersebut.

“Saya berharap aparat penegak hukum dapat menegakkan hukum seadil-adilnya,” kata Muhammad Nasir, kakak dari Hairudin.

Nasir juga meminta dukungan media untuk mengawal kasus tersebut hingga tuntas. (pk/poskupang)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini