Elisabet Hoar Belak (84).

sergap.id, HAETIMUK – Elisabet Hoar Belak (84), istri almarhum Antonius Taek Lala, tak bisa berbuat banyak ketika Pengadilan Negeri (PN) Atambua datang mengeksekusi tanahnya seluas 50 x 80 M2 di Dusun Kotafoun B, Desa Haetimuk, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka pada Kamis (22/3/18) siang.

Nenek tua renta itu tak habis pikir, kenapa tanah milik suaminya itu bisa berpindah tangan ke Bupati Kabupaten Belu, Willybrudus Lay alias Willy Lay? Padahal antara suaminya dengan Willy Lay tidak pernah melakukan transaksi jual beli tanah.

Fransiskus Mau Taek, anak kandung Elisabet yang dipercayakan untuk mengurus masalah tanah tersebut, menjelaskan, tanah seluas 50×80 M2 yang berlokasi di pinggir jalan itu berada dalam lokasi tanah seluas 5.600 M2 sesuai sertifikat tanah atas nama Antonius Taek Lala yang diterbitkan oleh BPN Belu bernomor: 12/520/1-4/11-01/Proda/2002, tanggal 14 September 2002. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh Kepala BPN Belu saat itu, Moses Bere Nahak.

“Kami menghargai keputusan (PN Atambua hingga MA) itu. Akan tetapi, jika bapak Willy Lay punya bukti jual beli, maka kami mohon tunjukan kepada kami,” pinta Fransiskus.

Menurut dia, tanah yang kini dikuasai oleh Willy Lay itu pernah di pinjam pakai oleh Willy Lay untuk tempat timbangan sapi sejak tahun 1985 hingga 1989. Saat itu tanah diserahkan oleh mantan Anggota DPR RI, Marten Bria Seran tanpa sepengetahuan pemilik tanah.

Namun dalam perkara di PN Atambua hingga Mahkamah Agung (MA), Willy Lay melalui kuasa hukumnya memakai seorang warga atas nama Alex Bria Klau sebagai saksi dan menyebutkan bahwa tanah tersebut sudah dijual kepada Willy Lay tanpa kwitansi seharga Rp 50 ribu.

Anastasia Hoar Taek, anak Elisabet yang ke 6,  sempat melakukan protes terhadap tim eksekusi tanah yang dipimpin oleh Panitera PN Atambua, Hendrikus Sega. Namun perlawanannya tak digubris.

“Kami memiliki sertifikat asli, serta tanaman umur panjang, silakan pak Willy Lay gusur itu tanah, kami menghormati hukum atau putusan pengadilan. Seorang bupati kok tidak mengerti hak masyarakat kecil, bagimana hukum (di negeri ini seolah) hanya memenangkan para penguasa?,” kata Anastasia.

Eksekusi tanah seluas 50 x 80 M2 di Dusun Kotafoun B, Desa Haetimuk, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka pada Kamis (22/3/18) siang.

Yohanes Lay (cucu pemilik tanah sesuai sertifikat tanah) yang kini berprofesi sebagai Anggota TNI pun tak bisa berbuat banyak ketika menyaksikan eksavator yang di bawa tim PN Atambua memasuki area yang dimenangkan Willy Lay.

Di saat yang sama, sejumlah anak cucu almarhum Antonius Taek Lala menangis histeris menyaksikan warisan leluhur mereka diambil oleh Willy Lay via tangan hukum PN Atambua dan MA.

“Saya Anggota TNI, saya bertugas mengayomi masyarakat, bukan merampas hak masyarakat dengan kekuasaan. Saya bersama keluarga sangat menghormati hukum serta keputusan pengadilan. Kami iklas. Kami serahkan Tuhan yang mengatur segalanya,” ucap Yohanes.

Papan pengumuman di lokasi tanah yang dieksekusi PN Atambua pada Kamis (22/3/18) sore.

Saat mengeksekusi lahan, Panitera PN Atambua, Hendrikus Sega, dikawal oleh Danramil 1605-04/Betun Mayor Inf Tasdig Pranoto beserta Anggotanya, Kapolsek Malaka Tengah (Malteng) AKP Rinaldy beserta Anggotanya, Kapolsek Weliman Iptu Yusuf beserta Anggotanya, Kapolsek Wewiku Iptu Manuel SM beserta Anggotanya, Kapolsek Besikama Ipda Hadi beserta Anggotanya, Kepala Desa Haitimuk Kandidus Nahak Manewain, Dansub 1 Unit Intel Dim 1605/Belu Serma Cristofa Bossa, dan Babinsa Haitimuk Koptu Alex Griwa. (sel/sel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.