Kuburan Almarhum Servasius Goa (53) yang semasa hidup akrab dipanggil Sius Goa.
Kuburan Almarhum Servasius Goa (53) yang semasa hidup akrab dipanggil Sius Goa.

sergap.id, WAEKOKAK – Ini kasus aneh yang terjadi di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal dipanggil bangkit dari kuburnya untuk mempertanggungjawabkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang belum dibuatnya semasa hidup.

Anehnya lagi, yang memanggil almarhum adalah Kepala Desa (Kades) setempat, yang tak lain adalah orang yang paling tahu kapan almarhum meninggal dunia.

Kasus ini berawal pada tanggal 4 Mei 2021 lalu, Penjabat Kades Waekokak, Severinus Fao, memanggil almarhum Servasius Goa (53) melalui surat Nomor: 474/WKK-NGK/184/05/2021.

Munculnya surat tersebut membuat kaget Dorothe Deku alias Dorce (51), istri almarhum. Sebab ia sedang berduka atas kepergian suaminya sejak 12 Desember 2020 lalu. Kematian  suaminya dibuktikan dengan Akta Kematian dari Dinas Catatan Sipil Kabupaten Nagekeo dengan NIK 5316011703680002 dan kutipan Akta Kematian Nomor: 5316-KM-04052021-0006.

Usut punya usut, ternyata surat Sang Kades itu menindaklanjuti hasil temuan Inspektorat Nagekeo Nomor: 771/IK/298/LHP/PKPT/2020 tanggal 30 Desember 2020 tentang pekerjaan proyek normalisasi kali mati di Dusun III dan IV Desa Waekokak senilai Rp 34.694.066.

Almarhum dipanggil karena semasa hidup menjabat sebagai Tim Pengelola Kegiatan atau TPK Waekokak.

Namun Dorce mengaku kecewa karena Penjabat Kades sudah tahu kapan suaminya meninggal dunia.

“Kenapa masih buat surat panggilan untuk suami saya? Ini disengajakan atau apa? Surat ini membuat saya dan anak-anak tidak nyaman. Seolah-olah suami saya makan uang,” ucapnya.

Porfirios Jo (27), anak sulung almarhum, juga mengaku kecewa dengan sikap Penjabat Kades.

Sebelumnya, menurut Jo, dirinya sudah dipanggil oleh Inspektorat untuk mengklarifikasi pekerjaan tahun 2018 itu.

“Tanggal 3 September 2020 lalu saya dipanggil. Saat klarifikasi, saya menjelaskan bahwa saya tidak pernah terlibat dalam urusan proyek itu. Saya justru kaget ketika melihat ada nama saya yang ditulis sebagai Kuasa Direktur CV Putra Wato. Padahal saya bukan Direktur. Saya ini hanya seorang petani. Saya kemudian buat pernyataan di atas meterai 6000 yang disaksikan oleh pengurus Desa Waekokak, yakni Hironimus Rambo, Petrus Regi dan Maria Anjelina Ude,” katanya.

Jo menambahkan, saat diminta klarifikasi, dirinya ditanya apakah pernah tanda tangan untuk pencairan uang?

“Saya jawab, saya tidak tahu dan saya tidak pernah tanda tangan. Setelah dicari tahu, ternyata untuk kepentingan pencairan uang itu, ada oknum aparat desa yang tiru saya punya tanda tangan. Hanya karena uang, mereka bisa rekayasa tanda tangan saya. Ini yang bikin saya jengkel. Sudah begitu, almarhum bapak saya juga dipanggil. Ini maksudnya apa? Apa masih kurang? Nama baik keluarga kami sudah menjadi pembicaraan masyarakat dan terkesan bapak saya yang makan uang desa? Tapi tidak apa- apa, Tuhan tidak buta, Tuhan tidak Tuli,” ucap pria sederhana itu.

Mantan Sekertaris Desa Waekokak, Petrus Regi, mengaku, dirinya juga dipanggil oleh Penjabat Kades Waekokak.

Menurut dia, hasil audit Inspektorat menyatakan ada temuan kerugian negara sekitar Rp 300 juta.

“Tapi secara fisik di lapangan, semuanya aman. Hanya secara administrasi belum dibuat SPJ oleh TPK,” tegasnya.

Penjabat Kepala Desa Waekokak, Severinus Fao, yang dihubungi SERGAP per telepon pada 5 Mei 2021 lalu, membenarkan jika dirinya memanggil almarhum.

“Saya hanya menindaklanjuti surat dari Inspektorat. Tidak ada motif atau tujuan lain,” ujarnya.

Kepala Inspektorat Nagekeo, Aleks Jata, SH, mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.

“Seharusnya pihak desa lebih tahu tentang warganya. Masa orang yang sudah meninggal masih dibuatkan surat panggilan? Ini keliru! Seharusnya pihak desa lebih proaktif, agar pesoalan seperti ini tidak terjadi,” tegasnya. (sg/sg)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini