Pulau Sumba memiliki potensi energi surya yang tinggi, utamanya di sebelah utara, timur, dan selatan, dengan iradiasi tertinggi sebesar 4,81-5,5 kilowatt per meter persegi.
Pulau Sumba memiliki potensi energi surya yang tinggi, utamanya di sebelah utara, timur, dan selatan, dengan iradiasi tertinggi sebesar 4,81-5,5 kilowatt per meter persegi.

sergap.id, JAKARTA – Pemerintah Pusat akan mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari proyek akselerasi. Sebab NTT memiliki potensi sumber EBT, seperti matahari, angin, serta arus laut yang besar, hingga mencapai 25 gigawatt.

Demikian disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam keterangan resminya, Senin (7/6/21).

Menurut Suharso, pengembangan ini bertujuan memenuhi kebutuhan energi, mencapai target bauran EBT nasional, sekaligus peningkatan rasio elektrifikasi.

“NTT memiliki potensi sumber energi terbarukan seperti matahari, angin, serta arus laut yang besar, hingga 25 gigawatt. Masih terdapat banyak ruang bagi EBT untuk tumbuh secara optimal, tentunya dengan menghadirkan enabling factors lainnya,” kata Suharso.

Dia menjabarkan strategi pengembangan EBT di NTT dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni jangka pendek; pengembangan EBT dimulai dengan mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi PLT EBT selama 3-4 tahun.

Jangka menengah dilakukan dalam dua tahap. Pertama, meningkatkan grid system ke wilayah-wilayah yang potensial secara ekonomi. Kedua, meningkatkan pemanfaatan energi non-listrik secara masif seperti bio-gas, bio-massa dan bio-solar untuk sektor rumah tangga dan transportasi.

Jangka panjang, perlu dilakukan konsolidasi proyek-proyek EBT di NTT, sehingga dapat terintegrasi ke jaringan smart NTT – Jawa dan ekspor EBT ke Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Jawa Timur.

Suharso akan memastikan pengembangan sumber daya manusia, kerangka regulasi, kerangka kelembagaan, serta kerangka pendanaan yang tepat untuk mendukung pelaksanaan pengembangan EBT di NTT.

Di sisi lain, dia menyebut juga dikembangkan progam EBT lain di NTT, seperti Sumba Iconic Island, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 1000 Pulau, Flores Geothermal Island, Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Larantuka, Program Biogas Rumah (BIRU), dan Koridor Interkoneksi Gigawatt Sumba-Jawa.

“Dengan karakteristik kepulauan serta kondisi ekonomi-energi saat ini, kami mendorong NTT sebagai Taman Energi Terbarukan, sejalan dengan komitmen pembangunan energi terbarukan nasional dalam RPJMN 2020-2024, PP Kebijakan Energi Nasional, Perpres Rencana Umum Energi Nasional, serta Rencana Umum Energi Daerah NTT,” ujarnya.

Suharso menambahkan Pulau Sumba memiliki potensi energi surya yang tinggi, utamanya di sebelah utara, timur, dan selatan, dengan iradiasi tertinggi sebesar 4,81-5,5 kilowatt per meter persegi.

Saat ini, sedang dikaji lokasi pengembangan tahap awal PLTS sebesar dua gigawatt dan pembangunan transmisi high-voltage, direct current (HVDC) 500 kilovolt dari Sumba ke Jawa.

Pemerintah daerah setempat menyatakan akan mempersiapkan lahan seluas 50 ribu hektare sebagai lokasi pembangunan PLTS Skala Besar di Sumba.

“Pengembangan EBT di NTT diharapkan dapat memberikan multiplier effect yang luas, baik dalam membuka lapangan kerja, membangkitkan aktivitas ekonomi wilayah, dan menarik investasi. Khususnya pada sektor pariwisata yang tengah tumbuh sangat cepat di NTT,” pungkas Suharso.

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here