Perumahan Pengungsi Tanah Merah Lembata
Perumahan Pengungsi di Tanah Merah, Kabupaten Lembata.

sergap.id, WAESESA – Pengerjaan proyek rumah bantuan bagi warga terdampak banjir tahun 2020 di Kabupaten Lembata hingga kini belum juga rampung.

Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) tipe 36 sebanyak 700 unit ini dibangun di tiga titik di Kecamatan Ile Ape, yakni di Tanah Merah 294 unit, Waesesa 173 unit, dan Podu 233 unit.

Informasi yang dihimpun SERGAP menyebutkan, proyek senilai Rp 107 miliar yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) ini seharusnya sudah selesai dan diserahterimakan kepada pemerintah pada tanggal 30 September 2021 kemarin, terutama yang di Waesesa dan Tanah Merah. Sayangnya, hingga kini perumahan itu belum juga selesai.

Akibatnya, warga terdampak yang sebagiannya kini masih tinggal di rumah pengungsian di pinggiran Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, menjadi galau dan risau. Sebab musim hujan 2021 telah tiba dan tempat tinggal mereka saat ini berpotensi terendam banjir, karena letaknya berada di dataran rendah.

Selain di rumah pengungsian bantuan Keuskupan Agung Larantuka itu, sebagian warga pengungsi juga tinggal di kebun-kebun milik kenalan mereka, dan sebagiannya lagi menumpang di keluarga di sejumlah kawasan di dekat Lewoleba.

PCM Waesesa, Yoling, mengatakan, keterlambatan pembangunan rumah bagi pengungsi itu, terjadi karena pemberlakukan PPKM dan kekurangan tenaga kerja. Namun pihaknya kini terus berupaya menyelesaikan pekerjaan agar dapat diserahterimakan pada bulan Desember 2021.

Perumahan Pengungsi Podu Lembata
Perumahan Pengungsi di Podu, Lembata.

Hal yang sama disampaikan PCM Podu, Heri Noviansyah.

“Mau tidak mau harus selesai bulan depan (Desember 2021). Saat ini di Podu sudah berdiri 36 unit. Mungkin baru sekitar belasan persen. Tapi target kita serah terimakan tetap di tanggal 7 Desember. Tapi semua tergantung cuaca, karena sekarang sudah masuk musim penghujan,” ujar Heri kepada SERGAP di Lewoleba, Jumat (5/11/21) malam.

Aktivis Kemanusiaan yang juga mantan Anggota DPRD Lembata, Ipi Bediona, menyayangkan keterlambatan pekerjaan tersebut.

“Kita prihatin dengan pengungsi di Lembata ini. Musim hujan sudah di depan mata, tetapi kepastian kapan bangunan (rumah) itu selesai, belum kita dapatkan”, ucap Ipi saat bincang-bincang dengan SERGAP di markas LSM Barakat di Lewoleba, Jumat (5/11/21) sore.

Menurut dia, karena proyek ini perintah Presiden Jokowi, seharusnya PT Adhi Karya dapat selesaikan pekerjaannya tepat waktu.

“Koq terhadap perintah Presiden, orang (Adhi Karya) masih bermain-main? Mestinya Kementerian PUPR tidak boleh tinggal diam atas ini”, pintanya.

Perumahan Pengungsi Waesesa Lembata
Perumahan Pengungsi di Waesesa, Lembata.

Ipi menjelaskan, sudah bukan rahasia lagi di Lembata bahwa keterlambatan pekerjaan itu akibat ulah oknum-oknum di PT Adhi Karya yang mengsub-subkan proyek tersebut kepada kontraktor-kontraktor lokal.

“Koq bisa terjadi? Ini artinya pengawas pemerintah yang membantu PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) tidak berfungsi. Mestinya dia melaporkan kasus ini ke pusat. Karena ini proyek mendesak. Ini proyek mengatasi dampak bencana. Karena pengungsi butuh menempati rumah itu sebelum musim hujan. Tapi sekarang,,,,, kan tidak ada kepastian. Nah pertanyaannya apakah ini upaya merusak reputasi Presiden Jokowi atau inilah kualitas (PT Adhi Karya) merealisasikan janji pemerintah?”, ujarnya.

Menurut Ipi, seharusnya Pemerintah Pusat segera mengambil tindakan tegas terhadap PT Adhi Karya. Karena kualitas kerja PT Adhi Karya di Lembata sangat buruk, mulai dari pembangunan Kantor Bupati Lembata, Kantor DPRD Lembata, hingga perumahan untuk pengungsi banjir Ile Ape.

“Orang menganggap persoalan bencana Ile Ape ini sudah selesai. Karena selama ini diam-diam saja. Tidak terdengar lagi (termasuk di Media). Karena itu, perhatian terhadap pengungsi harus dibangkitkan kembali. Saya harap Bupati Lembata memasukan masalah pengungsi ini menjadi agenda kerja prioritasnya dia di periode ini”, ungkap Ipi.

Ipi menambahkan, sesuai data yang dimiliki terakhir, total korban banjir Ile Ape sebanyak 3000 lebih Kepala Keluaga.

“700 unit rumah ini belum untuk semua. Karena itu kita berharap ada penambahan rumah bagi pengungsi ini”, pungkasnya.

Sementara itu, Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil, mengatakan, masalah keterlambatan pengerjaan rumah pengungsi di Lembata sangat komplex. Mulai dari masalah sub kontraktor, tenaga kerja, hingga upah kerja.

“Persoalan paling serius adalah kinerja dari PT Adhi Karya. Bagaimana dia mengatasi pekerjaannya. Kadang bahan habis, dua tiga hari baru datang. Akibatnya tukang punya waktu terbuang percuma”, bebernya.

Bedil berharap Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, dapat mengalokasikan sebagian dana PEN untuk mengatasi masalah pengungsi, selain untuk peningkatan jalan raya di seluruh wilayah Lembata.

Ipi Bediona dan Ben Barakat
Ipi Bediona dan Benediktus Bedil saat mengunjungi pengungsi di Rumah Bambu Pasar Bao, Lembata, Jumat (5/11/21) malam.

Informasi terakhir yang diperoleh SERGAP menyebutkan, Presiden Jokowi akan menambah bantuan rumah bagi warga terdampak banjir Ile Ape dan Adonara sebanyak 2000 unit, yakni 800 untuk Adonara, dan 1200 untuk Ile Ape di tahun 2022 mendatang.

  • Pengungsi Mengeluh

Tresia Tada (51), warga Desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur, yang ditemui SERGAP di lokasi pengungsian di Rumah Bambu, Pasar Bao, Lembata, Jumat (5/11/21) malam, mengaku, saat ini ia dan keluarganya sangat kesulitan untuk mendapatkan pasokan makan minum. Sebab semua harta benda miliknya telah habis disapu banjir.

Untuk mempertahan hidup sehari-hari, Tresia dan 5 anggota keluarganya hanya mengandalkan bantuan dari orang per orang atau lembaga sosial, setelah pemerintah daerah tidak memberi bantuan lagi.

“Kami tinggal disini sudah sejak Juni. Awalnya kami ditampung di sekolah. Saat ini kami hanya mengandalkan bantuan. Karena harta benda kami habis. Kebun kami juga habis disapu banjir. Yang tertinggal di kebun kami hanya batu pasir dan kayu-kayu yang terbawa banjir”, paparnya.

Pengungsi Pasar Bao
Pengungsi di Rumah Bambu Pasar Bao, Lemnbata.

Hal yang sama juga disampaikan mama Kristina Kleden. “Semua persedian kami habis. Hewan-hewan kami habis. Kampung kami juga habis. Tapi dalam 6 bulan terakhir ini kami hanya dapat dua kali paket bantuan pemerintah daerah, yang isi per paketnya adalah 5 kg beras, 1 botol minyak, 20 bungkus Sarimi, 1 kg gula, satu bungkus kopi seharga Rp 10 ribu, dan pempers untuk balita”, ungkapnya.

Sementara itu, Pankras Kesa, mengatakan, dirinya kecewa dengan pemerintah daerah. Sebab pasca bencana banjir Ile Ape, mantan Bupati Lembata, Almarhum Yentji Sunur, menyuruh para pengungsi untuk sendiri mencari kos, dan uang kosnya dibayar oleh pemerintah.

“Waktu bencana itu, kami di Desa Lamawolo ada 36 rumah yang hilang, termasuk rumah saya. Terhadap kami, Bupati berjanji akan membayar uang kos. Benar,,,, akhirnya uang kos kami dibayar dengan cacatan sampai kami masuk rumah bantuan (Tanah Merah). Ternyata hanya dibayar selama 3 bulan senilai Rp 500 ribu per bulan. Setelah itu tidak lagi. Akibatnya kami diusir oleh pemilik kos. Itu yang kemudian membuat kami tinggal di rumah pengungsi (Pasar Bao) ini”, bebernya.

Saat ini, kata Kesa, ia dan pengungsi lain sangat sulit mendapatkan makanan. Karena itu, saat ini, makanan utama bagi para pengungsi adalah pisang dan ubi yang berasal dari pemberian orang-orang yang iba terhadap keberadaan pengungsi.

“Di sini (Rumah Bambu Pasar Bao) ada 25 rumah. Tapi tidak semua punya kamar WC. Tidak punya gentong air. Sekarang ini kami mengandalkan ubi dan pisang. Jika ada yang bawa pisang ke satu rumah, maka pemilik rumah itu akan bagikan semua pisang atau ubi ke semua rumah. Walau dapat sepotong-sepotong, ya kami nikmati saja, walau terkadang perut bunyi kiri kanan karena masih lapar”, ucapnya.

Emerensiana Wua (59), mengatakan, selain mendapat bantuan dari orang-per orang, ia dan warga pengungsi lain di Rumah Bambu Pasar Bao sering mendapat bantuan dari lembaga-lembaga sosial, salah satunya dari LSM Barakat.

“Kami berharap bantuan tidak berhenti disini. Karena kami masih sangat membutuhkannya”, pintanya.

pengungsi pasar bao (2)
Pengungsi di Rumah Bambu Pasar Bao, Lembata.

Camat Ile Ape, Simon Langoday, mengatakan, selain 700 unit rumah dari Kementerian PUPR, warga terdampak banjir Ile Ape juga akan mendapat bantuan rumah dari Human Initiative (HI) sebanyak 67 buah.

“Nilai per unitnya Rp 20 juta. Rumah contoh sedang di bangun Parekwalang (kebun orang lewotolok)”, ujar Simon kepada SERGAP di Lewoleba, Jumat (5/11/21) malam. (dek/kan)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here