Jika hasil rapid test itu memberikan hasil bahwa imun dalam tubuh tidak memberikan reaksi, berarti tidak ada virus atau bakteri yang sedang berada di dalam tubuh. Demikian pun sebaliknya, jika ada reaksi dari imun tubuh, maka IgM dan IgG di dalam tubuh sudah terbentuk untuk melawan masuknya virus atau bakteri.

sergap.id, JAKARTA – Publik memberikan reaksi yang kuat ketika mengetahui hasil rapid test seorang pasien yang dinyatakan saspek coronavirus. Padahal, bukan untuk mendeteksi virus, melainkan antibodi.

Berry Juliandi, Sekjen Akademi Ilmuwan Muda sekaligus pengajar di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB) membenarkan bahwa rapid test yang dilakukan di Indonesia saat ini memakai kit yang mendeteksi antibodi di darah.

Rapid test bekerja dengan mendeteksi antibodi di darah yang disebut dengan immunoglobulin IgG dan IgM (keduanya merupakan bentuk dari antibodi atau bagian dari sistem kekebalan tubuh). Antibodi ini jumlahnya akan meningkat seiring waktu inkubasi seseorang sejak terkena virus.

IgG (Immunoglobulin G) adalah jenis antibodi yang paling banyak berada di darah dan cairan tubuh lainnya. Antibodi ini bertugas untuk melindungi tubuh dari infeksi. Caranya, dengan mengingat apa saja bakteri atau virus yang sebelumnya pernah terpapar di tubuh seseorang. Sehingga, saat virus atau bakteri itu kembali lagi ke tubuh orang itu, tubuhnya sudah tahu bahwa virus itu harus dilawan.

Sedangkan, IgM (Immunoglobulin M) adalah antibodi yang terbentuk saat orang pertama kali terinfeksi oleh virus atau bakteri jenis baru. IgM ini pun terbentuk untuk melawan infeksi itu. Makanya, IgM dianggap sebagai garda terdepan pertahanan tubuh manusia.

Ketika tubuh merasa ada infeksi yang akan terjadi, kadar IgM di dalam tubuh akan meningkat sebagai persiapan melawan virus atau bakteri. Setelah beberapa saat kemudian, kadar IgM akan mulai menurun, digantikan oleh IgG yang akan melindungi tubuh dalam jangka waktu lebih lama.

  • Bagaimana cara melakukan Rapid Test?

Lanjut Berry, pasien akan diambil darahnya lewat ujung jari memakai jarum steril. Darah kemudian akan diteteskan di kit yang disediakan. Kemudian reagensia/cairan pendeteksi antibodi akan diteteskan pada tetesan darah. Nah, pola strip/pita yang muncul itulah yang menjadi hasil tes, apakah imun di dalam tubuh bereaksi atau tidak.

Jika hasil rapid test itu memberikan hasil bahwa imun dalam tubuh tidak memberikan reaksi, berarti tidak ada virus atau bakteri yang sedang berada di dalam tubuh. Demikian pun sebaliknya, jika ada reaksi dari imun tubuh, maka IgM dan IgG di dalam tubuh sudah terbentuk untuk melawan masuknya virus atau bakteri itu.

“Tapi rapid test ini kurang efektif karena peluang false negativenya tinggi. Ini dikarenakan jumlah antibodi yang mungkin belum cukup banyak di darah pada tubuh pasien positif misalnya di awal infeksi,” ujarnya.

Ahmad Rusjdan Utomo, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Research Institute (SCI) Jakarta, juga menjelaskan bahwa memang ada semacam misleading yang menyebut kalau rapid test ini akurat bahkan angkanya mencapai 95 persen. Sebab, untuk bisa mendapatkan antibodi, pasien harus terinfeksi dalam waktu yang lama, antara seminggu sampai dua minggu, baru dapat terbaca antibodinya.

“Karena rapid test ini kan mencari antibodi yang terbentuk dan prosedurnya memang sederhana sekali, tinggal ditusuk sedikit, diambil darahnya, lalu langsung dilihat antibodinya terdeteksi atau tidak. Durasinya mungkin sekitar 10 menit, paling lambat mungkin 15 menit,” kata Ahmad.

Dalam laporan The Guardian, Rabu (18/03/20), Dr Gaetan Burgio, dari John Curtin School of Medical Research, Universitas Nasional Australia, memaparkan perihal seberapa cepat hasil tes virus Corona keluar.

Ia menyebut tergantung pada teknologi, reagen yang tersedia, jumlah teknisi dan protokol untuk melakukan tes. Beberapa dilengkapi lebih baik daripada yang lain, karena itu ada perbedaan dalam pengiriman.

Menurut Dr Burgio, “kecepatan justru sangat penting” dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ia menyebut, para pasien, pada prinsipnya, terisolasi untuk menunggu hasil, tetapi [pasien] ini mungkin tidak patuh. Memberikan hasil dengan cepat memungkinkan kita untuk dengan cepat mendeteksi positif COVID-19 dan segera menindaklanjuti pasien dalam isolasi atau karantina.

“Deteksi cepat mengurangi jumlah pasien yang tidak perlu ditindaklanjuti. Dalam konteks pandemi dengan ribuan pasien untuk dites dalam satu hari, ini [rapid test] sangat penting,” ucapnya.

Proses rapid test dinilai bisa membantu petugas kesehatan di seluruh dunia. Meski begitu, para ahli juga memperingatkan tes ini kemungkinan akan kurang akurat daripada tes PCR berbasis laboratorium. Sebab, rapid test mencari antibodi, bukan virus itu sendiri.

Ahmad pun mempertanyakan tujuan dari rapid test. Kalau untuk mencari individu yang sedang terinfeksi aktif dan dia berpotensi menularkan ke yang lain, sebetulnya rapid test ini kurang membantu.

“Karena dia menguji yang di ujung, jadi ketika orang ini bahkan sudah mulai sembuh gitu ya, nah itu pasti positif,” ujarnya.

Kondisi itulah yang menurutnya justru membuat negatif palsunya tinggi dalam artian orang tersebut sedang mengalami infeksi, apalagi kalau dia ditesnya itu kurang dari dua minggu atau kurang dari seminggu misalnya.

“Itu kemungkinan besar akan negatif, tapi negatif palsu. Karena apa? Karena dia sudah terinfeksi oleh virus.”

  • Amankah jika hasil rapid test dikatakan negatif?

Sementara di sisi lain, Ahmad mengingatkan bahwa saat seseorang menjalani rapid test dan hasilnya dianggap negatif atau negatif palsu, lalu ia tidak mau dikarantina rumah, maka hal itu bisa berbahaya. Sehingga, ia pun menyoroti, kalau negara mau mengendalikan penyebaran COVID-19, maka tak cukup hanya menerapkan satu strategi saja.

Lantaran rapid test tak terlalu menjamin, Ahmad pun mengimbau bahwa yang perlu diperhatikan juga terkait karantina mandiri adalah jangan sampai orang yang dikarantina itu lari atau keluar. Makanya perlu diperhatikan ketika orang tersebut ternyata punya kebutuhan harian, misalnya kebutuhan makan, terlebih bagi yang bekerja dengan penghasilan harian.

Menurutnya, pemda, puskemas, kelurahan, hingga RT/RW dan tetangga setempat, harus serius ikut serta membantu dan saling support. Sebab, karantina itu bukan penjara, sehingga seseorang yang dikarantina mandiri itu harus dibantu dari sisi sosialnya. Kalau memang kooperatif dan mau untuk tinggal dua minggu di rumah, sudah semestinya dibantu. (Marlo KR)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.