Babi Mati karena Virus Demam Afrika
sergap.id, KUPANG – Sejak akhir Januari 2020 hingga sekarang, virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika terus menjalar di Pulau Timor bagian Barat (Provinsi NTT), mulai dari Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU, Kabupaten Kupang, hingga Kota Madya Kupang. Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dani Suhadi, menjelaskan, virus mematikan ini berasal dari negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, virus ASF mulai mewabah di RDTL pada bulan Agustus hingga September 2019. Virus ini awalnya dari Tiongokok menyebar ke Kamboja, Vietnam, Myanmar, Jepang, Filipina, RDTL hingga Indonesia. “Virus ini memiliki tingkat bahaya kematian 100 persen pada babi,” ujar Dani kepada wartawan per telepon yang difasilitasi oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, pada Rabu (26/2/20) sore. Kata Dani, sesuai data kematian babi yang ia miliki, jumlah babi yang mati di Kabupaten Belu sebanyak 574 ekor, TTU 440 ekor, Kabupaten Kupang 729 ekor dan Kota Kupang 221 ekor. Total 1.964 ekor. “(Kabupaten) TTS (Timor Tengah Selatan) belum ada data. Sedangkan (Kabupaten) Malaka ada babi yang mati, tapi datanya belum saya terima,” ucapnya. Menurut Dani, sejak tahun 2019 bersamaan dengan mewabahnya vius ASF di RDTL, pihaknya telah memperketat pintu masuk dari RDTL ke Timor Barat, baik terhadap daging babi olahan, maupun babi hidup. “Bahkan tanggal 3 Oktober 2019, Gubernur NTT mengeluarkan instruksi untuk mencegah barang masuk dari Timor Leste ke NTT,” katanya. Dani menjelaskan, virus ASF ini sangat mematikan bagi babi, namun tidak berbahaya untuk manusia. Penyebarannya pun hanya melalui kontak langsung seperti babi bertemu babi, melalui pakan, dan kutu babi. Sejauh ini belum ada obat atau vaksin yang dapat mengobati virus Demam Afrika. “Gejalanya dimulai dari babi tidak mau makan, suhu badannya tinggi, kejang-kejang. Jika sudah kejang-kejang maka babi pasti mati,” paparnya.
Penjelasan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dani Suhadi tentang virus Demam Afrika kepada wartawan per telepon yang difasilitasi oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, pada Rabu (26/2/20) sore.
Penjelasan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dani Suhadi tentang virus Demam Afrika kepada wartawan per telepon yang difasilitasi oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, pada Rabu (26/2/20) sore.
Agar virus ini tidak meluas, kata Dani, pihaknya telah memperketat penjagaan di pintu keluar dari RDTL ke Timor Barat, maupun dari Timor Barat ke pulau-pulau lain di NTT. “Babi dari Timor Barat dilarang keluar dari Timor Barat. Ini yang kami lakukan,” pungkasnya. (cis/cis)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.