
sergap.id, ENDE – Penggusuran rumah di Jalan Irian Jaya, Kelurahan Potulando, Kabupaten Ende, Senin (4/5/26) kemarin, diduga berawal dari klaim lama atas sebidang tanah yang kini disebut sebagai aset Pemerintah Kabupaten Ende. Namun keluarga korban mempertanyakan perubahan klaim tersebut, karena sebelum menjabat bupati, Yosef Benediktus Badeoda alias Tote Badeoda pernah menyatakan tanah itu milik ayahnya.
Pemilik rumah, Adriana Sadipun (72), mengaku Tote Badeoda pernah beberapa kali datang ke lokasi sebelum menjadi bupati sambil membawa meter ukur untuk mengukur tanah tersebut.
Namun rencana pengukuran itu batal setelah Adriana menunjukkan bukti hibah tanah dari SVD tertanggal 30 Juni 2016.
Bukti hibah tersebut ditandatangani Provinsial SVD Ende saat itu, Pater Leo Kleden, SVD, kakak dari Uskup Agung Ende saat ini, Mgr. Budi Kleden, SVD.
“Kami diminta menjaga tempat ini karena dulu sering terjadi pencurian di gudang ekspedisi milik misi,” kata Adriana kepada Sergap, Kamis (7/5/26) pagi.
Ia menjelaskan, kawasan itu awalnya merupakan lahan kosong milik SVD yang dijaga keluarganya sejak era 1970-an. Ayahnya, Rufinus Liwu Sadipun, diminta langsung oleh Prokurator Misi saat itu, Pater Yosef Boumans, untuk membangun rumah pondok di lokasi tersebut guna menutup akses keluar-masuk pencuri yang sering melewati pagar kawat.
“Pater bilang kepada bapak saya, ‘Om Rufinus tolong bikin rumah di situ supaya tempat itu dijaga,’” ungkapnya.
Sejak saat itu, keluarga Adriana tinggal turun-temurun di lokasi tersebut. Rumah sederhana yang awalnya dibangun untuk menjaga area misi kemudian berkembang menjadi tempat tinggal keluarga sekaligus lokasi usaha kecil-kecilan.
Menurut Adriana, hibah resmi baru diberikan pada tahun 2016 oleh Pater Leo Kleden, SVD.
“Pater Leo bilang, ‘Kamu buat saja kios itu. Sekalian saya kasih hibah ke kamu,’” katanya.
Ia menegaskan hibah tersebut dilengkapi dokumen resmi, lengkap dengan tanda tangan dan stempel.
“Ada arsipnya. Ada tanda tangan Pater Provinsial Leo Kleden,” ungkapnya.
Adriana juga mengaku, sebelum menjadi bupati, Tote Badeoda pernah datang langsung menemuinya bersama adiknya, Emil Sadipun.
“Saya bilang ke dia, ‘Sayang sekali ini, adik jangan marah ya, tanah ini saya peroleh tahun 2016. Ini hibah,’” tutur Adriana.
Namun setelah Tote menjabat sebagai Bupati Ende, menurut Adriana, klaim atas tanah itu berubah.
“Awalnya bilang tanah bapaknya. Setelah jadi bupati berubah jadi tanah Pemda,” katanya.
Menurut Adriana, Tote sebelumnya berdalih tanah tersebut merupakan milik ayahnya karena pernah digunakan sebagai kantor desa sementara. Namun ia membantah alasan tersebut.
“Memang dulu ada kantor desa sementara, tapi bukan di tanah yang digusur. Lokasinya di sebelah, di tempat keluarga Angelinus Meten,” ucapnya.
Ia menjelaskan kantor desa sementara itu dipakai karena kantor desa utama sedang direhabilitasi.
“Jadi dalil yang mereka pakai itu tidak masuk akal,” katanya.
Selain itu, Adriana juga membantah klaim Tote Badeoda bahwa tanah tersebut dibeli oleh ayahnya dari Leo Bango seharga Rp25 ribu.
Menurutnya, saat itu Leo Bango hanya pernah meminta izin menanam jagung dan sayur di lahan kosong tersebut, bukan sebagai pemilik tanah.
“Dia hanya izin tanam, bukan punya tanah,” tegasnya.
Adriana juga menyoroti sejumlah kejanggalan dalam proses klaim tanah oleh pemerintah daerah. Salah satunya terkait sertifikat tanah yang berbeda-beda di kawasan tersebut.
“Kalau memang tanah Pemda, harusnya satu sertifikat,” ujarnya.
Ia mengaku pihak keluarga sudah mengecek ke kantor pertanahan dan menemukan bahwa tanah tersebut tidak tercatat sebagaimana klaim pemerintah.
Bahkan, menurut dia, terdapat kesalahan dalam penyebutan batas lokasi tanah pada dokumen yang digunakan dalam proses penggusuran.
“Mereka tulis sebelah tanah yang digusur atas nama Angelinus Meten, padahal pajaknya atas nama Sukarman Leo Bango,” katanya.
Saat ini, Adriana mengaku pihak keluarga sedang menempuh jalur hukum bersama SVD untuk mempertahankan hak atas tanah tersebut.
“SVD sendiri bilang kami jangan keluar dan mempertanyakan dari mana sertifikat itu berasal,” ujarnya.
Sayangnya hingga berita ini diterbitkan, Tote Badeoda belum bisa ditemui Sergap. Dihubungi via WhatsApp, dia belum merespon. (sg/cs)
































