Marianus Sae ketika sedang membantu seorang ibu yang sedang memotong bambu, namun bambu tersebut jatuh menghalangi jalan.

TUREKISA – Setahun yang lalu, di sore hari, Bupati Kabupaten Ngada, Marianus Sae, mendatangi Ambros Molo, teman masa kecilnya, di Turekisa, Kecamatan Golewa Barat, Ngada.

Dari situ, kedunya diajak lagi oleh teman mereka melalui handphone untuk menuju ke kebun jagung, sebuah kebun di pedalaman Golewa Barat. Di sana sedang diadakan pesta makan jagung muda.

Keduanya pun berangkat menggunakan mobil kijang pick up milik Ambros dan dikemudi oleh Marianus.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang nenek yang sedang duduk dipinggir jalan. Saat itu hujan sedang rintik-rintik. Si nenek hanya menggunakan daun talas menutupi kepalanya. Disampingnya terdapat tujuh karung jagung yang mau dibawa pulang ke rumahnya di Rakalaba, sebuah kampung kecil di tengah Golewa Barat. Isi karung itu rata-rata di atas 100 kilo gram.

Karena terburu-buru, Marianus hanya mengerem sejenak untuk menyapa si nenek lalu kembali memacu laju kendaraannya. Kira-kira dua kilo meter dari tempat si nenek, Marianus dan Ambros mulai dihadang hujan lebat disertai angin dan kabut. Laju kendaraan pun diperlambat.

Persis tinggal beberapa ratus meter dari kebun yang dituju, mobil mulai jalan terseok-seok akibat licin berlumpur. Maklum, jalan yang mereka lalui belum di aspal.

Keduanya mulai kwatir untuk melanjutkan perjalanan. Karena itu Marianus menghentikan mobil. Keduanya lalu berdiskusi: lanjut atau pulang? Saran Ambros, sebaiknya pulang saja. Karena, jika dipaksa, maka mobil bisa menjadi korban. Marianus pun mengiyakan dan memutar balik arah mobil.

Sementara itu hujan terus turun. Hari pun mulai gelap. Sedangkan si nenek yang di kampungnya akrab disapa mama Mia itu belum juga beranjak. Melihat itu Marianus berhenti, kemudian bertaya pada si nenek, “Aiiii uge wi mala de (Aiii mama mau kemana)”. Si nenek pun menjawab, “Ooo ema ja’o diana pege pu jam 4 (sore) eeee, dhere go oto, dhomi oto bha’i dhu seli’e da lewat na. Wi muat go hae diana (Ooo bapa, saya ini sejak jam 4 tunggu mobil angkutan, tapi tidak ada satu mobil pun yang lewat. Saya mau muat jagung ini”.

Karena kasihan, spontan Marianus turun dari mobil, tak lupa ia mengajak Ambros. Keduanya lalu menawarkan bantuan dan mengangkat 7 karung jagung itu ke atas mobil. Setelah selesai, si nenek diajak duduk di depan, dan Marianus kembali tancap gas.

Di awal kepemimpinannya, Marianus mengunjungi salah satu desa di Ngada yang masih terisolasi. Kini kampung tersebut sudah gampang dijangkau karena akses jalan menuju ke desa itu telah dibuat baik.

Ketika tiba di depan rumah si nenek, jagung diturunkan di pinggir jalan. Marianus lalu bertanya pada si nenek, “Aiii uge, dia baru ne’e sei (Aiii mama, di rumah ada siapa)”. Si nenek menjawab, “Oooo ema dia baru ata bha’i. Dhomi ja’o me’a. Memang ana ja’o mori telu, dhomi satu kerja lau Riung, semori aioooo la’a wi de, semori wali jadi penjaga zele rujab Bupati (Oo bapa di rumah sini tidak ada orang. Cuma saya sendiri. Memang anak saya ada tiga orang, satu kerja di Riung, satunya lagi entah nongkrong kemana, dan satunya lagi jadi Pol PP di rumah jabatan bupati) ”. Mendengar itu Marianus hanya bergumam,”Hmmmmm”.

Karena merasa yakin si nenek tak bisa mengangkat sendiri 7 karung jagung ke dalam rumahnya, apalagi jarak dari jalan ke rumah masih sekitar 25 meter, Marianus pun kembali mengajak Ambros untuk turun dari mobil.

Dalam kondisi gelap gulita, karena saat itu listrik sedang padam, keduanya mulai mengangkut satu demi satu karung penuh jagung ke teras rumah si nenek.

Setelah selesai, Marianus dan Ambros pamitan. Tapi ketika mobil baru mau dipacu, tiba-tiba Marianus mendengar teriakan,”Ema dere, Ema dere (bapa tunggu, bapa tunggu”. Oh ternyata suara panggilan si nenek. Marianus pun berhenti. Setengah menoleh ke arah si nenek, Marianus bertanya,”de moede uge (Kenapa mama)”. “Oooo ema dhete ne go hae dia sekedhi na, takale untuk sero le ema (Ooo bapa bawa dengan ini jagung sedikit, cukup untuk kamu goreng saja),” kata si Nenek.

Namun dengan halus Marianus menolak,”Oooale uge, nea wole (aduh mama, tidak usah)”. Tapi si nenek terus memaksa agar Marianus membawa pulang jagung itu. Takut si nenek tersinggung karena tak menerima pemberiannya, Marianus akhirnya terima sembari mengucapkan terima kasih kepada si nenek.

Saat bersamaan muncul salah satu anak si nenek. Dia kemudian menghampiri mobil sambil bertanya kepada ibunya,”Aiii mama ne’e go apa kena (Aiii mama ada apa di situ)”. Si nenek kemudian menjelaskan,”Oooo doa kau dia na da bantu ja’o pu zele uma pu’u deroa” (Oooo teman kamu ini yang bantu saya dari kebun tadi)”.

Si anak kemudian berjalan ke arah sopir dengan maksud ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu ibunya. Tapi bukan main terkejutnya dia, ketika orang yang dilihatnya adalah Marianus. “Aduhhh ja’o magha sei leeee bapa, aduh terima kasih banyak pak bupati (Aduh saya kira siapa bapa, aduh terima kasih banyak pak bupati),” kata si anak.

Mendengar itu, si nenek pun ikut kaget. Ia baru sadar ternyata orang yang membantunya itu adalah bupati. “Ooo ema Marianus eee, Ooo kau dia, ja’o magha sei. Terima kasih banyak ema”.

Setelah bercakap-cakap sebentar, Marianus pun pamit. Namun setelah Marianus pergi, di kampung itu geger. Perbuatan baik Marianus malam itu menjadi topik pembicaraan warga. Keesokan harinya, informasi tentang Marianus membantu si nenek dan memikul jagung terus merebak kemana –mana. Tak terkecuali sampai ke telinga para lawan politik.

Keesokan harinya ada beberapa pengepul jagung datang bermaksud membeli jagung milik si nenek. Namun si nenek enggan menjual.

”Eee ja’o bha’I teka. Hae ja’o kena mahal. Kena bupati da su’u. Molo wi kena (Eee saya tidak jual. Jagung saya itu mahal. Itu bupati yang pikul. Biar disitu),” sergah si nenek dengan bangganya.

Alhasil hampir seminggu jagung itu dibiarkan saja di teras rumah. Setiap hari, ketika ada orang yang datang, si nenek bercerita kembali pengalamannya bersama Marianus.

Marianus Sae saat menerima kunjungan Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis, Oktober 2016 lalu.

Namun diluar sana lawan politik mulai mencibir, “iiihhh bupati tidak ada wibawa. Masa bupati bisa pikul jagung?”.

Lalu apa komentar Marianus? “Saya ini anak yatim piatu sejak kecil. Ayah saya meninggal ketika saya masih berumur empat tahun. Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil. Saya dibesarkan oleh orang. Sejak kecil saya hidup miskin. Hidup susah. Tapi disitu saya dibantu. Karena itu saya tidak bisa melepas kebiasaan saya hidup dengan orang kampung. Memangnya wibawa itu kalau dimakan kenyang? Ah,, ada-ada saja! Persetan dengan penilaian lawan politik. Bagi saya, yang penting saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya. (Chris Parera)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.