Yosman Seran

PERKEMBANGAN teknologi ditandai dengan perubahan pola pikir dan gaya hidup di kalangan masyarakat, khususnya di tengah kalangan kaum remaja. Arus deras informasi yang turut mengancam eksistensi kemanusiaan tersebut harus dikonsumsi sebagai kekuatan manusia (Human Power) terutama kaum milenialis untuk berpikir dan bertindak secara etis.

Ada ketegangan yang mulai nampak dalam kalangan kaum remaja. Kaum yang diberi label milenial itu menjadi agen perubahan sosial, politik, religi, dan budaya.

Emosional kaum milenialis dipancing agar dapat bertumbuh secara ‘liar’ demi mengkritisi setiap persoalan yang ada di tengah kehidupan masyarakat. Atau dengan bahasa yang lebih lugas, kaum milenialis menjadi garda untuk menentang segala ‘huru-hara’ kebijakan pemerintah yang (apabila) merugikan atau menyusahkan kehidupan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat reaksi politis-emosional kaum milenialis. Reaksi tersebut ditandai dengan aksi turun ke jalan atau demonstrasi yang notabene memperlihatkan keperihatinan terhadap nasib masyarakat.

Reaksi (re:kembali) artinya aktivitas untuk kembali aksi. Di tengah perhelatan politik zaman desrupsi, kaum milenialis dituntut turun ke jalan, bersuara dan memperjuangkan hak-hak rakyat.

Aksi tersebut merupakan representasi dari keterlibatan politis. Artinya, turut-serta memperjuangkan nasib masyarakat yang terbelenggu dengan feodalisme-kekuatan dinasti, ketamakan, Nepotis dan persoalan lainnya yang mengancam nasib hidup masyarakat.

Kaum milenialis tetap tanggap/peka  dengan situasi persoalan yang ada di tengah masyarakat dan tidak hanya ‘resta a casa’ (tinggal di rumah), dan bungkam.

Ada ancaman intelektual yang serius bagi kaum milineal – yang masih secara polos menanggapi isu yang panas. Di tengah informasi Covid-19 yang notabene membunuh manusia sejagat tersebut, kaum milenialis tetap mengambil sikap untuk menyimak secara serius isu lain (semisal kasus korupsi) yang juga mengancam bahkan, membunuh nasib anak/cucu masyarakat. Misalnya kejahatan (baca: kasus korupsi) akut yang akhir-akhir ini nampak kuat di Kabupaten Malaka.

Kasus korupsi di Kabupaten Malaka cukup menyita perhatian publik. Keterlibatan aktif turun ke jalan yang (pernah) dijalankan beberapa kali oleh sekelompok organisasi (Pospera, GMNI, dll) masih terlihat lumrah.

Namun mendapat ‘point plus’ bagi masyarakat dan para penegak hukum di negeri ini, untuk bertindak dan mengambil keputusan sesuai koridor hukum yang berlaku.

Sangatlah menyedihkan jika dibandingkan sebagian massal kaum milenialis yang duduk pasif dan hanya tampil sebagai penonton. Fenomena sejenis itu mempertontonkan daya berpikir dan bertindak yang minimalis; lemah, tidak berdaya dan belum punya ‘taring’.

Argumen yang dituangkan dalam tulisan ini tidak (harus) memaksa kaum milenialis untuk pro-aktif turun ke jalan, tetapi menjadi bahan refrensi untuk menyikapi persoalan atau kebijakan secara kritis-idealis terhadap sikap pemerintah yang mempersulit serta membebani nasib hidup masyarakat.

Artinya, dengan caranya masing-masing, kaum milenelis bekerja melawan kejahatan sistematis yang sedang dan/atau kapan dibangun penguasa atau pemerintahan setempat.

Kehadiran kaum melinealis turut berkontribusi penuh terhadap situasi tersulit yang berkembang di kalangan masyarakat. Itu satu prinsip, gagasan, yang dibangun dan harus direalisasikan.

Namun, kaum milenialis juga dihadapkan dengan persoalan kepentingan. Kita dapat melihat aksi turun ke jalan tahun kemarin (2019). Demostrasi pasca pilpres kemarin menimbulkan perdebatan serius. Ada sebagian mahasiswa yang murni bersuara, namun tak kalah juga sebagian mahasiswa yang ditunggangi kepentingan politis.

Situasi dilematis cukup kuat dihadapkan pada mahasiswa di zaman ‘klik’ smartphone. Sangatlah berbeda jauh apabila kita membuka lagi lembaran masa lalu, ketika terjadi kerusuhan pada bulan Mei 1998, mahasiswa bersuara meruntuhkan rezim ORBA (Orde Baru); merupakan seruan murni melawan kejahatan dan perbudakan oleh bangsa sendiri.

Saya melihat itu sebagai seruan moral mahasiswa demi pembebasan dari perbudakan zaman Orde Baru.

Untuk menyikapi persoalan di zaman milenial, dan menanggapi perkembangan teknologi-informasi yang deras mengalir hingga ke pelosok (kampung maupun pedesaan) terjadi juga degradasi moral.

Kenyataan itu mulai tercuat akibat lemahnya kepekaan mengolah infomasi. Penyalahgunaan ‘gadgat’ berimbas pada keburukan moralitas kaum milenialis. Zaman ‘gadgat’ menjadi sangat tajam terhadap ketahanan berpikir dan bertindak secara etis. Karena itu, cukup mengancam eksistensi kaum milenialis.

  • Menggugat Eksistensi Milenialis

Di tengah ancaman dunia yang diakibatkan oleh Corona Virus Disease (covid-19), eksistensi kaum milenialis ditantang dengan isu informasi yang disebarkan di tengah atau kalangan masyarakat awam.

Bahwasannya, kaum milenialis berani tampil kritis menyimak dan mengkonsumsi informasi publik yang marak beredar di tengah kehidupan sosial-budaya kemasyarakatan, dan membangun pola pikir yang sehat demi kepentingan hidup bersama.

Kehadiran teknologi-informasi membawa perubahan yang cukup signifikan di tengah masyarakat. Terlepas dari kurang cerdasnya kaum milenialis mengkonsumsi informasi melalui smartphone tersebut, namun ada juga tokoh yang menamai diri milenealis, dan berani tampil percaya diri menentang kerasnya sistem pemerintahan yang mengancam nasib hidup orang-orang kecil, yang terbuang, terpinggirkan.

Hal itu terbukti pada pasca pileg (pemilihan legislatif) tahun 2019 kemarin. Bahwa ada sebagian kaum milenialis yang sanggup meraih kursi wakil rakyat. Dari Senayan hingga daerah Kabupaten/kota.

Pilkada yang terjadi dalam tahun 2020 ini juga memberi ruang kepada beberapa kaum milenialis yang siap bertarung. Salah satu perwakilan kaum milenialis saya sebutkan saja namanya yakni Kim Taolin yang siap digandeng Simon Nahak, berpayung pada paket SAKTI.

Tekad dan keberanian maju dalam pilkada kali ini hendak membuktikan bahwa milenialis tidak hanya diam dan bungkam, tetapi berani turun ke jalan, turun ke masyarakat, dan melihat secara dekat serta terlibat aktif merasakan keluh-kesah yang dialami masyarakat.

Dengan demikian, aktivitas perkuliahan harus dipaham sebagai momentum formalitas ‘turun ke jalan’. Itu artinya, ide dan gagasan yang ‘dituankan’ dalam ruangan kuliah harus direalisasikan dalam praktik kehidupan nyata.

Dan, itu tidak hanya aksi (berdemonstrasi), tetapi menyikapi persoalan yang ada di tengah masyarakat secara kritis dan beretika. Bukan milenialis abal-abalan yang hanya mampu membangun konsep ngawur tanpa aksi. Salve!

  • Penulis: Yosman Seran, S.Fil, Alumnus STFK Ledalero, Reporter TVRI NTT.

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.