Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man saat memberi keterangan pers, Sabtu (02/05/20) malam.

sergap.id, KUPANG – Pemerintah Kota Kupang terus melakukan tracking contact atau melacak dengan siapa saja 7 pasien positif corona yang kini sedang diisolasi di RS Bhayangkara Kupang melakukan kontak.

Dalam jumpa pers di Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT pada Sabtu (2/5/20) malam, Wakil Wali Kota Kupang, Herman Man, yang didampingi Jubir Penanganan Covid-19 Kota Kupang, Ernest Ludji dan Jubir Penanganan Covid-19 Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius, menjelaskan, sebelum 7 orang yang datang dari Sukabumi itu diumumkan positif corona, Dinas Kesehatan Kota Kupang telah melakukan tracking contac dan berkoordinasi dengan Sekolah Polisi Negara (SPN) Kupang.

7 orang yang datang bersama 6 orang lainnya itu pun langsung diisolasi di SPN Kupang ketika tiba di Kupang.

13 orang itu datang dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) dan setelah di tes swab 7 diantaranya positif corona.

“Dari 13 orang itu, 7 positif dan 6 lainnya sampai hari ini hasil tes swabnya belum kita terima. 6 orang itu sampai hari ini masih diisolasi di SPN Kupang. Terhadap 13 orang, terutama 7 kasus positif ini, kami sudah melakukan kontak person dan dapatlah 17 orang. 17 orang ini, 15 orang di Kota Kupang, dan 2 dari luar Kota Kupang. 15 orang ini akan dilakukan swab untuk memastikan status mereka. Ini adalah klaster yang pertama,” beber Herman Man.

Lanjut Herman Man, klaster kedua adalah klaster Gowa. Nama-namanya sudah kita miliki. Mereka masuk Kota Kupang bersama 6 orang teman mereka, 2 diantaranya positif corona di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Dinas Kesehatan Kota Kupang pun telah melacak sejak mereka datang hingga tinggal dimana sekarang dan dengan siapa mereka melakukan kontak.

Yang berikut adalah klaster Magetan. Ini adalah anak-anak dari Kota Kupang yang pulang dari Magetan. Mereka ada 10 orang. Mereka sudah melakukan swab, tapi hasilnya belum ada.

Saat ini ODP kita itu tinggal 50an orang. Mulai kemarin 18 orang sudah diambil swabnya. Sisanya Senin (04/05/2020). Kita memastikan ODP yang terakhir ini semuanya diperiksa swab. Yang kita perlu waspada di kota ini 18 OTG. Ini yang berpotensi (positif).

Terkait rapid test, kita sudah melakukan terhadap 105 orang. Dari  105 orang itu 16 orang rapid test positif dan sudah dilakukan tes swab, namun hasilnya belum ada.

Secara keseluruhan, di Kota Kupang ada 73 sampel yang dites swab. Hasilnya 44 negatif, 8 positif (termasuk El Asamau yang kini sudah sembuh).

Sedangkan 29 sampel lainnya masih dalam proses laboratorium.

Herman man berharap, lab swab di RSUD WZ Yohanes Kupang dapat segera difungsikan. Sehingga hasil swab bisa lebih cepat diketahui dan segera diinformasikan kepada masyarakat.

“Kalau tanggal 5 atau 6 Mei ini, kita di NTT sudah bisa melakukan pemeriksaan laboratorium, maka menurut saya ini akan mempercepat, dan notifikasi hasilnya akan lebih cepat diinformasikan,” ucapnya.

Herman Man meminta masyarakat mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO dan pemerintah.

“Jangan buat klaster baru di kota ini. Cukup klaster yang dari luar. Jangan tiba-tiba nanti ada ada klaster Kupang. Kenapa klaster Kupang terjadi ? Karena kita tidak patuh. Warganya tidak disiplin. Sudah disuruh jangan berkumpul, jangan berkeliaran, tapi warga masih berkeliaran. Disuruh pakai masker, tapi masih banyak yang melanggar. Disuruh jangan berjualan, tapi masih banyak yang melanggar. Kita takut jangan sampai Kota Kupang menjadi klaster baru dan itu amat sangat menyulitkan dalam pelacakan,” tegasnya.

Herman Man pun meminta bantuan para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk membantu pemerintah meminimalisir penyebaran virus corona.

“Jangan sampai orang mencerca kita, karena menjadi sumber penularan. Kita bersyukur karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda transmisi lokal. Semua yang positif berasal dari luar NTT. Kekuatiran kita adalah ada warga Kota Kupang yang positif, tidak kemana-mana tapi dia positif. Ini yang kita takuti, ini yang disebut transmisi lokal,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Jelamu Ardu Marius, mengungkapkan, hasil riset para ahli menyebutkan eskalasi grafik penurunan virus corona secara global ada di negara Jerman, Korea Selatan, Australia dan New Zealand.

“Menurun karena warga masyarakatnya sangat patuh dan taat terhadap protokol-protokol kesehatan yang ditetapkan WHO,” tandasnya. (Valeri Guru/Cis)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.