Jeck, petani di Kampung Lego, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Jeck, petani di Kampung Lego, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

sergap.id, LEGO — Di tengah hamparan lahan yang sebagian dibiarkan mengering, seorang petani di Kampung Lego, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, memilih jalur berbeda. Bukan padi, melainkan hortikultura. Keputusan itu bukan tanpa alasan, air menjadi persoalan yang tak kunjung selesai.

Zakarias Kena, yang akrab disapa Jeck, menjadi salah satu potret petani yang beradaptasi di tengah keterbatasan. Kepada SERGAP, Selasa (5/5/2026), ia memaparkan capaian sekaligus tekanan yang dihadapinya.

“Panen tomat terakhir sekitar 1,6 ton. Harga waktu itu Rp18 ribu per kilogram, pembeli datang langsung kesini (lokasi),” ujarnya.

Angka tersebut bukan hasil sekali petik, melainkan akumulasi beberapa kali panen dalam satu periode tanam. Dalam rentang 2–3 bulan, produksi bahkan bisa menembus 7–8 ton, meski dari lahan yang relatif terbatas.

Tak berhenti di tomat, Jeck juga mengembangkan semangka dan cabai.

Untuk semangka, hasilnya mencolok, sekitar 9 ton hanya dari seperempat hektare lahan dalam sekali panen. Dengan harga Rp6 ribu per kilogram, pasar pun sudah terbentuk, bahkan pelanggan tetap mulai terbiasa mengambil langsung dari kebun.

Namun di balik angka produksi yang menjanjikan, persoalan mendasar tetap membayanginya, yakni air.

“Sudah tiga hari air belum penuh. Ini sangat pengaruh ke pengolahan lahan dan rencana tanam berikutnya,” kata Jeck.

Total lahan hortikultura yang ia kelola kini mencapai tiga perempat hectare, sebuah pergeseran dari fungsi awal sawah.

Kondisi ini bukan kasus tunggal. Di sekitar lokasi, banyak lahan yang dibiarkan kosong. Bukan karena tak mau digarap, melainkan karena ketiadaan air yang memadai. Dalam situasi seperti ini, pilihan beralih ke hortikultura menjadi langkah pragmatis, meski berisiko berbenturan dengan kebijakan.

Jeck mengaku pernah mendapat teguran dari dinas terkait aktivitasnya. Namun ia mempertanyakan logika pelarangan di tengah realitas lapangan.

“Kalau lahan tidak dimanfaatkan, justru rugi. Biaya kerja (sawah) bisa Rp15 juta, tapi hasil kadang hanya kembali Rp11 juta,” ungkapnya.

Di sisi lain, tekanan finansial juga tak kecil. Ia masih menanggung kredit sekitar Rp300 juta, dengan cicilan Rp7,68 juta per bulan. Meski demikian, ia memastikan pembayaran tetap lancar. Baginya, hortikultura masih menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga, termasuk untuk pendidikan anak-anaknya.

“Dari sini anak-anak bisa sekolah,” ucapnya.

Pada hari yang sama, Jeck juga menutup siklus panen tomat dengan sisa produksi sekitar 50 kilogram, langsung ditimbang dan siap dikirim ke pembeli.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Primus Nuwa
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Primus Nuwa.

Sementara itu, dari sisi pemerintah, aturan terkait pemanfaatan lahan irigasi ditegaskan tetap berlaku.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Primus Nuwa, menyebut bahwa kebijakan itu mengacu pada Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) serta penetapan Luas Baku Sawah (LBS).

“Luas baku sawah di Nagekeo sekitar 3.500 hektare. Lahan irigasi tidak boleh dialihfungsikan, baik fungsi maupun komoditasnya,” ujarnya.

Namun ia juga membuka ruang pengecualian. Untuk wilayah yang tidak terjangkau jaringan irigasi, terutama di dataran tinggi, petani diperbolehkan mengembangkan hortikultura atau tanaman buah.

Pemerintah, lanjutnya, telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari perbaikan saluran irigasi, biaya olah lahan, benih, pestisida, hingga alat dan mesin pertanian.

Pilihan Jeck mungkin dianggap pelanggaran dari kacamata aturan. Namun bagi dia yang berada di garis depan, itu adalah strateginya untuk bisa bertahan hidup. (sg/sg)