
sergap.id, KUPANG – Tak menunggu kepala definitif. SMKN 3 Kupang terus bergerak! Sebanyak 1.398 siswa dan 108 guru didorong dalam satu Gerakan, yakni perkuat disiplin, genjot prestasi, dan bawa nama sekolah menembus panggung kompetisi.
Sejak 5 Januari 2026, Altje L. Papote, S.Tp., M.Pd., dipercaya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 3 Kupang.
Di tengah statusnya sebagai Plt, Altje tetap menjalankan tugas sebagai guru bidang kuliner, khususnya pastry, kue dan roti.
“Sudah jalan dari 5 Januari sampai sekarang,” ujar Altje.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam memimpin sekolah dengan jumlah peserta didik mencapai sekitar 1.398 orang bukan hanya soal akademik, tetapi terutama disiplin.
Karena itu, sekolah mulai menerapkan penguatan kedisiplinan bagi guru maupun siswa. Jam masuk ditetapkan pukul 07.30 WITA dan kehadiran guru dipantau melalui sistem absensi yang tersedia.
“Setiap bulan kami rapat. Dari situ kami tahu guru siapa yang tidak masuk dan siswa siapa yang bermasalah. Supaya kami bisa cari tahu masalahnya dan ada perbaikan,” jelasnya.
Bagi Altje, persoalan siswa tidak boleh dibiarkan menumpuk hingga akhir semester. Setiap persoalan harus diketahui sejak awal sehingga sekolah dapat mencari solusi bersama.
Selain disiplin, ia juga menaruh perhatian pada etos kerja dan kebersihan lingkungan sekolah.
Penggunaan telepon seluler oleh siswa pun menjadi perhatian. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa diarahkan untuk tidak menggunakan HP secara bebas agar konsentrasi belajar tetap terjaga.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Altje menyebut SMKN 3 Kupang tetap mencatat sejumlah prestasi dalam beberapa bulan terakhir.
Siswa sekolah tersebut aktif mengikuti berbagai ajang, mulai dari seni, tari, drum band, bahasa Inggris hingga kompetisi keterampilan siswa.
Bahkan, sejumlah siswa berhasil meraih juara dalam kompetisi yang mereka ikuti. Salah satunya pada bidang bahasa Inggris, sementara bidang boga juga berhasil mengirimkan wakil ke tingkat nasional di Jakarta.
“Lumayan dalam enam bulan terakhir ini. Anak-anak kita banyak yang berprestasi,” katanya.
SMKN 3 Kupang sendiri memiliki sekitar 1.398 siswa yang tersebar pada lima kompetensi keahlian.
Tak hanya belajar di ruang kelas, lebih dari 400 siswa juga menjalani praktik kerja lapangan di berbagai dunia industri selama sekitar enam bulan.
Mereka ditempatkan di berbagai lokasi, termasuk Surabaya, Salatiga dan sejumlah tempat usaha di Kota Kupang, seperti hotel, restoran, kafe, salon hingga usaha jahit.
Program praktik yang diperpanjang menjadi sekitar enam bulan itu diharapkan semakin mendekatkan siswa dengan dunia kerja.
Guru pembimbing juga melakukan pemantauan secara berkala dengan mengunjungi siswa di tempat praktik.
“Guru-guru kami mengunjungi anak-anak yang dibimbing, setiap dua minggu sekali,” ujarnya.
-
Kepala Sekolah Harus Paham Dunia SMK
Altje juga menilai kepemimpinan di sekolah kejuruan membutuhkan pemahaman khusus.
Menurutnya, SMK memiliki karakter berbeda dengan sekolah umum karena pembelajaran tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik dan pengelolaan kompetensi keahlian.
SMKN 3 Kupang memiliki berbagai bidang keahlian, termasuk kuliner, perhotelan, kecantikan dan tata busana.
Sekolah bahkan memiliki fasilitas hotel dengan 16 kamar serta unit laundry sebagai bagian dari sarana pembelajaran praktik siswa.
Karena itu, menurut Altje, siapa pun yang nantinya dipercaya menjadi kepala sekolah harus memahami karakter sekolah dan kompetensi yang ada.
“Kalau kita diganti, kita mau diganti. Tapi cari orang yang benar-benar mampu,” tegasnya.
Ia berharap regenerasi kepemimpinan di sekolah dapat dilakukan dengan mempertimbangkan guru-guru yang telah memahami karakter dan kebutuhan sekolah.
“Kalau yang terbaik di sekolah, harus jadi kepala di sini,” katanya.
Terkait masa kepemimpinannya sebagai Plt, Altje menyerahkan sepenuhnya kepada kewenangan BKN dan regulasi yang berlaku.
Baginya, selama masih dipercaya menjalankan tugas, tidak ada alasan untuk berhenti bekerja.
“Kalau masih dipercayakan, saya kerja saja,” ujarnya.
Ia menegaskan, status Plt bukan alasan untuk mengurangi semangat membangun sekolah. Prinsipnya sederhana, yakni guru bekerja dengan baik, siswa belajar dengan baik dan sekolah terus berkembang.
“Sekolah semakin besar, semakin dikenal. Itu berkat Tuhan,” katanya.
Di tengah proses penataan kepemimpinan sekolah di NTT, Altje memilih tetap fokus menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Bagi dia, jabatan boleh sementara, tetapi tanggung jawab terhadap sekolah dan masa depan siswa tidak boleh ikut sementara. (neng/neng)






























